
Ruangan Bawah Tanah
"Jadi, Putri Masako menyuruh pelayannya untuk mengawasimu?" Sebuah kalimat tanya terlontar dari bibir pria tua beruban (Uroko).
Aika mengangguk, sedang tangannya membawa cawan ocha ke depan bibir untuk diteguknya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Tsuki menimpal tanya.
Aika menggeleng, "Biarkan saja!" Jawabnya tenang.
"Apa kau akan menunggu ia melahirkan?" Suara Uroko kembali menyahut.
"Tidak ada pilihan lain. Serigala itu harus dimusnahkan dari akarnya sekaligus." Sahut Aika lagi.
"Tapi, bukankah lebih mudah saat anak itu belum lahir?" Akashi ikut memberi saran.
"Menurutku tidak! Kita semua tahu Putri Masako tidak mengandung anak Pangeran Daichi tapi-
"-Perdana Menteri Dotto!" Potong sebuah suara yang mendadak masuk ke dalam perbincangan para kroni yang menjadi pemberontak Dotto.
Semua orang (Aika, Uroko, Tsuki, Akashi, dan Hiruko) mengangguk. Tentu mereka tahu benar bahwa Pangeran Daichi yang notabene adalah seorang gay tidak mungkin mau menyentuh wanita jal*ng seperti Putri Masako. Jikapun Pangeran Daichi sembuh, ia tak akan sudi melakukannya dengan Putri Masako.
"Lalu, apa rencanamu Aika?"
"Lebih baik matangkan dulu rencana untuk pemulihan rakyat. Baru kita jalankan rencana penggulingan Dotto dari takhta-nya..."
"...sambil menunggu anak haram itu lahir begitu maksudmu?" Sambung Akashi gemas. Sejujurnya ia tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh adik angkatnya itu.
"Ya, aku sudah punya banyak rencana untuk itu. Yang terpenting sekarang adalah rakyat-"
"-dan juga dirimu." Potong suara itu lagi. Ia menatap Aika sejurus. "Dotto dan kroninya berniat menyingkirkanmu." Tambahnya.
"Benarkah? Itukah yang anda dapat dari menjadi mata-mata ganda?" Tanya Aika dengan tawa gelinya.
"Ya. Aku bisa memberitahu kalian semua yang aku tahu." Ucap pria itu lagi.
"Dan berpikir kami akan percaya?" Ejek Akashi meremehkan.
"Sejujurnya apa tujuanmu berpindah kelain pihak? Kau sangat mencurigakan, Jendral!" Ucap Tsuki mencoba waspada.
"Bukankah sudah jelas, Dotto tak lagi mampu memimpin dan kita semua tahu ia adalah bangsawan terburuk sepanjang pemerintahan Dinasti Sawamura." Jelas pria itu mencoba meyakinkan.
Hiruko, Akashi, Uroko, dan Tsuki masih memandang curiga pria itu, sampai...
"Sudahlah, bukankah lebih bagus jika kita memiliki lebih banyak sekutu?" ... suara Aika memutus ketegangan di antara mereka.
"Tapi, jangan berpikir kami percaya begitu saja. Ada banyak hal yang akan kulakukan untuk menguji kesetiaanmu." Tawar Aika murah hati.
Si pria itu mengangguk setuju. "Tidak masalah."
.
.
.
Namun, niat untuk membersihkan diri ia urungkan tatkala hidung bangirnya menangkap bau wangi di dalam kolam mandinya.
Aika tak akan sesiaga itu bilamana wangi yang menguar dari air mandi itu adalah wangi bunga yang biasanya disiapkan oleh Yui. Tapi, kali ini ada aroma lain seperti wangi tanaman beracun (berbau sedap) yang disiapkan oleh Yutaka.
Aika tersenyum setelah mencium aroma dari air tersebut lewat telapak tangannya. Senyumnya semakin merekah diiringi tawa sumbang saat menyadari apa fungsi air itu untuk kulitnya. Apalagi kalau bukan gatal-gatal atau yang lebih parah rusak seperti terkena air keras.
"Pelayan!" Panggil Aika lantang. Tak lama kemudian empat orang pelayan baru datang tergopoh-gopoh menghadap Aika.
"Apa kalian yang menyiapkan air mandi ini?" Tanya Aika kalem bahkan senyum manisnya kelewat manis (terkesan mengerikan jika diperhatikan baik-baik).
Keempat pelayan itu mengangguk. "Wangi sekali, aroma apa yang kalian campurkan ke dalamnya?" Tanya Aika lagi tak sedikitpun melunturkan senyumnya.
"Kami hanya mencampurkan wangi buah dan bunga. Itu sangat baik untuk kulit anda, Putri." Jawab salah satu pelayan mewakili ketiga rekannya.
Aika mengangguk berkali-kali. Ia tentu tak sebodoh itu menelan mentah-mentah ucapan si pelayan. Aika jelas tahu kalau aroma yang wanginya menyengat itu adalah tumbuhan beracun yang bisa merusak kulit.
"Masuk!" Perintah Aika ambigu. Wajahnya tak lagi berlukiskan senyuman melainkan wajah datar dengan tatapan dingin yang sukses membuat para pelayan itu mendadak menggigil.
"Ta-tapi a-ir i-itu untuk anda, Putri." Cicit salah seorang pelayan tergagap-gagap.
"Apa bedanya aku atau kalian?!" Tantang Aika dingin.
"I-itu di-di larang! Ka-kami tidak pantas, Putri." Elak pelayan kedua.
"Kau mau menentang perintahku?!" Tanya Aika kalem.
"Bu-bukan..."
"Kalau begitu cepat masuk!" Potong Aika gemas -mulai kehabisan kesabaran. Tapi, keempat pelayan itu tetap bergeming dan tubuhnya semakin bergetar ketakutan.
"Putri..."
"Kenapa? Bukankah kalian bilang air ini baik untuk kulit?! Apa kalian ingin menghina pemberian dariku? Hey! lihat aku saat aku sedang berbicara! Tidak sopan!" Maki Aika kembali berwajah tenang.
Keempat pelayan itu tetap bergeming dengan kepala menunduk dalam. Mereka cukup takut hanya sekedar untuk melihat ujung kaki milik Aika apalagi harus melihat wajahnya. Mereka kembali tersentak saat suara Aika kembali mencicit merdu.
"Cepat masuk!" Aika mendorong satu persatu pelayan yang berwajah ketakutan itu masuk ke dalam kolam air saat ucapannya tak jua di gubris.
Keempat pelayan itu gelagapan dan mulai menjerit histeris tatkala wajah dan tubuh mereka seperti terbakar. Tak berselang lama tubuh keempat pelayan itu melepuh dan tak sedikit yang terkelupas.
Aika tersenyum miring, kemudian mendekati keempat pelayan itu. "Pergi! Jangan tampakkan lagi wajah kalian dihadapanku atau aku akan membunuh kalian saat itu juga." Desis Aika setajam pedang berbanding terbalik dengan wajahnya yang tersenyum manis.
Tak mau berlama-lama melihat wajah mengerikan Aika, keempat pelayan itu segera tancap gas keluar dari kamar rubah berekor sembilan itu.