
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Pangeran Nishinoya dengan dingin, matanya menatap Putri Masako dengan tajam.
Putri Masako mengerutkan kening, "Aku sedang berdoa untuk Pangeran Udon. Apa ada masalah, Pangeran?" Tanyanya tak berdosa.
"Kau begitu menjijikkan dengan alasanmu itu!" Ucap Pangeran Noya tajam, menatap jijik wajah Putri Masako yang terlihat gugup.
"Pangeran Mahkota, apa yang dikatakan Putri Masako adalah benar. Akhir-akhir ini kesehatan Pangeran sedikit memburuk. Itu sebabnya Putri melakukan ritual ini." ucap Fuen untuk membela sang majikan.
"Apa sekarang seorang pelayan berani menyela ucapan seorang Pangeran?!" Murka Pangeran Noya, memandang tajam para pelayan Putri Masako.
"Tooru! Bawa mereka untuk diselidiki!" Suruh Pangeran Noya pada ksatrianya, yang kemudian meninggalkan altar pemujaan setelahnya.
"Seret mereka!" Perintah Tooru pada anak buahnya. Tak berselang lama para pelayan itu telah diseret dari hadapan Putri Masako yang hanya berwajah datar.
Aika mendekati Putri Masako kemudian mengancamnya. "Saat mereka mengakui kesalahanmu. Maka topeng dan sandiwaramu akan berakhir sampai disini. Jadi, bersiaplah!"
Aika berbalik menjauh, namun baru beberapa langkah ia kembali menambahkan. "Kutukan ini tak akan membunuhku! Bahkan dunia pun tak akan pernah mengizinkanmu untuk menyentuh kehidupan suciku secuil ujung kukuku saja!"
Putri Masako yang mendapat ancaman dan ejekan seperti itu hanya dapat mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya. Dalam hatinya yang kotor, ia bersumpah wajah yang angkuh itu akan menjadi alas kakinya suatu hari nanti.
.
.
.
Para pelayan Putri Masako di cambuk dengan sebuah rotan panjang dan tebal setelah sebelumnya tubuhnya disirami air panas. Bahkan sesekali besi panas menyentuh kulit mereka karena masih tetap bungkam.
"Mengakulah maka aku akan berhenti menyiksa kalian!" Kiyoko berucap santai sembari memperhatikan kuku-kukunya yang siang tadi baru saja mendapatkan perawatan.
Shio, dan beberapa pelayan Putri Masako tetap keukeuh membungkam mulut mereka rapat-rapat. Bahkan kini hukuman mereka di tambah dengan sedikit cambukan dengan menggunakan kulit kerbau yang telah mengering dan di ujung-ujungnya dihiasi oleh kawat berduri.
Namun, sekeras apapun siksaan yang diterima dan sekeras apapun teriakan itu menggema. Kesetiaan mereka patut dihargai acungan jempol. Membuat Kiyoko berdecih dan membiarkan mereka disiksa hingga mati.
.
.
.
Sementara itu di kediamannya, Putri Masako justru tak ambil pusing dengan apa yang terjadi dengan para pelayannya. Kini ia justru asyik membaca buku dan sesekali menyeduh teh untuk menyegarkan tenggorokannya.
Dalam hatinya ia sungguh yakin bahwa orang-orang itu tak akan berani membuka mulut, karena tak ingin cari mati tentunya. Bahkan Putri Masako bertaruh meskipun ia tertuduh pun ia juga tak akan mendapatkan hukuman apapun nantinya.
Shin, kakak sepupu Putri Masako mendatangi saudarinya itu. "Keributan apa lagi yang kau lakukan? Yang Mulia Kaisar telah mendengar hal ini. Kau pasti akan mendapat masalah." Ucapnya khawatir.
Putri Masako mengangkat telapak tangannya. "Kau tak perlu khawatir! Pergi dan selamatkan para pelayanku! Aku perintahkan kau menyelesaikan masalahku!" Suruhnya tak tau diri.
Shin mendengus, namun ia tetap melaksanakan perintah itu dan pergi ke ruang penyiksaan. Bukannya bersikap bodoh atau apa, karena jika sampai Masako mendapat masalah maka otomatis keluarga Shimura juga akan mendapat masalah. Itu sebabnya kali ini Shin akan berbaik hati menyelesaikan masalah yang dibuat oleh sepupunya itu.