
Kerajaan Sawamura
Didalam istana (lebih tepatnya bagian kuil istana) Dotto ingin mengadakan upacara untuk Menteri Nara yang diperkirakan sudah mati, atau bisa dikata Dotto berdoa agar Menteri Nara tidak perlu kembali dan ia bisa leluasa menguasai Pemerintahan.
"Bagaimana jika mereka masih hidup?" Tanya Daichi berani dengan mata nyalang melirik Dotto.
"Apa yang menjadi keinginanmu, Pangeran?!" Tantang Dotto tak kalah berani menatap Daichi.
"Aku ingin ada perubahan pada susunan para Menteri Sawamura." Kali ini suara Pangeran Noya ikut menyahuti tantangan Dotto.
Noya melirik Daichi sejenak dan mendapatkan anggukan dari si empunya. Sedang Dotto hanya menatap tenang kedua orang yang tidak akan pernah sebanding dengannya itu dengan pandangan mencemooh.
"Sesuai dengan keinginan Anda, Pangeran Mahkota."
.
.
Chuubu, Perbatasan Utara Sawamura
Ukai, Daiki, dan Tooru beserta kesatuan mereka masih berjuang untuk menyelamatkan diri dan berjuang untuk dapat kembali ke Kerajaan Sawamura. Namun, sialnya ditengah perjuangan, mereka kembali dikepung oleh beberapa musuh yang masih tersisa.
"Oh, sial! Tidak bisakah kita dibiarkan lewat?!" Gerutu Tooru ditengah kepungan para musuh.
"Kapten, haruskah kami membukakan jalan?" Usul Aika menatap Ukai.
Ukai balas menatap Aika skeptis, nampak menimang usulan itu. Ukai hendak membuka mulutnya, namun sela ucapan Tooru telah mendahului.
"Cih! Apa kau mencoba mencari muka, Pengkhianat!?" Desis Tooru dingin dengan tatapan tajam mengarah pada Aika.
"Kau seharusnya sudah dihukum mati saat ini, karena telah berani menentang peraturan." Lanjutnya masih dengan intonasi dan ekspresi yang sama.
"Cukup, Tooru!" Kata Daiki membela Aika. Sejak ucapan dan tindakan sebelumnya, Daiki sedikit merubah cara pandangnya terhadap ksatria bertubuh mungil itu.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau membelanya, Dai!?" Ucap Tooru dengan nada tak percaya saat menatap Daiki yang dipapah-nya.
"Aku mohon, Senior. Bisakah kau tidak mempermasalahkan hal ini untuk sekarang?" Pinta Ukai dengan wajah penuh permohonan pada Tooru.
Tooru mendengus keras dan memalingkan wajah kearah lain saat melihat kroni Serigala Putih juga ikut memohon untuk Aika.
"Sebagai gantinya kami kroni Serigala Putih memutuskan keluar dari kesatuan dan memilih bertempur (menjadi umpan) sebagai ganti nyawa Aika." Tawar Ukai, mengembalikan kembali tanda kepemimpinan dan juga ikat kepalanya dan anggota pasukannya pada Daiki -yang artinya jika nanti Ukai dan kroninya mati dalam peperangan itu adalah tanda bukti kesetiaan mereka hingga kematian mendatang.
"Baiklah!" Putus Tooru akhirnya. Membuat seluruh kroni Serigala Putih tersenyum senang karena tidak akan ada lagi korban dari kroninya. Namun, sebagai gantinya mereka akan bertarung hingga titik darah penghabisan.
"Berjuanglah! Kami akan mendoakan agar kalian cepat kembali." Ucap Daiki memberi semangat. Setelahnya kesatuan terpecah dan hanya menyisakan kroni Serigala Putih di medan pertempuran. Dan pertarungan diantara kedua kubu kembali dimulai.
.
.
.
5 hari kemudian...
Jendral Besar Ryuichi, Kapten Ksatria Mitsuki, dan Kapten Ksatria Shouta menunggu kedatangan sisa ksatria (dari Chuubu) di gerbang utama Sawamura. Mereka menunggu dengan tidak sabarnya sebab pasukan utama (yang dipimpin oleh Menteri Nara) sudah datang tiga hari yang lalu. Sedangkan untuk pasukan yang ditugaskan di Desa Bulan sudah kembali lima hari sebelumnya.
"Jendral! Ada yang datang!"
Teriakkan salah seorang prajurit mengalihkan perhatian ketiga orang itu untuk menengok ke depan gerbang. Mereka sedikit terperanjat saat melihat siapa yang berada di sana. Terlihat hanya ada Tooru yang memapah Daiki dan juga tiga ksatria pendamping dibelakangnya.
Apa hanya mereka yang selamat? pikir ketiganya kompak. Ryuichi mengambil inisiatif untuk menghampiri mereka lebih dulu. Ryuichi memerintahkan keduanya dibawa segera untuk mendapatkan pertolongan.
Sesampainya di barak pengobatan, beberapa Kapten ksatria mengunjungi mereka.
"Kalian berhasil selamat. Kalian adalah pahlawan!" Puji Chojuro pada Tooru dan Daiki.
"Apa ada pasukan ksatria yang datang setelah kami?" Tanya Daiki mengabaikan ucapan Chojuro sebelumnya.
Chojuro nampak mengernyitkan alis, "Apa masih ada yang selamat?" Tanyanya terdengar kebingungan.
"Tapi, kalianlah yang terakhir kali datang." Sahut Mitsuki tenang.
"Lalu, bagaimana dengan Ukai dan kroninya? Bukankah kalian satu kesatuan?" Kali ini suara Shouta yang menyahut.
Daiki mengangguk, "Ya, tapi mereka memisahkan diri dan memilih menjadi umpan agar kami bisa kembali." Katanya dengan nada aneh bahkan untuk pendengarannya sendiri.
Para ksatria lain saling bertukar pandangan. Apa mungkin ksatria baru itu akan gugur di medan pertempuran mengingat ini merupakan pertempuran pertama mereka.
"Jangan khawatir-
To be Continue...