
Pagi harinya, Putri Masako kembali mendatangi ruangan khusus para gadis. Tak lupa beberapa pelayan yang mengekor sambil membawa makanan.
Kali ini para gadis langsung memakan masakan istana tanpa merasa curiga sedikitpun, kecuali si Kaguya yang sudah waspada dan menaruh curiga sejak awal.
"Kau tidak lapar?" Tanya Putri Masako saat melihat gadis bermarga Kaguya itu tak menyentuh sedikitpun makanannya.
"Apa kau mencurigaiku memasukkan sesuatu ke dalam makananmu?"
Ucapan yang salah, karena bukannya menurut si Kaguya justru semakin memicing curiga. Bahkan para gadis ikut melirik Putri Masako dengan was-was.
"Makanlah!" Desak Putri Masako mulai tidak sabar menghadapi gadis batu yang membuat moodnya bertambah buruk untuk hari ini.
Si Kaguya bergeming, ia justru menatap Putri Masako dengan tenang seolah menantang wanita sihir itu.
Brak!
"Aku memerintahkanmu untuk memakannya! Cepat Makan!" Perintah Putri Masako lantang, setelah menggebrak mejanya dan menatap nyalang gadis Kaguya itu.
"Tidak!" Tolak gadis itu tenang, "Aku tahu apa yang kau masukkan ke dalam makanan ini." Tambahnya kemudian, sambil membalik meja yang berisi penuh makanan itu hingga semuanya tercecer di lantai.
Kaguya mengitari meja dan berdiri tepat dihadapan Putri Masako, ikut melempar tatapan mautnya pada wanita Shimura-Sawamura itu.
"Obat kemandulan! Apa aku salah?!" Tantangnya, tak sedikitpun merasa takut pada wajah Putri Masako yang bak banteng yang siap menyeruduk kapan saja.
Putri Masako justru terkekeh, "Tidak! Itu memang sengaja kulakukan guna mencegah gadis manapun yang terpilih nanti tidak akan pernah hamil dan merusak keturunan Sawamura!" Jelas Putri Masako santai seolah membenarkan tindakannya.
Para gadis terkejut. Jadi, mereka baru saja ditipu. Pikirnya.
"Mereka mungkin gadis bodoh yang bisa dengan mudah kau curangi! Tapi tidak denganku!" Ucap Kaguya datar kemudian berjalan melewati Putri Masako begitu saja.
Semua gadis kembali dibuat terkejut sekaligus kesal karena baru saja dikatai bodoh. Dan kemudian memandang penuh kebencian pada punggung si Kaguya yang mereka anggap sok pintar itu.
Para gadis kemudian diperintah untuk segera menuju aula utama. Namun, saat ditengah perjalanan para gadis justru berpaspasan dengan rombongan para Pangeran (Pangeran Nishinoya, Pangeran Daichi, Pangeran Akira, Pangeran Rei, Pangeran Ren, Pangeran Riyu dan Pangeran Kouji).
Para gadis gembira dan mencoba mencari perhatian. Namun, para Pangeran itu justru mendengus jijik sebagai respon. Bahkan perhatian Pangeran Noya justru hanya tertuju pada si Kaguya yang telah berjalan cukup jauh.
.
.
.
"Aku lihat perwakilan dari Provinsimu berbeda dengan yang kau janjikan." Tuduh Dotto tanpa basa-basi.
"Maafkan saya, Perdana Menteri. Perwakilan sebelumnya mendadak jatuh sakit dan gadis itu adalah penggantinya." Jelas Tomoe tenang, bahkan diiringi senyuman.
"Aku harap dia berada di kubu yang benar." Timpal Dotto tak kalah santai.
Tomoe hanya membungkuk sedikit kemudian mempersilakan Dotto memasuki aula terlebih dahulu.
Tak lama kemudian seleksi tahap ketiga pun di mulai.
"Seleksi tahap ketiga kali ini mengambil tema 'Pengetahuan'. Tentu kalian tahu menjadi seorang Putri bukan hanya tentang kepandaian dalam memasak, atau kemahiran dalam bermusik saja. Tapi kecerdasan dan kesopanan juga harus dimiliki oleh seorang Putri. Untuk itu dalam seleksi kali ini akan dilakukan oleh seorang Sarjana Istana." Jelas Permaisuri Chikara panjang lebar. Lalu ia meminta Sarjana Istana untuk mengambil alih proses seleksi.
"Langsung saja! Kalian tentu tahu apa itu 9 Perjalanan Hidup Manusia. Tolong jelaskan setidaknya tiga isi dari buku tersebut!"
Ditempat duduknya Putri Masako tersenyum merekah saat mendengar pertanyaan maut itu yang diajukan dalam tema seleksi kali ini. Ia bertaruh bahwa tidak akan ada satu gadis pun yang dapat menjawabnya.
Dua hari sebelum hari H...
Putri Masako diam-diam membuat rencana licik dengan mempersulit tema untuk seleksi tahap terakhir dan memperkecil kemungkinan para gadis itu lolos.
Sebelumnya ia telah meminta para bawahannya untuk memerintahkan para ahli sarjana untuk menemuinya di perpustakaan istana.
Dan disinilah ia beserta tiga orang sarjana yang ditunjuk pribadi oleh Permaisuri Chikara untuk memberikan ujian itu.
"Aku ingin kalian mencari pertanyaan tersulit untuk seleksi tahap ketiga nanti!" Perintah Putri Masako pada tiga orang Sarjana Istana.
Ketiga sarjana itu hanya saling melirik, mereka agaknya tak setuju di awal. Namun, mengingat apa posisi Putri Masako di istana. Maka mereka pun akhirnya setuju.
"Baik, Putri!" Sahut ketiganya kompak.
Masako menyeringai senang. "Jangan khawatir, aku akan meminta paman untuk menganggap lunas separuh hutang-hutang kalian." janjinya manis.
Para sarjana itu merasa senang. "Terima kasih, Yang Mulia." puji mereka.
Putri Masako tanpa membalas pujian itu, segera melangkah keluar dari dalam perpustakaan Istana dan menyuruh Nagase untuk menjaga para Sarjana agar tidak keluar dari perpustakaan sampai seleksi tahap ketiga dimulai.
Bersambung...