The Great Princess

The Great Princess
Ep. 37



Tuan Putri Kaguya tiba di ruang pertemuan dan mendapati tiga orang pria yang menjadi sekutunya sudah duduk manis di sana.


"Apa kau tidak punya baju bagus di sini, hingga hanya menggunakan jubah mandi saat menemui tiga pria dewasa seperti kami!?" Sindir pria uzur dengan rambut beruban runcing.


"Sayangnya aku tidak punya waktu untuk itu." Sahut gadis itu datar. Iris birunya menatap malas pria tadi.


"Kau menghabiskan waktu 3 bulan untuk berleha-leha dan kau bilang tidak punya waktu untuk sekedar menggunakan nagajuban?!" Kali ini sindiran dilayangkan oleh si pemilik kastil.


Gadis itu hanya memutar bola matanya sebagai bentuk ketidakpedulian atas sindiran-sindiran itu.


"Cukup! Bukankah kita berkumpul untuk membahas tentang Dotto?" Seruan dengan nada sing a song pria ketiga membuat seluruh penghuni ruangan itu terdiam, membenarkan ucapan serak pria itu.


"Lalu, bagaimana sekarang?" si Putri memulai sesi diskusi mereka.


"Apalagi? Tentu saja menghadiri acara pemilihan calon istri untuk Pangeran Mahkota Noya." Si pria berwajah wanita dengan rambut hitam panjang menimpali.


Pria beruban mengangguk berkali-kali, "Dan menjadikanmu calon Permaisuri masa depan." Ucapnya penuh keyakinan.


"Sudah saatnya..."


.


.


.


"-Hah~ Hah~ Hah~ Hah~" Deru nafas keras dan cepat terdengar tak beraturan keluar dari bibir seorang miko cantik bermanik emerald.


Tubuhnya dipenuhi dengan peluh yang hampir menenggelamkan kecantikannya. Mata hijaunya menyapukan pandangan keseluruhan kuil Budha tempat peristirahatannya. Setelah berhasil mengendalikan diri ia pun mulai mengingat apa yang baru saja dimimpikannya.


"Ini pertanda buruk. Aku harus segera bertemu dengan Tuan Dotto."


Tak sampai siang menjelang, ia telah sampai didepan gerbang kediaman Perdana Menteri Sawamura itu.


"Berhenti! Siapa kau?" Tanya seorang penjaga pintu gerbang pada wanita itu.


"Katakan pada Perdana Menteri, Terumi Kouka ingin bertemu." Sahut si wanita itu tenang. Dengan perlahan ia turun dari kudanya.


Si penjaga berlari masuk untuk memberitahukan kedatangan Terumi Kouka pada Dotto. Setelah menunggu beberapa menit penjaga itu kembali dan mengantar Kouka masuk kedalam kediaman Dotto.


"Ada perlu apa kau kemari?" Tanya Dotto setelah keduanya duduk nyaman di teras dan beberapa kudapan hangat dihadapan mereka.


"Aku mendapat penglihatan baru." Kata Kouka tenang sambil menyesap ocha-nya, dan mengabaikan wajah menegang Dotto.


"Apa yang kau lihat?!" Kalimat tanya bernada perintah Dotto layangkan. Nampak tidak suka dengan apa yang akan diberitakan Kouka jika sampai wanita peramal itu yang mendatanginya (karena biasanya Dotto yang minta diramal).


"Aku melihat wajah gadis itu saat dewasa." Ucap Kouka masih dengan nada tenang yang menganggumkan. Tidak terintimidasi oleh tatapan tajam Dotto yang seolah meminta ia memberi lebih banyak petunjuk.


"Jangan membuat kesabaran-ku habis, Terumi!" Seru Dotto menekan setiap perkataannya.


Kouka tersenyum miring. Entah kenapa membuat Dotto marah adalah kesenangan tersendiri baginya. Namun, ia harus sadar diri kapan waktu yang tepat untuk itu, dan sekarang bukalah waktunya.


"Gadis itu sudah menjadi gadis yang kuat. Ia cerdas seperti Ayahnya dan lincah seperti Ibunya. Gadis dengan iris biru langit dan rambut emas. Hanya itu yang kulihat." Jelas Kouka panjang lebar pada Dotto.


"Jadi benar anak itu yang akan menghancurkan tampuk kekuasaan-ku?" Tanya Dotto dengan emosi yang sudah tak dapat dibendungnya.


"Ya, dan dia sudah datang!" Ucap Kouka dengan senyum misterius diwajahnya.


To be Continue...