The Great Princess

The Great Princess
Ep. 84



Pangeran Daichi tengah tertidur pulas saat Pangeran Noya dengan keras kepala meminta untuk dibukakan pintu. Kedua Pangeran Sawamura itu kini duduk saling berhadapan dengan bibir yang masih terkunci rapat.


"Kau pasti sudah menyelidikinya!" Pangeran Noya akhirnya buka suara.


Pangeran Daichi kemudian melakukan gerakan menuang teh ke cawan. "Ya. Bahkan Kaisar dan Permaisuri ikut turun tangan." Sahutnya tenang.


"Lalu, siapa pelakunya?" Tanya Pangeran Noya dengan gigi yang bergemrutuk menahan amarah.


"Aku tak tau siapa yang mereka tuduh. Tapi, aku punya satu nama yang cukup kau kenal dalam kasus seperti ini." Jawab Pangeran Daichi penuh keyakinan.


Dalam benaknya Pangeran Noya sudah tahu nama siapa yang dipikirkan oleh Pangeran Daichi.


"Putri Masako, aku akan membuat wanita Shimura itu membayarnya!" Janji Pangeran Noya penuh tekad.


Pangeran Daichi mengingatkan, "Sebagai seorang Putra Mahkota kau harus bersikap tenang menghadapi semua ini Pangeran, atau kau akan semakin kalah jika terlalu gegabah."


Pangeran Noya sedikit mengontrol amarahnya. "Apa yang harus kulakukan?" Tanyanya kemudian.


"Singkirkan Dotto secepatnya! Lewat Udon." Usul Pangeran Daichi.


Pangeran Noya menggeleng kecil, "Putri Aika berdo'a dan berpuasa untuk kesehatan anak itu. Sebaiknya kita tak menggunakannya dalam rencana kali ini, atau bisa dipastikan ia akan mengamuk." Kekehnya sedikit membuat candaan.


Pangeran Daichi justru menatap prihatin. "Lalu apa rencanamu?" Tanyanya.


Pangeran Noya lama terdiam dan Pangeran Daichi masih dengan setia menunggu.


"Menikahlah lagi dan jadikan Putri Masako sebagai selir tingkat 5. Gantikan sementara posisiku sebagai Pangeran Mahkota. Setelah aku dan Aika kembali memiliki pewaris. Kau harus mengembalikan posisi itu padaku!" Pangeran Noya menyampaikan rencananya.


Pangeran Daichi terdiam, berpikir. Ia kemudian mengangguk setuju. "Gadis mana yang ingin kau nikahkan denganku?" Tanya Pangeran Daichi.


Pangeran Noya hanya menyeringai sebagai jawaban.


*


*


*


Istana Kaguya, Negara Air


Wush~


Hembusan angin meniup pori-pori tubuhnya. Menjadikannya hawa dingin yang tak biasa. Menghantarkan sebuah firasat buruk pada relung hatinya.


"Apa yang terjadi, Hiruko? Aku mendapat firasat buruk tentang keadaan Aika-ku!" Ucapnya pada sang suami yang setia menemaninya di dekat perapian sana.


"Apa perlu aku memanggil Yugao kemari?" Tanyanya meminta pendapat.


Reiko menatap suaminya itu dengan kekhawatiran yang terpancar di bola matanya. Ia dengan yakin mengangguk dan seorang prajurit memanggil seorang Miko bernama Yugao itu di tengah malam.


Yugao tiba tak berapa lama kemudian. Ia adalah Miko kepercayaan Reiko sejak lama. Ramalannya selalu tepat dan Yugao selalu dapat menemukan solusi untuknya.


Yugao meramalkan apa yang diminta Reiko. Ia menceritakan kejadian di Kerajaan Sawamura pada kedua penguasa Negara Air itu. Reiko hampir jatuh pingsan mendengarnya. Namun Hiruko siaga dan menopang tubuh limbung itu dengan segera.


"Aku melihat takdir yang lain, Raja. Putrimu akan segera menemui takdirnya. Ini hanya pengorbanan kecil yang harus dilaluinya." Jelas Yugao.


"Dan juga, sangat disayangkan ia hanya sebatas mendapat gelar Putri. Ia tak akan menduduki kursi seorang Permaisuri. Itulah takdirnya." Sambung Yugao lagi.


Hiruko nampak tak berminat. "Untuk apa Putriku harus menjadi Permaisuri? Ia telah menjadi Ratu di Negara Matahari -negara ciptaan Aika bersama sekutunya. Ia tak harus menjadi Permaisuri juga di Negara Api!" Sahutnya santai.


Yugao nampak berkerut. "Apa ia telah membangun kekaisarannya sendiri?" Tanyanya.


Hiruko mengangguk membenarkan. "Kerajaan itu dipimpin oleh Pangeran Akashi untuk sementara saat ini." Jelasnya.


"Negara Matahari yang terkenal dengan kekuatan tempurnya, bahkan kerajaan itu memiliki pasukan terbanyak di seluruh Dinasti ini. Tak ku sangka gadis nakal itu sudah mempersiapkannya hingga sejauh ini." Yugao kembali menyimpulkan dengan kekehan bangga.


"Apa putrimu berniat menaklukan dunia?" Tanya Yugao tak menutupi nada ingin tahunya.


"Putriku telah berkeliling hampir ke seluruh dunia dulunya. Ia bahkan bekerja sama dengan orang-orang dari Negara Korea, China, bahkan Rusia waktu usianya 6 tahun. Aku tak lagi terkejut jika ia meluncurkan buku-buku perdagangan serta laporan persenjataan saat usianya 10 tahun kala itu." Pamer Hiruko bangga.


Yugao dapat melihatnya dengan jelas. Aika adalah gadis dengan ramalan terbaik dalam perjalanan hidupnya. Gadis itu jugalah yang akan merubah Jepang menjadi satu Kerajaan saja suatu hari nanti.


"Baiklah, aku sebaiknya kembali. Anda tak perlu khawatir. Aku akan selalu melindunginya dengan kekuatan spiritualku." Janji Yugao yang kemudian kembali dihantar pulang.


Hiruko membawa Reiko ke kamar mereka. Ia sendiri tiba-tiba berfikir untuk apa pembalasan dendam ini putrinya lakukan? Kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan telah digenggamnya, namun hal itu tak membuatnya berhenti dari ambisi besarnya.


Hiruko harus mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan Aika dan membicarakan hal ini padanya. Ia tak ingin ambisi besar putri tersayangnya itu menghancurkan dirinya sendiri suatu hari nanti.