The Great Princess

The Great Princess
Kecurangan



"Hah~ lelahnya. Tadi itu hampir saja!" Aika bermonolog di dalam tendanya.


"Aika?" panggil seorang prajurit.


"Ya?" Sahutnya sebelum merebahkan diri.


"Kau di larang meninggalkan tendamu sampai prosedurnya selesai."


"Baiklah."


Si prajurit segera keluar setelah menyampaikan pesannya. Namun, langkahnya terhenti oleh ucapan Aika.


"Tunggu! Sampai kapan aku harus tinggal disini?"


Si prajurit membalikkan tubuhnya dan menjawab singkat, "Tunggu perintah selanjutnya." Kemudian berlalu pergi.


"Hah~ sebaiknya istirahat dulu." ucapnya sembari berbaring di kasur yang telah tersedia di tendanya.


.


.


.


"Apa pemuda itu di dalam?" tanya sang Jendral Besar pada penjaga tenda Aika.


"Ya, Jendral. Pemuda itu sedang beristirahat."


Meski sudah tahu, sang Jendral tetap masuk dan mengganggu acara mimpi Aika.


"Aika!" panggilnya.


"Aika! Bangunlah!" panggilnya lagi, namun tetap tak ada respon.


"Aika!" kali ini ditambah goncangan ringan di bahu Aika.


"Engh~" erang Aika mulai menggeliat pelan.


"Kau sudah bangun?!"


Kedip. Mengumpulkan seluruh nyawanya Aika belum menyadari situasi. Lama keduanya hanya diam, sampai teriakkan Aika menggelegar memecah keheningan.


"Huaaa~!" teriaknya histeris.


"Diamlah!"


"Eh? Kau siapa?" tanya Aika setelah berhasil menenangkan diri dengan telengan kepala lucu.


"Kau tidak ingat padaku?" tanya sang Jendral dengan sebelah alis terangkat.


"Kau? Mana aku tahu." sahut Aika cuek.


"Sawamura Ryuichi. Jendral Besar Sawamura." ucap Ryuichi memperkenalkan diri.


"Ha? Untuk apa seorang Jendral Besar sepertimu menemuiku?"


"Bodoh! Cepat bersiap! Kau di undang makan malam oleh Yang Mulia Kaisar Sawamura-" ucap Ryuichi santai, mengabaikan wajah terkejut Aika -yang shock karena lagi-lagi ia di panggil bodoh.


"-dan ya, aku datang karena ingin menawarkan sesuatu padamu."


Mengabaikan ucapan Ryuichi sebelumnya, Aika segera menjawab "Apa itu?"


"Mau bergabung menjadi ksatria Sawamura?"


.


.


.


Malam ini istana Sawamura kembali mengadakan pesta. Namun bukan pesta mewah seperti sebelumnya. Hanya pesta kecil yang dibuat oleh keluarga Sawamura untuk merayakan keberhasilan empat orang yang telah bekerja keras seharian ini.


Namun, pesta kecil akan jadi besar jika Ishikawa dan Nakashima ikut terlibat didalamnya. Setelah acara pemberian hadiah pada juara 1-4 kini semua orang sedang mengadakan acara makan malam bersama. Jadi, ini bisa dibilang acara makan malam daripada sebuah pesta.


Lalu apa yang membuat pesta ini besar? Tentu saja acara makan malam yang rencananya hanya sebatas keluarga Sawamura dan keempat peserta duel kini bertambah karena rengekan manja dari Pangeran Mahkota Ishikawa yang tiba-tiba ingin makan malam bersama Pangeran Daichi.


Untuk keluarga Nakashima tentu saja juga ikut diundang. Tidak mungkin Sawamura dan Ishikawa makan malam bersama sedangkan Nakashima tidak ikut, kan? Itu akan menjadi masalah untuk hubungan ketiga Kerajaan nantinya.


Setelah acara makan malam selesai semua orang sibuk berbincang, hanya perbincangan ringan. Namun, membuat empat orang mati kutu karena merasa asing. Ya, mana mungkin ksatria biasa ikut masuk kedalam obrolan keluarga kerajaan? Dan untuk Aika itu semakin tidak mungkin.


Namun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kan? Dan ungkapan itu juga berlaku untuk Aika karena dengan tiba-tiba si rubah mengajukan pertanyan padanya.


"Namamu Aika, kan?"


"Eh! Uhm, y..ya Pangeran." jawabnya terbata, merasa gugup ditanya tiba-tiba oleh seorang Putra Mahkota.


Akira manggut-manggut, "Apa margamu?"


"Tidak ada." jawab Aika singkat. Akira menaikkan sebelah alisnya bingung. Tapi, kemudian mengangguk mengerti.


"Di mana tempat tinggalmu?"


"Desa Arang."


"Arang? Bukankah itu di wilayah barat daya kerajaan Sawamura? Itu sangat jauh. Untuk apa kau kemari?" kali ini suara Riyu yang terdengar.


"Kau membuatnya bingung, Pangeran." tegur Daichi pada Riyu.


Riyu mendengus dan kembali mengulang pertanyaannya. "Untuk apa kau kemari?"


"Mengambil barang." sahut Aika datar. Merasa sedang di interogasi membuatnya sedikit tidak nyaman.


"Barang?" Noya juga tak mau ketinggalan.


"Ya."


"Bagaimana desamu?" tanya sang Kaisar tiba-tiba. Daichi dan Noya membelalakkan mata. Mereka belum sempat memberitahu ayahnya tentang masalah di desa itu.


"Desa ka-"


"-Aku dan Pangeran Noya sudah mengunjungi desa itu, ada sedikit masalah disana." potong Daichi cepat. Sedang Aika hanya memutar mata bosan.


Kaisar Hideki menaikan sebelah alis, "Kau tidak memberitahuku sebelumnya!"


"Kami belum sempat." koreksi Daichi.


Saat kedua ayah-anak itu sibuk berdebat, Akira menggeser duduknya semakin mendekati Aika.


"Hei!" sapanya.


"Ada apa, Pangeran?" Tanya Aika dengan alis terangkat.


"Terimakasih untuk bantuanmu." ucap Akira tulus dengan senyum manis.


"Sama-sama, Pangeran." jawab Aika ikut tersenyum.


Flasback On :


Akira berjalan santai di barisan tenda para rakyat yang sedang mengikuti duel dengan kedua tangan yang berada di belakang tubuhnya. Ia bersiul-siul ringan sedang kepalanya melongok kesana-kemari.


Lalu, sedang apa dia disana? Tentu saja mencari tahu siapa salah satu rakyat yang berhasil menang dan masuk keperempat final.


Lama ia berjalan tanpa arah hingga kedua rubynya menemukan dua orang pemuda yang tengah asyik berbincang-bincang.


"Permisi, Tuan-tuan!" sapanya.


Kedua pria itu sontak menoleh ke arah Akira.


"Ada apa, Tuan." sahut pria pertama.


"Maaf, mengganggu kalian. Aku hanya ingin tahu di mana tenda pemenang dari perwakilan rakyat?" tanya Akira ramah.


"Oh, tidak masalah. Di sana tendanya." pria kedua menunjuk ke arah tenda yang dimaksudnya.


"Terimakasih." ucap Akira, lalu bergegas menuju tenda yang dicarinya. Setelah mendapat anggukan dari kedua pria tadi.


Sebelum benar-benar memasuki tenda, Akira dengan waspada mengamati sekeliling agar tindakan curangnya ini tak diketahui oleh keenam pangeran. Dan setelah dipastikan aman, ia pun tanpa ragu memasuki tenda.


"Ya."


"Boleh aku masuk?" Tanyanya.


"Ya, silakan."


Akira masuk, dan menemukan seorang pemuda sedang duduk diatas ranjangnya. Tengah sibuk merapihkan beberapa pakaian.


"Ada yang bisa aku bantu, Tuan?" Tanya Aika skeptis, meninggalkan sejenak pekerjaannya.


"Ya, aku butuh bantuanmu." pinta Akira sopan, dia duduk di kursi yang berada di sebelah kanan ranjang yang berhadapan langsung dengan Aika -setelah mendapat isyarat tangan dari si empunya tentu saja.


"Bantuan? Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Tuan?" tanya Aika bingung, pasalnya ia tidak kenal dengan pemuda tampan ini karena baru pertama kali bertemu. Dan juga belum berkenalan pula.


Akira yang menyadari keengganan Aika pun merutuki kebodohannya.


"Aku Ishikawa Akira. Aku ingin memintamu mengalah pada pertandingan final nanti." ucap Akira to the point, mengabaikan wajah terkejut Aika.


Apa? Jadi dia Pangeran Mahkota Ishikawa. Dan apa tadi dia bilang? Memintaku mengalah, dia pikir dia itu siapa?! Dasar Rubah! umpat Aika dalam hati, merasa kesal dengan ucapan sombong pangeran didepannya.


"Maafkan aku Pangeran. Tapi, aku tidak bisa membantumu." ucap Aika kalem, setelah berhasil mengendalikan emosinya.


"Aku mohon, hanya kau yang bisa membantuku." pinta Akira dengan wajah penuh permohonan.


Aika tertegun, demi apa pangeran ini merendahkan harga dirinya untuk memohon pada rakyat jelata sepertinya. Meski merasa iba tapi Aika tak mau dikelabuhi lagi. Jadi, pangeran ini harus diuji dulu bukan?!


"Maafkan aku, Pangeran." akting Aika meyakinkan.


Akira terdiam, memikirkan bagaimana cara membujuk pemuda mungil di depannya.


"Aku bertaruh untuk kemenangan Shouta, dan itu adalah jebakan licik dari permainan para Pangeran Sawamura. Mereka akan menjadikan aku pesuruh mereka jika sampai jagoan mereka (Aika) menang. Kau tahu, harga diri pangeranku akan tercoreng karena mereka. Jadi, aku mohon tolonglah aku!" bohong Akira lihai, mendramatisir keadaan dengan wajah memelasnya.


Kena, Aika terkecoh oleh rayuan manis si rubah. Niat awal ingin menguji agar tidak dikelabuhi (lagi), tapi apa mau di kata ia malah terjerumus oleh ucapan penuh kebusukan milik Ishikawa Akira.


"Kau tak mau harga dirimu tercoreng karena mereka, bukan? Lalu kenapa kau malah memohon pada rakyat rendahan seperti ku?" tanya Aika hampir goyah melihat mimik memelas si rubah.


Pertanyaan yang salah pikir Akira, karena- "Apa maksudmu? Justru rakyatlah raja kami. Kami melayani mereka dan menempatkan mereka disisi kami, dan aku memohon padamu bukan sebagai orang yang lebih rendah dariku, melainkan sebagai seseorang yang dapat aku andalkan." -si rubah mulai berkelit penuh rayuan dengan bibir manisnya.


"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan mu." putus Aika akhirnya -terjerat oleh buaian licik si rubah.


Senang, itulah yang dirasakan Akira saat ini. Pemuda ini terlalu manis untuk dikelabui pikirnya. Tapi, tidak masalah karena ia lah yang akan diuntungkan dalam hal ini.


"Terimakasih. Aku sangat tertolong oleh kemurahan hatimu. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?" tawar Akira tulus, bagaimanapun pemuda inilah yang akan menyelamatkan harga dirinya nanti. Jadi, sedikit imbalan tidak akan membuatnya rugi.


"Aku tidak menolong untuk menerima imbalan. Aku tulus menolongmu." Meskipun aku rugi besar sebenarnya, tambahnya dalam hati.


"Kau sangat baik. Tapi... Tidak! Seorang pangeran tidak pernah menarik ucapannya. Kau mungkin tidak membutuhkan sesuatu saat ini tapi, kau bisa memintanya padaku lain waktu. Jadi, sampai kapanpun penawaranku tetap berlaku untukmu. Kau tidak perlu sungkan memintanya saat kau sudah tahu apa yang kau inginkan. Bagaimana?" tawar Akira dengan senyum menawan dibibirnya.


Entah kenapa pemuda ini membuatnya merasa nyaman dan hangat, padahal mereka baru bertemu dan baru saling mengenal. Tapi, Akira tidak sedikitpun sungkan untuk menawarkan sesuatu padanya. Bahkan muncul suatu keinginan untuk memiliki dan melindungi pemuda itu, aneh pikirnya.


Bukan hanya itu saja, ia sendiri merasa bingung sejak kapan ia bisa bicara selembut dan semanis itu pada orang asing, padahal ia sangat terkenal dengan mulut pedas dan setajam pedang. Dan lihat dia sekarang berbicara dengan lembut dan manis, sangat aneh bahkan untuk pendengarannya sendiri.


Mengabaikan keanehan pada dirinya Akira kembali ke dunia nyata. Masih menunggu jawaban pemuda manis itu.


"Baiklah. Aku akan memikirkan itu nanti." putus Aika akhirnya.


Flashback Off.


Aika dan Akira terus berbincang-bincang. Seakan mereka telah mengenal cukup lama. Dan anehnya keduanya merasa nyaman dan hangat dengan keakraban mereka. Seolah ada ikatan tak kasat mata yang membelenggu keduanya.


Namun, kesenangan keduanya tak disambut baik oleh Noya. Ia merasa geram dan cemburu (mungkin) melihat kedekatan keduanya. Hatinya panas dan kepalanya mendidih saat melihat Aika tertawa dan tersenyum manis pada Akira.


"Sepertinya kau kalah start, Pangeran Noya." celetuk Daichi tenang sambil meminum ochanya.


"Apa kau tertarik pada pemuda itu, Pangeran Noya?" oceh Riyu ikut nimbrung.


"Dia memang manis tapi tetap saja dia seorang pria." Ren menimpali.


"Aku tidak tahu kalau rubah itu 'belok'!" ucap Kouji (Pangeran Mahkota Nakashima) tak habis pikir.


"Percuma, itu tidak akan berhasil karena pernikahan sesama jenis tidak akan menghasilkan keturunan. Dan kita semua tahu mereka pasti tidak akan setuju." komentar Riyu, kemudian menunjuk kearah para orang tua dengan dagunya saat mengatakan kata 'mereka'.


"Kurasa tidak masalah jika kau sudah punya sebuah 'mesin penghasil anak'." sahut Rei memberi saran.


Lima kepala menoleh kearahnya. Sorot mata kebingungan nampak di setiap wajah tembok mereka. Rei mendengus, bodoh pikirnya.


"Maksudku, tidak masalah jika kau punya istri pertama (si pembuat anak) dan menjadikannya 'istri' kedua." sambung Rei menunjuk dengan dagu kearah Aika saat mengatakan 'istri kedua'.


Kelimanya terdiam, Betul juga pikir kelimanya kompak. Ya, selama ada istri yang bisa menghasilkan keturunan maka hubungan apapun akan mendapatkan lampu hijau.


"Tapi sayang kalian tidak lebih cerdas dan cepat dari si rubah." sindir Rei dengan seringai kecil.


Noya yang mendengar sindiran Rei mengepalkan kedua tangannya. Bukannya ia tersinggung tapi lebih membenarkan ucapan Rei. Mungkin Akira sudah memikirkan rencana itu sejak awal dan sekarang ia sedang melancarkan aksi pendekatan. Dan itu membuatnya sangat marah dan merasa bodoh karena tidak berpikir cerdas dan bertindak cepat seperti Akira.


"Aika?!" panggil sebuah suara lembut membuat seluruh aktivitas beberapa dari mereka terhenti.


Aika yang sedang berbincang seketika menghentikan ucapannya, lalu menoleh ke asal suara. Disana terlihat wajah Keiko yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aika, boleh aku memanggilmu begitu?" tanya Keiko, tatapan matanya melembut, senyum manis terpatri di bibirnya.


Aika mengangguk sebagai respon.


"Aika, darimana kau belajar pedang? Aku sangat terpukau dengan gerakan pedangmu. Mungkin aku bisa menjadikanmu ksatria di Istana kami." tawar Keiko dengan wajah menuntut.


"Un, aku mempunyai guru pedang. Hanya saja beliau sering berpergian jadi aku selalu berlatih seorang diri. Dan untuk tawaran anda maaf aku tidak bisa." jawab Aika dengan ketenangan yang menganggumkan.


"Kenapa? Apa kau tidak ingin menjadi ksatria kami?" tanya Keiko penasaran, karena biasanya seseorang tidak akan menolak kesempatan untuk menjadi ksatria di kerajaannya. Apalagi ini permintaan langsung dari seorang Permaisuri.


"Tidak, aku tidak bermaksud begitu Yang Mulia. Hanya saja aku telah menjadi Jendral di desaku." tolak Aika sopan, tak ingin menyakiti perasaan Permaisuri Ishikawa itu.


"Jendral? Kau seorang Jendral? Siapa yang mengangkatmu? Bisa kau jelaskan?" tanya sang Kaisar Sawamura beruntun.


"Ya, hamba seorang Jendral, Yang Mulia. Hamba diangkat oleh Jendral Besar Uroko, guru hamba." jelas Aika singkat setengah berbohong. Mana mungkin si guru mesum yang baru dijumpainya beberapa hari yang lalu itu mengangkatnya menjadi Jendral sedangkan ia sudah mengaku-ngaku sejak lama. Dasar Aika dan akal bulusnya.


Semua orang terkejut, terbelalak, dan mematung. Siapa yang tidak kenal dengan sang Jendral Besar Legendaris itu? Julukan yang cukup sering di dengar bahkan sampai ke plosok 4 Negara Besar.


Mereka tentu saja shock berat, pasalnya saat tidak ada seorangpun yang tahu seperti apa sosok sang legenda, kini datang seorang pemuda yang mengaku sebagai muridnya dan telah diangkat langsung sebagai Jendral.


"Kau tidak berbohong, kan?" tanya Shouta, orang pertama yang tersadar dari rasa terkejutnya.


"Kalian bisa memenggal kepalaku jika aku berbohong." ucap Aika tenang namun terdengar meyakinkan.


"Kalau begitu tunjukkan." sahut Rei tak mau ketinggalan.


"Dia sudah pergi."


"Kau pasti berbohong!" Tuduh Tooru sarkastik. Merasa kalau pemuda itu sedang membual saja.


"Tidak. Hanya saja aku tidak tahu di mana, sedang apa, atau dengan siapa dia sekarang. Beliau seperti sebuah jarum ditumpukan jerami. Terakhir kali aku bertemu dengannya beliau sedang menyamar menjadi peramal buta." jelas Aika panjang lebar.


Hening. Tidak ada yang membuka mulut. Sepertinya mereka mulai percaya dengan perkataan Aika, meski masih setengah ragu.


"Anggap saja yang kau katakan itu jujur dan aku mempercayaimu. Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya sang Kaisar Sawamura.


"Saya akan kembali ke desa, Yang Mulia."


"Hn, berhati-hatilah. Jika kau membutuhkan bantuan. Datanglah kemari, pintu kerajaan Sawamura akan selalu terbuka untukmu." ucap sang Kaisar Sawamura dengan senyum tipisnya.


.


.


.


Aika berjalan pulang setelah menghadiri pesta makan malam kerajaan Sawamura. Malam ini suasana jalan sangat sepi, maklum waktu menunjukkan hampir tengah malam. Hembusan angin musim dingin ikut menambah suasana jalanan yang sepi semakin membeku.


Aika menapaki jalanan bersalju dengan santai tak sedikitpun terpengaruh oleh dinginnya salju ataupun suara sebuah langkah kaki. Ya, saat ini ia tengah diikuti oleh seseorang.


Aika sudah menyadari kehadiran orang itu sejak ia keluar dari gerbang utama Kerajaan Sawamura. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Aika merasa diawasi. Ia sudah sering merasa bahwa ada seseorang yang selalu mengikutinya.


Tak mau ambil pusing ia pun mengabaikan orang itu, selama si penguntit tak mengusik hidupnya maka ia akan membiarkan orang itu mengikutinya. Toh, ia sudah tahu betul wajah pria itu. Meski dalam kegelapan sekalipun.


Tak sampai satu jam ia berjalan, ia telah berdiri di depan pintu penginapannya. Tanpa membuang waktu ia segera masuk dan mengistirahatkan tubuhnya. Aika akan kembali ke desanya besok, jadi ia harus memiliki banyak tenaga untuk menempuh perjalanan panjangnya.


To be continue...