The Great Princess

The Great Princess
Duel



Suasana tenang masih menyelimuti keadaan arena duel kala itu. Semua orang memang tidak berseru lantang, berteriak atau membuat gaduh. Mereka hanya mengobrol ringan untuk mengisi kekosongan.


Saat ini Jendral Besar Sawamura baru saja selesai memperkenalkan ketiga ksatria mereka. Dan saatnya memperkenalkan satu-satunya peserta yang mewakili rakyat untuk di perkenalkan.


"Perkenalkan dirimu!" perintah sang Jendral Besar Sawamura terdengar berat dan dingin.


"Aika. Itu nama saya." jelas Aika singkat.


Sang Jendral Besar menaikkan sebelah alisnya. Tanpa marga? tanyanya dalam hati.


"Apa tujuanmu mengikuti duel ini?" tanya sang Jendral lagi.


"Tidak ada alasan khusus. Saya hanya ingin berpartisipasi." jawabnya tenang.


Merasa cukup, sang Jendral berhenti bertanya. Ia memberi isyarat pada bawahannya untuk memberi laporan kepada Kaisar Sawamura dan seluruh tamunya.


Mengerti dengan isyarat sang Jendral, bawahannya itu segera memberi laporan.


"Lapor Yang Mulia! Pemuda ini adalah pemenang dari duel antar rakyat. Ia berhasil mengalahkan 4 orang dari 16 perwakilan rakyat dalam 4x pertandingan." jelas si prajurit panjang lebar.


Semua orang terkejut. Pemuda bertubuh mungil itu mengalahkan 4 orang. Mustahil! pikir semua orang. Bahkan sang Jendral Besar mulai mengamati pemuda didepannya dengan jeli. Mencari sedikit saja keganjilan dari pemuda itu. Namun, nihil tak ada yang bisa ia jadikan sanggahan bahwa pemuda itu lemah. Fisik mungil bukan berarti tidak kuat. Namun, melihat wajah manis itu sang Jendral Besar sempat meragu, benarkah pemuda ini bisa bertarung.


Suasana hening berganti menjadi suara bisik-bisik. Seluruh penghuni tribune mulai membicarakan tentang pemuda itu. Bukan tentang keburukannya, melainkan kekaguman dan rasa ketidakpercayaan atas apa yang dilakukan pemuda mungil itu.


Saat suasana mulai tak terkendali sang Kaisar mulai mengambil perannya. "Baiklah, kita mulai saja!" perintahnya, yang langsung di jawab anggukan oleh sang Jendral Besar yang bertugas menjadi juri kali ini.


Pertandingan pertama dimulai. Tak disangka jawara rakyat (Aika) mengawali sesi perempat final melawan ksatria Sawamura berambut putih. Hal ini semakin menambah antusias penonton yang sangat ingin melihat performa dari Aika sebagai perwakilan rakyat.


Pertandingan awal berlangsung cukup sengit tak disangka kemampuan pedang Aika memang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan lawannya dibuat tak berkutik dan hanya bisa bertahan semenjak duel dimulai. Semua orang dibuat terperangah dengan kecepatan dan keakuratan Aika dalam mengayunkan pedang.


Noya, Daichi, dan kelima pangeran yang melihat itu, ikut merasa takjub dengan cara berpedang Aika yang lebih tepat disebut menari daripada bertarung. Akira bahkan menelan ludah berkali-kali sambil berdoa agar pemuda bernama Aika itu kalah dan dia tidak harus menerima perintah dari lima pangeran busuk yang mencoba menyiksanya.


Tak hanya pangeran, bahkan ketiga Kaisar besar itu juga menampilkan wajah penuh ketertarikan. Merasa takjub karena seorang rakyat biasa dapat mengayunkan pedangnya selincah dan seluwes itu. Selama pertarungan itu berlangsung tak ada satu suara pun terdengar.


Hingga kemenangan mutlak Aika, membuat suara riuh, gaduh, dan meriah memenuhi area pertandingan. Semua orang mengelu-elukan namanya. Membuat senyum lima jari Aika merekah tak terkendali.


Pertandingan kedua juga cukup sengit, pasalnya satu-satunya ksatria Ishikawa hampir dikalahkan oleh si Kalajengking Merah (Shouta) yang memiliki teknik ayunan pedang lembut namun mematikan itu.


Pemuda blonde yang menjadi lawan Shouta bahkan telah memiliki banyak luka sayatan besar maupun kecil, namun Shouta tetap tak bergeming. Seolah apa yang ada dihadapannya itu adalah daging panggang yang harus segera dipotongnya. Dan pertandingan kedua di menangkan oleh Shouta berkat si blonde yang mengaku kalah.


Babak final di jeda selama 30 menit untuk istirahat. Terlihat di mimbar khusus, empat orang yang tadi berduel sengit kini nampak duduk bersama.


"Tuan, apa kau baik-baik saja?" tanya Aika pada lawannya tadi.


"Eh? Ya, aku hanya sedikit kelelahan." balas pria itu terkejut karena tiba-tiba diajak bicara oleh pemuda manis yang tadi mengalahkannya. Pipinya bahkan tanpa sadar memerah.


"Syukurlah, maaf aku sedikit berlebihan tadi." ucap Aika lagi dengan wajah penuh rasa bersalah. Menyatukan kedua tangannya.


"Y..ya tidak masalah." gagap ksatria itu salah tingkah melihat wajah manis Aika.


Mendengar hal itu sontak membuat Aika tersenyum manis dan menghembuskan nafas lega. Setidaknya ia tidak sedang menambah daftar musuhnya.


"Kau!" seru Shouta pada Aika.


"Ya?" Aika menoleh dan pandangannya pun beradu dengan Shouta.


"Dari mana kau belajar cara berpedang?" tanya Shouta dengan nada sedikit penasaran namun wajahnya tetap datar dan terlihat malas.


"Eh?!" seru Aika bingung, namun semenit kemudian ia menambahkan, "Aku belajar sendiri." Jawabnya dengan riang dan bangga.


Ketiga ksatria yang juga ada disana menoleh dengan wajah tidak percaya. Bohong, pikir ketiganya kompak.


"Benarkah? Tapi, teknikmu seperti seorang pro!" ucap si pirang lainnya tidak percaya.


Aika hanya tersenyum manis sebagai jawaban. Membuat ketiga ksatria itu semakin penasaran.


Jauh dari mimbar keempat ksatria, terlihat di atas tribune utara seorang pangeran menatap keakraban keempatnya dengan tatapan tidak suka. Bahkan tanpa sadar aura membunuh keluar dari tubuhnya.


Riyu yang menyadari aura tidak enak di sebelah kirinya menoleh kearah si pelaku. Menyadari si pelaku sedang memandang kearah lain, ia pun mengikuti arah pandang Noya yang menusuk kearah mimbar para ksatria.


"Tidak biasanya Tooru kalah, benarkan?!" celetuk Riyu tiba-tiba. Salah mengira arti tatapan tajam Noya.


"Hn." gumamnya cuek. Sebenarnya ia sedikit bersyukur karena Tooru yang kalah. Noya tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika Aika yang terluka karena duel ini.


"Kau tidak kesal? Bukankah Tooru ksatriamu?" tanya Riyu sedikit penasaran, pasalnya ia sangat tahu kalau ksatria putih itu adalah ksatria pelindung Noya.


"Justru ini sangat bagus. Alasannya, pertama jika Tooru yang menang dia pasti akan kalah mutlak dari Shouta dan itu berarti kita berlima akan dirugikan karena kalah taruhan. Kedua, pemuda itu adalah lawan yang tepat untuk mengalahkan Shouta (karena taruhan mereka adalah Shouta vs. Wakil Rakyat). Dan itu bisa menjadi keberuntungan kita." jelas Daichi menggantikan sang adik.


"Ya, dan sepertinya pemuda itu jauh lebih pro dari Shouta. Dan kita akan memenangkan taruhan kali ini." sindir Rei melirik kearah Akira.


"Cih! Kita lihat saja nanti." sahut Akira ketus dengan bersedekap dada.


Pertandingan final dimulai. Seluruh penghuni area pertandingan kembali memfokuskan pandangan ke tengah lapangan. Kedua petarung memegang pedang mereka, memasang kuda-kuda siap memulai pertarungan kapan saja.


Sang Jendral Besar maju ke tengah lapangan, berdiri ditengah-tengah kedua petarung. Dan saat kata 'Mulai' di kumandangkan duel pun dimulai


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Pertarungan final kali ini sedikit menegangkan, sikap tenang Shouta dalam bertahan, membuat tarian pedang Aika tak berpengaruh sedikitpun. Shouta tak bergeming dari posisi bertahannya. Membuat Aika memutar otak bagaimana caranya menyentuh pertahanan si Kalajengking Merah.


Kedua petarung terdiam. Tak ada yang mulai menyerang lebih dahulu. Lama keduanya hanya mematung sampai Shouta memulai penyerangan. Aika yang sejak awal siaga, menangkis pedang Shouta yang menuju lengan kanannya dengan mudah. Namun, Aika lengah karena itu ternyata serangan semu yang berujung teririsnya lengan bagian atasnya.


Di tribune barat yang terisi pasukan istana yang mendukung Shouta bersorak. Senang karena jagoan mereka berhasil membuat satu luka sayatan pada lawannya. Namun, itu tak berlaku bagi Noya yang telah berwajah keras. Marah, karena Aika terluka.


Aika tak bergeming, sayatan kecil itu tak akan bisa menghentikannya. Dia kembali bersiaga, mengamati gaya bertarung Shouta. Lama dengan posisi bertahannya, seringai mematikan ia pasang saat melihat setitik celah dari gaya bertarung si Merah.


Shouta adalah tipe petarung lambat dengan banyak ilusi dalam gerakannya. Sedang Aika adalah tipe petarung cepat dan terkesan bar-bar. Namun itulah kelebihannya asalkan ia dapat membuat lawan kepayahan maka ialah pemenangnya.


Aika kembali melancarkan serangan brutalnya membuat Shouta sedikit sulit mengimbangi tarian pedang Aika. Alhasil ia banyak menghabiskan waktu hanya untuk bertahan saja. Shouta tak habis pikir 25 menit ia mengamati lawannya itu, namun tak sedikitpun ia menemukan celah, bahkan dengan gerakan cepatnya tak membuat semangat pemuda itu menurun. Malah terkesan semakin cepat dan kuat.


Bosan dengan posisi bertahan, Shouta akhirnya mengeluarkan kekuatan sesungguhnya. Inilah yang ku tunggu-tunggu, batin Aika girang.


Akhirnya duel final berlangsung serius setelah hampir satu jam mereka hanya bermain-main.


Saling menyerang dan menangkis, tidak ada lagi posisi bertahan. Keduanya terfokus untuk saling menjatuhkan lawan. Aika kembali tergores di bagian pipi kanannya. Tak mau kalah ia juga mentato Shouta di bagian paha.


Duel semakin sengit, banyak goresan yang telah di lukiskan kedua kubu. Tak ada yang mau menyerah. Shouta yang notabene ksatria terbaik mulai kewalahan oleh serangan Aika yang bak monster yang tak mengenal lelah.


Seluruh penonton ikut tegang sekaligus takjub melihat pemuda manis nan mungil itu tak menunjukkan mimik apapun bahkan terkesan santai dan menikmati tariannya, sedangkan sang ksatria hebat milik kerajaan Sawamura mulai memperlihatkan gelagat tubuh kelelahan.


3 jam duel berlangsung. Shouta hampir mengaku kalah, tapi egonya menentang hal itu. Ia adalah ksatria hebat kedua di kerajaan Sawamura. Mana mungkin ia mengaku kalah pada pemuda yang masih memasang wajah tenang didepannya itu. Bagaimana bisa ia tidak kelelahan? batinnya tak habis pikir, ada manusia batu yang tak merasa kelelahan sedikitpun.


Shouta yang lengah tak menyadari bahwa Aika telah kembali mengangkat pedangnya. Dan saat mata pedang itu hampir menusuk perutnya ia tersadar dan terbelalak. Terlambat! teriaknya dalam hati. Shouta hanya diam mematung, siap menerima kekalahannya.


Penonton yang tadinya berteriak histeris, mendadak menahan nafas dan membisu. Bahkan ada yang menutup mata, mulut, atau menatap horor kearah Aika yang ingin menusuk perut si ksatria Sawamura itu.


Suasana menghening. Semua mata terpejam. Telinga mereka tutup dengan kedua tangan. Sampai..


Prang!


Suara pedang jatuh memaksa mereka melihat kembali kearah tengah lapangan. Semua terdiam, Apa yang terjadi? pikir semua orang bingung.


"Aku menyerah!"


Semua mata terbelalak. Bahkan Shouta yang siap menerima tusukan memejamkan matanya erat. Apa aku sudah mati, pikirnya. Namun saat matanya terbuka, lawannya justru tak lagi memegang pedangnya. Membuat ia memeras otak. Apa yang terjadi? tanyanya dalam hati.


Semua orang juga sama bingungnya, sulit mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pemuda itu menyerah? Bukankah ia bisa saja menang tadi? begitulah kira-kira isi pikiran mereka.


Sang Jendral Besar yang juga terkejut tak juga tersadar. Bukankah ia harus segera memutuskan sekarang? Aika yang melihat si Jendral yang mematung mendekati pria itu.


"Ano Tuan, tidakkah kau menentukan siapa pemenangnya?" ucap Aika pada sang Jendral. Matanya berkedip polos.


"Ekhem..! ba..baiklah-" gagap si Jendral. Sial umpatnya dalam hati, setelah sadar dari keterkejutannya (dan juga karena ia tergagap).


"-pemenangnya adalah Ikeda Shouta ksatria Kerajaan Sawamura!" seru si Jendral akhirnya, membuat semua orang yang tadinya membatu mulai bertepuk tangan. Meski masih banyak pertanyaan yang bergelanyut di benak mereka.


Aika kembali berhadapan dengan Shouta. Menyadarkan pria itu dari acara linglungnya. Setelah itu keduanya saling membungkuk dan berjalan keluar dari lapangan.


To be Continue...