
"LEPAS!" Teriak Aika untuk yang kesekian kalinya. Mendorong Pangeran Kenma dengan sisa tenaganya.
"Lancang sekali kau!" Tunjuk Aika tepat di ujung hidung Pangeran Kenma.
"Maaf! Aku.. hanya-"
"Aku mohon! Pergilah!" Cicit Aika miris, menundukkan kepala dalam untuk menyembunyikan airmata yang tak bisa lagi ia kendalikan.
"Jangan seperti ini, Aika!" Pinta Pangeran Kenma merasa bersalah, wanita yang masih dicintainya itu kembali terluka karenanya.
"Ka-kalau begitu pergilah!" Pinta Aika lagi, kali ini dia menatap Pangeran Kenma penuh permohonan.
"Aika!" Panggil Pangeran Kenma dengan tangan terangkat -siap menyentuh wajah Aika. Namun, Aika segera menepisnya dengan memalingkan wajah.
Pangeran Kenma menurunkan tangannya dengan ekspresi terluka. "Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku, Aika?" Tanya Pangeran Kenma putus asa.
Tiga tahun ia hidup dalam penyesalan karena telah membuat kekasihnya sakit hati sekaligus menderita, karena ia belum mendapatkan maaf dari mantan kekasihnya itu.
"Pergi dan jangan pernah tampakkan lagi wajahmu padaku!" Sahut Aika datar, tatapan terluka terpancar jelas di kedua safirnya.
Pangeran Kenma menggeleng, "Tidak! Bukan begitu caranya!" Pangeran Kenma mencoba bernegosiasi. "Maukah kau mengabulkan satu permintaanku?" Tanyanya.
Hening. Aika bergeming dan memalingkan wajahnya. "Aku berjanji setelah itu aku akan pergi sejauh yang kau mau." Janjinya saat Aika tak sedikitpun merespon.
Keheningan yang panjang. Tak ada satu suara pun yang terdengar, bahkan dari hewan di dalam hutan seolah ikut menjadi saksi apa yang akan terjadi nanti. Begitupun dari para pencuri dengar.
Hembusan nafas lelah terdengar, Pangeran Kenma mendongak dan mendapati Aika yang mengangguk menyetujui ucapannya. Seketika senyum merekah menghiasi wajah tampan Pangeran Mahkota Kusa itu.
"Apa maumu?" Ucap Aika serak.
Pangeran Kenma tersenyum sekilas, "Maukah kau memaafkanku?" Ucapnya mengajukan syarat.
"Baiklah, Aku memaafkanmu!" Ucap Aika tulus. Ia menghapus jejak airmatanya dan dengan magis tersenyum manis pada Pangeran Kenma.
Pangeran Kenma tersihir, ia tertulari senyum itu dan ikut tersenyum penuh rasa terimakasih. "Terimakasih, Aika. Kau memang gadis yang baik. Pangeran Sawamura itu sangat beruntung mendapatkanmu." Pujinya tulus.
Aika mengangguk singkat, senyumnya tak sedikitpun luntur. "Sesuai janjiku! Aku akan menghilang dari hadapanmu. Sampai jumpa!" Ucap Pangeran Kenma menepati janjinya, kemudian melambaikan tangan dan hendak berbalik pergi.
"Tunggu!" Tahan Aika saat Pangeran Kenma hendak melangkah. Pangeran Kenma menoleh -menunggu apa yang akan dikatakan Aika padanya.
Bukannya mendapat sebuah kata, tapi Pangeran Kenma semakin dikejutkan dengan tindakan frontal Aika yang memeluknya. "Tidak bisakah kita berteman?" Bisik Aika tepat di telinga Pangeran Kenma.
Pangeran Kenma terkejut, bibirnya mendadak kelu. Suaranya tersendat bebatuan di kerongkongannya. Otaknya mendadak macet tak berfungsi, hingga beberapa menit kemudian Pangeran Kenma baru mulai bereaksi.
"Bisakah?" Tanyanya tak percaya. Entah kenapa membayangkan Aika ingin kembali berhubungan dengannya adalah sesuatu yang tak pernah mampir dalam benaknya. Tapi, kini Aika kembali membuka diri untuknya, meski hanya sebagai teman tapi itu sudah cukup baginya.
Aika mengangguk di dalam pelukannya. Pangeran Kenma merasakan kelegaan dalam batinnya karena selain mendapat maaf ia juga kembali merajut hubungan pertemanan dengan wanita yang dulu pernah mengisi kehidupannya.
Dengan ragu Pangeran Kenma kembali mengangkat kedua tangannya untuk memeluk Aika, bukan sebagai seorang kekasih tapi terlahir kembali sebagai seorang teman. Dan Aika tak lagi menolaknya kali ini.
"Terimakasih, Aika!" Ucap Pangeran Kenma tulus, ia yang pertama kali memutuskan pelukan keduanya. Aika mengangguk.
"Pangeran Kenma!" Panggil Aika, "Bisakah kita tetap bersikap formal? Aku tak mau membuat suamiku merasa tidak nyaman. Aku ingin menjaga perasaannya. Bisa-"
"Aku mengerti, Putri Aika. Aku akan menyesuaikan diriku. Kau tidak perlu khawatir." Potong Pangeran Kenma mengerti akan kecemasan Aika.
Aika mengangguk setuju, "Oh, ya Putri Sawamura! Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu." Ucap Pangeran Kenma sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Aika.
"Ada apa, Pangeran?" Sahut Aika dengan senyum geli. Merasa aneh dengan panggilan baru dari mantan kekasihnya itu.
Pangeran Kenma mengikis jarak di antara keduanya. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Aika dan membisikkan sesuatu. Setelahnya Pangeran Kenma berpamitan dan meninggalkannya seorang diri di tepian sungai.