The Great Princess

The Great Princess
Ep. 83



Pangeran Nishinoya yang tengah menghadiri acara perundingan dengan Pangeran Rei belum mendengar berita tentang kemalangan istrinya. Pemuda Sawamura itu kini tengah melakukan tugasnya sebagai seorang Pangeran. Menempuh perjalanan jauh menuju daerah di Provinsi Tōkai.


Sōsetsu Kimura, gubernur Provinsi Tōkai sekaligus Ayah dari Koyuki Kimura -mantan peserta seleksi ujian pemilihan Putri kala itu. Menyambut kedatangan Pangeran Noya dan Pangeran Rei yang gagah diatas kudanya.


"Aku dengar ada masalah disini, Gubernur. Apa keluhan yang kau ajukan?" Pangeran Rei angkat bicara.


"Pangeran Kedua, beberapa hari yang lalu sumur-sumur di desa kami tiba-tiba mengalami kekeringan. Bahkan tandon buatan juga kering karena air dari hulu yang kosong tanpa sebab." Lapor Sōsetsu tak menutupi kekhawatirannya.


"Apa curah hujannya tinggi?" Kini giliran Pangeran Noya yang bertanya.


"Tidak begitu tinggi, Pangeran Mahkota. Hanya saja hujan menjadi jarang akhir-akhir ini." Balas Sōsetsu lagi.


Pangeran Noya dan Pangeran Rei memutuskan untuk mengelilingi Desa Awa yang merupakan desa terbesar di Provinsi tersebut. Dan benar saja desa itu benar-benar tandus, hanya ada pasir sejauh mata memandang dan hanya ada hamparan kaktus yang ada ditiap-tiap rumah.


Keduanya tetap berjalan beriringan, menaiki lembah untuk menuju ke hulu sungai yang katanya kosong. Dan benar saja, hulu sungai itu kering dan banyak ikan yang membangkai berserakan.


Kedua pangeran itu saling berpandangan. Bagaimana bisa desa yang dulunya hijau makmur itu kini hanya menyisakan debu dan pasir. Sungguh pemandangan yang tak elok dilihat.


Keduanya pun menyusuri bekas aliran air yang kini kering dan mencoba mencari petunjuk. Namun, justru seseorang lah yang mereka temukan. Nampak seorang gadis berkimono sutra tengah membelai kepala seekor kuda jantan berwarna coklat.


Pangeran Noya dan Pangeran Rei menghampirinya. "Ekhem! Ekhem!" Pangeran Rei berdehem untuk menarik perhatian.


Gadis itu menoleh. Wajahnya nampak ayu dengan efek dramatis. Sebuah rambut yang disanggul berantakan dan kanzashi yang menghiasinya membuat Pangeran Rei terpukau sesaat.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanyanya ramah. Setelah membungkuk sebagai salam.


Pangeran Rei tersihir. Bukannya ia tak ingat siapa gadis dihadapannya ini, ia adalah putri dari Menteri Hukum Kerajaan Sawamura. Namun, kecantikan dan keindahan bola mata itu seolah menyihirnya dan menjadikannya linglung sesaat.


Pangeran Noya mendengus geli. "Inoue, apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Pangeran Noya skeptis.


Gadis bermarga Inoue itu berkerut kening. "Apa aku mengenal kalian?" Tanyanya bingung.


"Kami Pangeran Sawamura." Sahut Pangeran Rei sekenanya.


Hinata gelagapan. "Maafkan atas kebodohan hamba, Yang Mulia." Sesalnya dengan membungkuk dalam.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Inoue Hinata!" Ucap Pangeran Noya lagi, mengabaikan bungkukan maaf Hinata.


Pangeran Rei entah mengapa melirik sengit adik sepupunya itu.


"Aku baru kembali dari acara berburu bersama Kakakku. Tapi, kudaku tiba-tiba berhenti karena kehausan. Sayang sekali, ditempat ini aku tak menemukan setetes air pun." Jelas Hinata yang kembali menengok ke arah kudanya yang nampak kelelahan.


Pangeran Noya tiba-tiba menemukan sebuah ide jahil yang melintas di kepala ayamnya. "Pangeran Kedua, bisakah kau mengantar Nona Inoue ke istananya?" Tanyanya dengan binar jahil.


Pangeran Rei menyipitkan matanya. "Baiklah." Namun, ia tetap menyanggupi permintaan itu.


Pangeran Noya kemudian kembali melakukan penyelidikan setelah melihat Pangeran Rei yang menunggangi kudanya bersama Hinata. Ia memasuki hutan dan menemukan banyak kejanggalan disana. Beberapa jejak tertinggal. Sepertinya kuat dugaan bahwa kekeringan di desa ini pasti ulah orang-orang yang mencari mati hingga berani berurusan dengan Sawamura.


Pangeran Noya mendengar suara gemresik dari balik semak. Ia bersikap waspada dengan menyentuh gagang pedangnya.


Slash!


Pedang itu mengacung tepat di hidung Tooru, ksatrianya. Tooru melotot horor. "I-ini hamba, Pangeran." Gagapnya gugup.


"Ada berita besar di Istana Barat. Putri Aika mengalami kemalangan." Lapor Tooru dengan wajah menunduk.


Pangeran Noya seketika terbelalak. Enggan meminta penjelasan, ia seketika berlari menuju kudanya dan bergegas pulang.


*


*


*


Aika terbangun dengan tubuh yang linu sana-sini. Ia mencoba melihat sekeliling dan menyadari bahwa ia berada di kamarnya sendiri. Aika hendak duduk, namun perutnya tiba-tiba kram dan ia mengurungkannya. Dayang Yui menjadi satu-satunya nama yang dipanggilnya.


Pelayan setianya itu menunduk, menyembunyikan mata sembabnya karena mendengar berita buruk semalam. "Hamba, Putri." Seraknya.


Aika meminta tolong untuk diambilkan segelas air dan Dayang Yui bergegas menuangkannya dan memberikannya. Aika kemudian meminta Dayang Yui membantunya duduk bersandar pada kepala ranjang, Dayang Yui pun melakukannya tanpa protes.


"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Aika setelah beberapa menit mengamati wajah Dayang Yui yang sembab.


Dayang Yui semakin menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Tak berniat menjawab.


Aika menggulirkan kelereng birunya menyapu ruangan, sebuah keganjilan ia lihat disudut ruangan yang terdapat sebuah altar dengan meja kecil yang diatasnya terdapat guci putih sebesar baskom dan lilin serta buah-buahan menghiasinya. Tak lupa pula sebuah plakat kayu kosong berplitur berdiri tegak disisinya.


"Siapa yang meninggal?" Tanya Aika dengan suara pelan. "Kenapa ada disana?" Tanyanya lagi.


Dayang Yui meneguk ludah susah payah, ia lagi-lagi bungkam. Menyebabkan rasa curiga Aika semakin besar. "Bawa guci itu kemari!" Perintahnya tegas.


Dayang Yui mengangkat wajahnya cepat. "Yang Mulia.." lirihnya, ia berniat mengajukan keberatan. Namun, melihat kilatan kemarahan di manik biru itu Dayang Yui tak dapat melanjutkan penolakannya.


Dayang Yui mengambil guci itu. Tangannya tak berhenti bergetar. Air matanya kembali menetes. Aika semakin bingung kala melihat pelayannya itu menangis tertahan dengan tubuhnya yang bergetar.


Dayang Yui meletakkan guci itu dengan tangannya yang bergetar. Ia menarik simpul tali berwarna merah yang mengikatnya lalu membuka kain penutupnya. Aika terbelalak ngeri melihat gumpalan itu. Sebuah janin yang berusia kira-kira 3 bulan, dan sebuah gumpalan lain menjadi satu dalam penglihatannya.


"Dayang Yui.." panggilnya meminta penjelasan.


Dayang Yui masih terisak. "Putri, bagaimana aku menyampaikannya?" Tanyanya setengah berbisik.


Aika memejamkan matanya. Sekilas ia dapat mengetahui maksud dari semua ini. "Apa ini... bayiku?" Cicitnya susah payah mengelurkan suara.


Dayang Yui hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia kemudian bersujud di bawah kaki Aika. "Hukum saja hamba, Putri. Hamba telah gagal menjadi Dayang yang melindungi anda. Hamba pantas mati." Ucap Dayang Yui diiringi tangis.


Aika menitikan air mata. Dadanya terasa sesak. Hatinya hancur berkeping-keping. Suaranya tercekat ditenggorokan, dan nyawanya seolah ingin lepas dari tubuhnya. Aika menutup kembali guci itu, tangannya bergetar hebat. Pangkuannya sama basahnya oleh lelehan airmata.


"Kuburkan dengan layak, aku ingin bayiku mendapat ketenangan." Ucapnya sesenggukan.


Dayang Yui mengambil guci itu kembali dan meletakkannya di tempat semula. "Istana Sawamura akan mengadakan ritualnya esok hari. Sebaiknya sekarang anda tidur, Putri." Usul Dayang Yui yang kemudian membantu Aika berbaring dan menutup selimutnya.


Sementara itu di balik pintu, Pangeran Noya yang mendengar percakapan keduanya telah merosot dan terduduk di lantai. Ini sungguh di luar kendali kekuasaannya. Bagaimana bisa ia dan Aika mengalami kemalangan ini?


Pangeran Noya menutup mata kala rasa sakit menghujam hatinya. Air matanya meleleh dengan lancangnya. Ini bahkan ribuan kali lebih sakit daripada mendengar kabar kematian Aika saat itu. Darah dagingnya, cintanya, pewarisnya direnggut darinya hanya dalam hitungan detik.


Pangeran Noya menangis dalam diam. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi pada istri tercintanya itu? Pangeran Noya seketika membuka matanya. Ia akan menyelidiki dan menghukum siapa pun yang merenggut kebahagiaan wanita yang dicintainya. Ia kemudian bergegas bangkit dan menuju Paviliun milik Pangeran Daichi malam itu juga.