The Great Princess

The Great Princess
Perwakilan Palsu



Ruang aula pertemuan istana kini telah sesak dipenuhi oleh para Menteri Istana, Bangsawan, dan para Kepala Desa. Mereka sedang berkumpul untuk acara laporan rutin bulanan tentang keadaan internal maupun eksternal kerajaan Sawamura.


"Perhatian~! Kaisar Hideki, Pangeran Daichi, dan Pangeran Mahkota Noya memasuki ruangan~!" seorang penjaga pintu aula pertemuan memberi interupsi, membuat seluruh penghuni ruangan itu berdiri menyambut kedatangan sang Kaisar beserta dua pangeran besar Sawamura.


Ketiga singa besar itu berjalan gagah menuju singgasana yang berada tepat di ujung ruangan (lurus dengan pintu) menghadap para bawahan mereka yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Sesi laporan akan dilakukan setelah salam pagi dilakukan terlebih dahulu.


Laporan pertama datang dari para Bangsawan yang mengadu tak sedikitpun mendapat kesulitan saat berdagang ataupun menjalin kerjasama antar daerah, provinsi, maupun Negara lain berkat kemudahan perizinan dari sang Kaisar. Ada juga yang mengeluh tentang segala ***** bengek kegiatan mereka yang menuai kritikan rakyat.


Meninggalkan segala keluh kesah dan pujian yang dilakukan para Bangsawan, kita beralih kearah tempat duduk para Kepala Desa. Disana terlihat sesosok blonde yang ikut dalam acara rapat hari itu. Dia datang bersama Kepala Desa Bunyi, Tsukishima. Untuk menjadi perwakilan dari desanya.


Aika duduk dengan khidmat ditempatnya, meski begitu jiwanya sedang tak ada ditubuhnya saat itu, ia terus saja menatap kosong sepanjang rapat berlangsung. Bahkan ia tidak menyadari sepasang mata Onyx yang memperhatikannya sejak tadi.


Memperhatikan wajahnya yang sembab, kantung mata yang menghitam serta penampilan yang sedikit berantakan. Bahkan jejak air mata yang telah menghilang pun tak luput dari pengamatan Noya. Ada apa denganmu, Aika? batin Noya bertanya-tanya.


Tak terasa giliran tiap Kepala Desa untuk memberi laporan telah dimulai. Aika bahkan baru menyadarinya saat seseorang memanggil perwakilan dari Desa Arang dengan lantang. Sudah berapa lama aku melamun, pikirnya. Pasalnya sudah hampir seluruh desa telah melapor dan hanya tinggal 2 desa lagi setelah desanya.


Aika ingin berdiri hendak menyampaikan laporan, saat di waktu yang sama terdengar pintu aula dibuka (oleh seseorang dari luar dengan sedikit kasar) menghentikan gerakannya. Secara refleks ia pun kembali duduk (menunggu orang tersebut melangkah masuk) sebelum ia kembali menyampaikan laporannya.


Nampak seorang pria paruh baya yang tergesa memasuki aula pertemuan. Maklum rapat hampir saja selesai dan pria tua itu baru datang. Ia membungkuk hormat sebagai permintaan maafnya.


"Maaf, Yang Mulia hamba terlambat." ucap pria tua itu dengan tubuh yang masih setia membungkuk.


Sang Kaisar memberi isyarat tangan untuk menyuruh pria itu berdiri tegak.


"Tidak biasanya kau datang terlambat, Menteri Shimura." kalimat datar terdengar dari bibir sang Kaisar, terdapat sedikit nada menyindir didalamnya.


"Hamba sedikit tidak enak badan, Yang Mulia." ucap Dotto beralasan.


"Hn, kau tidak boleh melalaikan tanggung jawabmu. Aku tahu diusiamu yang tak lagi muda kau pasti sangat kelelahan bekerja setiap hari, siang dan malam-" ucap sang Kaisar perhatian, tapi sesungguhnya ia sedang menyindir kinerja Dotto yang mulai menurun kwalitasnya.


"-Mungkin sudah saatnya kau turun dari jabatanmu." tambah sang Kaisar santai memberi saran.


"Mana mungkin hamba meninggalkan posisi hamba, Yang Mulia. Penerus hamba masih belum siap menggantikan hamba." jawab Dotto tenang, tidak merasa terintimidasi oleh tatapan tajam sang Kaisar.


"Penerus? Kenapa kau mengkhawatirkan hal itu. Kita bisa mencari orang luar untuk menggantikanmu." usul sang Kaisar.


Dotto mengeraskan rahangnya, Apa si brengsek ini berniat menyingkirkanku? murkanya dalam hati.


"Akan hamba pertimbangkan, Yang Mulia." ucap Dotto, kemudian bergegas menduduki tempatnya.


Sesi laporan kembali dibuka, Aika hendak berdiri namun dihentikan oleh Tsuki.


"Duduklah!" perintahnya, Aika yang bingung tidak menanyakan apapun dan memilih menurut.


"Perwakilan Desa Arang harap memberi laporan!" perintah seorang moderator lantang.


Aika tetap diam ditempatnya. Matanya menyapu keseluruhan ruangan. Hingga tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan onyx yang sejak tadi memperhatikannya. Lama keduanya saling berpandangan, sampai Aika mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.


Aika ingin bertanya pada Tsuki kenapa ia tak diijinkan berdiri dan menyampaikan laporannya. Namun, niatnya segera ia urungkan saat mendengar...


"Hamba perwakilan dari Desa Arang, Yang Mulia." ucap seorang wanita.


Aika melotot, Siapa dia? tanyanya dalam hati.


"Tsuchi Ran, wanita suruhan yang memberi laporan palsu tentang desamu." celetuk Tsuki seolah mengerti isi pikiran Aika.


Aika menoleh, matanya menyipit kearah Tsuki. "Apa anda bilang?" tanyanya.


"Menteri Shimura itu yang menyuruhnya berbohong." tunjuk Tsuki pada Dotto.


"Jadi, pria tua bau tanah itu adalah Menteri Korup?" tanya Aika dingin, matanya memicing ke arah Dotto.


"Bukan hanya desamu saja yang dikorupsinya, tapi hampir seluruh daerah di kerajaan Sawamura menjadi ladang ketamakannya." jawab Tsuki santai, seolah sudah hapal betul tindak tanduk si tua bangka Dotto.


"Anda tahu dan anda diam saja?" tanya Aika lagi, ekor matanya melirik Tsuki.


"Menurutmu apa yang bisa dilakukan rakyat biasa sepertiku? Nyawa rakyatku lebih berharga dari harta manapun." jawab Tsuki mantap sambil memandang Aika yang juga memandangnya setelah mendengar jawaban itu.


"Ya, anda benar. Nyawa mereka terlalu berharga demi apapun." ulang Aika, ia tersenyum manis pada Tsuki.


"Tapi, tetap saja harus ada yang melaporkan tindakannya." tambahnya, kembali menatap lurus Dotto dengan tajam dan dingin.


"Kau pikir tidak ada yang berani melaporkannya? Kami sudah melakukannya dan kami selalu kalah." jelas Tsuki sambil menerawang.


Aika menaikkan sebelah alisnya, meminta penjelasan dari ucapan Tsuki barusan.


Tsuki tersenyum, "Bukankah sudah jelas? Ia mendapat kepercayaan penuh dari Kaisar sebelumnya."


Aika terdiam, bingung ingin menanggapi apa. Ia jelas tidak suka dengan ketidakadilan, dan juga ini sudah keterlaluan. Bagaimana bisa di kerajaan sebesar Sawamura para koruptor dibiarkan hidup nyaman dan mewah sedang rakyat kelaparan diluar sana.


"Cih, sial! Apa yang bisa aku lakukan?!" umpat Aika kecil yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri.


"Hanya itu laporan dari hamba, Yang Mulia." Sebuah suara menyadarkan Aika dari dunianya. Membuatnya kembali memperhatikan jalannya acara.


"Tunggu! Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." suara Pangeran Daichi bergema di ruang aula pertemuan.


Ran mengangguk pelan sebagai persetujuan.


"Siapa kau? Dan apa posisimu di desa itu?"


Dotto terhenyak, ia tidak memperkirakan hal ini sebelumnya, pasalnya ini sudah kesekian kalinya Ran menyamar sebagai perwakilan Desa Arang. Dan biasanya ia lolos tanpa ada hambatan. Tapi, kenapa tiba-tiba pangeran itu mempertanyakan identitasnya padahal sebelumnya tidak ada masalah.


"Hamba adalah orang kepercayaan Kepala Desa, Yang Mulia." jawab Ran percaya diri.


Hening. Daichi tentu tahu bahwa wanita itu berbohong, namun ia bersikap seolah menerima alasan itu begitu saja. Maka ia mengangguk saja sebagai tanda mengerti. Membuat Dotto menghela nafas lega. Dan tak berselang lama rapat pun berakhir.


.


.


.


Aika berjalan di lorong kerajaan Sawamura seorang diri. Ia masih memikirkan tentang perkataan Tsuki sebelum mereka benar-benar keluar dari aula pertemuan.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Aika berjalan di lorong kerajaan Sawamura seorang diri. Ia masih memikirkan tentang perkataan Tsuki sebelum mereka benar-benar keluar dari aula pertemuan.


"*Ada yang bisa kau lakukan!" seru Tsuki tiba-tiba, menghentikan langkah Aika untuk pergi dari aula.


"Apa maksud, Tuan?" tanyanya tidak mengerti.


"Kau bertanya apa yang bisa kau lakukan, kan?"


Aika terdiam sejenak, ternyata Tsuki mendengar bisikannya tadi. Mengerti dengan arah pembicaraan, Aika kembali duduk dan meminta Tsuki melanjutkan ucapannya.


"Ada satu cara-" jeda sejenak, Tsuki melirik kearah Aika yang sedang memasang wajah serius, kemudian menyeringai misterius. "-kau harus*..."


Brugh!


"Eh!"


"Idiot..?"


"Uh! Pa..pangeran?!" ucap Aika gelagapan, pasalnya ia baru saja ketahuan berjalan melamun sampai menubruk dada bidang seorang Pangeran.


Tunggu! Apa tadi dia bilang? Dada? Entah kenapa kata itu membuat pipi Aika memanas dan semburat merah muncul dengan kurang ajarnya.


Noya yang melihat perubahan wajah Aika mengernyitkan dahi. Ada apa dengannya? pikirnya bertanya-tanya.


"Jangan berjalan sambil melamun, Bodoh!" tegurnya dengan wajah dan suara datar.


Aika yang sedang berblushing ria tersadar dan langsung melotot galak karena panggilan 'sayang' yang Noya berikan untuknya. Berani-beraninya si mesum ini..! gerutunya dalam hati.


"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus, persetan dengan tata krama dan kesopanannya yang menguap entah kemana.


Noya tersenyum tipis mendengar ucapan ketus Aika. Ia sama sekali tidak marah atau merasa tersinggung jika itu menyangkut si bodoh favoritnya ini. Padahal jika itu orang lain maka ucapkan selamat tinggal pada hari esok.


"Kau tahu, kau sangat manis dengan sikap bar-barmu itu." sindir Noya sambil menyeringai.


"Sial, tutup mulutmu! Pergi sana!"


"Hn? Di mana sopan santunmu, Bodoh? Dan beraninya kau mengusirku dari istanaku?!" cemooh Noya menyilangkan tangan.


"A..aku..ti..tidak... ..Maaf!" Aika gelagapan. Benar juga siapa dia hingga berani bicara sekasar tadi pada pangeran setampan Noya, dan apa-apaan tadi ia mengusir pangeran Sawamura ini. Bodoh! gerutunya dalam hati.


Noya kembali melebarkan seringainya, menarik pikirnya senang. Inilah yang ia tunggu-tunggu sepanjang 17 tahun usianya. Seseorang yang bisa membuat hidupnya sedikit berwarna. Dan itu hanya Si Bodoh-nya yang bisa melakukannya.


"Bagaimana mungkin aku memaafkanmu begitu saja? Kau baru saja menginjak-injak harga diriku, sayang!"


Aika terkesiap, mati aku batinnya malang. Wajahnya sudah berubah bak anjing minta di pungut. Tapi, jangan panggil ia Noya jika tidak bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Noya mendekatkan tubuhnya ke arah Aika yang hanya sedagunya itu. Ia menunduk sedikit lalu berbisik di telinga kanannya.


Aika membelalakkan matanya. Tanpa ba-bi-bu ia mendorong dada Noya dengan sekuat tenaga.


"Brengsek! Menyingkir dariku kau Sawamura-mesum!" raung Aika murka sambil menghentakkan kakinya pergi dari hadapan Noya yang tertawa lepas setelah sekian lama.


"Aku tidak akan melepaskanmu, bodohku!" janji Noya setelah berhasil mengendalikan tawanya. Lalu berjalan dengan dagu terangkat tinggi dan kembali memasang wajah datar andalannya.


.


.


.


Aika terus menggurutu di sepanjang lorong istana. Ia bahkan mengabaikan tatapan orang-orang yang memandangnya dengan berbagai tatapan. Ia bahkan tidak menyadari kalau ia kembali tersesat dalam perjalanannya. Tipe bodoh sekali, bukan?!


Aika berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya, hingga ia telah sampai di daerah di mana para ksatria sedang berlatih atau sedang melakukan berbagai aktifitas lainnya. Ia bahkan tidak menyadari jika ia kembali menabrak seseorang, lebih tepatnya punggung seseorang.


Brugh!


"Akh!" pekik Aika, ketika pantatnya dengan indah mencium lantai kayu.


Si pemilik punggung berbalik, mata hitamnya memandang datar Aika yang jatuh terduduk sambil meringis kecil.


"Sedang apa kau disini?" tanyanya datar, menghentikan ringisan dan segala gerutuan Aika.


Aika mendongak, merasa tidak asing dengan suara baritone itu. Ia menatap orang yang ditabraknya dengan wajah sedikit muram.


"Ano, Ma..maafkan a..ku, Tuan Ryuichi." sesalnya kemudian bangkit berdiri dan membungkuk meminta maaf.


Ryuichi tidak menjawab, ia hanya menatap Aika dalam diam. Lama keduanya terdiam, hingga Ryuichi kembali membuka mulut.


"Apa kau datang untuk menerima tawaranku waktu itu?"


"Hah? Apa?" tanya Aika bingung, wajahnya nampak bodoh dengan telengan kepala.


"Aku anggap itu jawaban 'Iya'." putus Ryuichi seenaknya. Lalu melenggang pergi tanpa menoleh lagi kebelakang.


Namun sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Aika, ia kembali menambahkan, "Temui aku di sini besok! Di waktu yang sama."


Aika semakin melongo bodoh mendengar perintah itu. Lama ia terdiam mencerna ucapan si Jendral Besar, namun kerena tak kunjung mengerti menghela nafas pasrah akhirnya ia memutuskan untuk segera pulang.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Persembunyian Desa Bunyi


Noya mendekatkan tubuhnya kearah Aika yang hanya sedagunya itu. Ia menunduk sedikit lalu berbisik di telinga kanannya.


"Menikahlah denganku, Bodoh!"


Aika membelalakkan matanya. Tanpa ba-bi-bu ia mendorong dada Noya dengan sekuat tenaga.


"Brengsek! Menyingkir dariku kau Sawamura-mesum!" raung Aika murka sambil menghentakkan kakinya pergi dari hadapan Noya.


Aika menggeleng cepat saat ingatan beberapa waktu yang lalu mampir dengan kurang ajarnya kedalam otak sucinya. Demi apapun ia tidak rela memikirkan pangeran tampan itu di waktu senggangnya.


Ia terus mengumpat dalam hati saat mengingat wajah tampan itu saat tertawa. Aika bak melihat malaikat penggoda yang sedang menguji imannya. Membuat ia tanpa sadar merona hebat jika mengingat lamaran dadakan dan tawa penggoda iman itu.


"Oh, sial. Ada apa denganku?!"


"Gah! Kenapa aku selalu memikirkannya?!"


"Astaga! Dia tampan sekali!"


"Ugh, Kami-sama tolong ambil otakku, agar aku berhenti memikirkannya."


Terdengar berbagai gerutuan dari bibir cherry itu. Membuat anak-anak disekitarnya menelengkan kepala bingung.


"Kak Aika, ada apa?" tanya Sora, salah seorang anak didik Aika. Tangannya menarik ujung hakama navy Aika.


Tak ada respon, Aika masih saja menggerutu tidak jelas dibalik lipatan tangannya yang menumpu diatas meja.


"Biar aku saja!" sela Fuu, berniat melompat kearah Aika dengan girang.


Sora mengangguk dan membiarkan bocah cilik usil itu yang menyadarkan Aika kembali ke dunia manusia.


"KAK AIKAAAAA~!!" panggilnya kencang sambil menendang meja. Membuat Aika hampir saja terjengkang idiot dari kursinya karena terantuk meja.


"Hei, bocah! Berisik tahu!" omel Aika sambil mengelus jidatnya yang menjadi korban cium paksa si meja.


Si pelaku malah menjulurkan lindah, dan melenggang pergi bak malaikat tak berdosa.


"Huh! Dasar bocah siluman!"


"Kak Aika, kenapa?" tanya Sora lagi setelah mendapat perhatian dari Aika.


"Huh, memangnya ada apa Sora-chan?" ucapnya kelewat manis membuat senyumnya lebih menyerupai senyuman sadako.


Sora bergindik melihat senyuman itu, dengan langkah pelan Sora mundur teratur dan menggeleng kecil.


"Tidak apa-apa, Kak Aika cantik." ucapnya dengan senyum yang dipaksakan, lalu berlari cepat masuk ke dalam kamarnya.


Aika terbelalak dengan kedua pipi merona, "Ca..ca..can..tik?! Hei, tu..tung..gu Sora!" Aika hendak berdiri untuk mengejar Sora, namun diurungkannya saat seseorang menarik hakama-nya.


"Sudahlah, Aika-chin sini main sama Yome dan Mina." seru si pelaku penarik hakama sambil menarik Mina yang menatap Aika dengan mata crimson bulatnya.


"Hah~ baiklah." helaan nafas lelah terdengar. Aika memutuskan kembali duduk dan mengajari murid-muridnya lagi.


"Aika-chin? Apa kau sedang jatuh cinta?" pertanyaan polos meluncur mulus dari bibir kecil Yome.


Lagi-lagi Aika melongo dengan rahang hambir jatuh ke tanah. Bagaimana bisa bocah sebesar singkong ini bicara soal cinta. Astaga! demi langit yang akan runtuh, Aika akan membunuh siapapun yang berani meracuni pikiran suci bocah ingusan ini.


"Kau terus saja merona dan menyebut-nyebut pangeran tampan. Apa itu berarti kau sedang jatuh cinta?" celetuk Yome lagi, mata dan tangannya masih setia menggambar sesuatu dibukunya.


Aika semakin dibuat melongo oleh bocah ingusan ini. Apa dia baru saja diinterogasi? batinnya tak habis pikir.


"Apa dia tampan? Apa dia hebat sepertimu? Apa dia kaya? Di mana tempat tinggalnya? Siapa namanya? Bagaimana kau bisa ber... bla..bla..bla.." cerocos gadis itu panjang lebar. Mengabaikan wajah Aika yang mulai merah padam dengan asap imajiner keluar dari ubun-ubun, telingan, dan hidungnya.


"Aika-kun?! Kau baik-baik saja?" tanya Mina dengan suara selembut sutranya. Khawatir melihat wajah Aika yang terlihat mirip banteng yang siap sedia menerjang matadornya.


"Un? Ya, sebaiknya aku masuk dan istirahat Mina. Sampai jumpa!" ucap Aika sambil berlalu setelah berhasil mengendalikan emosinya, wajahnya terlihat masih sama seperti sebelumnya atau malah lebih buruk


To be Continue...