The Great Princess

The Great Princess
Ep. 36



Di markas para ksatria, tengah diadakan pesta besar untuk merayakan kemenangan mereka. Ryuichi selaku Jendral Besar mengangkat dan menaikkan bendera Serigala Putih sebagai bukti pengakuan bahwa mereka bukan lagi ksatria rendahan. Membuat seluruh pasukan kesatuan Sawamura bersorak gembira. Bahkan kini seluruh Kapten Ksatria menerima kenaikan mereka tanpa melayangkan protes.


Para Kapten minum bersama. Daiki menuangkan arak untuk Ukai sebagai ucapan selamat. Namun, Ukai hanya terdiam seolah kemenangannya adalah sesuatu yang semu karena ia baru saja kehilangan seseorang yang berharga.


"Jangan khawatir mereka berdua pasti bahagia disana." Kata Daiki mencoba menguatkan Ukai yang terlihat sangat terpukul karena kehilangan 2 orang berharganya.


Ukai hanya menatap Daiki tanpa ekspresi, seolah ucapan Daiki sama sekali tak membuat kekalutannya berkurang sedikitpun.


"Tak apa Ukai. Kami mengerti, kau tahu mungkin ini sedikit kejam tapi ketahuilah ini adalah perang. Jika kau ingin hidup maka kau harus mau membunuh. Dan jika kau tak bisa melawan maka kematian adalah lawan. Kau hanya kehilangan dua orang tapi kami sudah kehilangan lebih dari itu." Ucap Keito panjang lebar, mencoba mengambil perhatian Ukai agar terlepas dari belenggu penyesalan.


Ukai nampak termangu, mencoba mencerna ucapan Keito dengan baik. Dan sejurus kemudian dia tersenyum kecil. "Kau benar. Ayo, bersulang!" Kata Ukai dengan suara serak.


Semua Kapten Ksatria mengangkat gelas mereka dan bersulang kemudian. Tooru yang melihat Ukai yang semakin akrab dengan Kapten yang lain sedikit canggung saat ia juga ikut mengangkat gelasnya.


"Begitu lebih baik." Celetuk Daiki saat melihat Tooru yang nampak sekali kecanggungan-nya.


Tooru berdeham kecil untuk membersihkan tenggorokannya, "Te..tentu saja. Ki..kita saudara." Jawabnya tergagap karena gugup.


"Benarkah? Bukankah waktu itu kau sangat ingin menghukum mereka?" Sindir Daiki dengan senyum manis yang mencapai matanya.


"Ya, tapi kau yang memulainya." Ucap Tooru mengembalikan ucapan Daiki.


"Ak-"


"Cukup! Bisakah kita tidak membahas yang telah lalu?!" Ucapan dingin dan datar milik Mitsuki berhasil membuat keduanya bungkam.


Kemudian Mitsuki mendekati Ukai dan kembali menuangkan arak untuk bersulang. Dan malam itu mereka melepaskan segala beban dengan arak sebagai pelarian hingga pagi tiba.


.


.


Noya bertemu secara pribadi dengan Ukai saat mentari telah terik diatas kepala. Noya berterima kasih karena Ukai berhasil kembali dengan selamat. Namun, ia juga mengungkapkan kekecewaannya karena Ukai tidak menepati janjinya untuk menjaga Aika untuknya.


Noya hanya diam dengan tatapan kosong menatap Ukai yang bersujud dikakinya. Keduanya tetap dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama. Hingga Noya memutuskan melangkah pergi tanpa sudi menatap wajah Ukai barang sejenak.


oOoOoOoOoOoOoO


3 bulan kemudian...


Istana Kaguya, Negara Air


Tap..Tap..Tap..


Terdengar suara langkah kaki menggema disepanjang lorong istana. Nampak sepasang kaki yang berbalut kaos kaki putih itu melaju kesebuah Onsen di dalam kastil megah dengan nuansa Chinese yang kental.


Sreek!


Pintu Onsen digeser terdengar. Menampakkan sebuah pemandian air panas yang luas dengan beberapa kolam hangat dari yang terbesar hingga sedang didalamnya.


Langkah kaki yang tadinya hanya di depan Shoji kini mulai melangkah masuk. Mendekati satu-satunya penghuni Onsen megah itu.


"Putri!"


Seseorang yang dipanggil 'Putri' itu melirik sejenak lewat ekor matanya. Kemudian dengan acuh ia kembali memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman di dalam air.


"Kaisar dan orang-orang Anda sudah menunggu."


Gadis dengan surai emas itu membuka mata. Melirik kembali seorang pelayan yang membawakan pesan untuknya itu dengan tatapan tidak suka saat acara bersantai-nya diganggu. Namun, saat mendengar bahwa ia sedang ditunggu tak menampik bahwa ia harus segera keluar dari zona santainya itu.


"Ambilkan jubah mandiku!" Perintah gadis beriris langit itu.


Si pelayan segera melakukan apa yang diperintahkan adik dari tuannya itu. Setelah memastikan si Putri memakai jubahnya ia segera menuntun gadis itu menuju ruang pertemuan.


To be continue...