The Great Princess

The Great Princess
Ep. 53



Aika membawa langkahnya menuju lapangan latihan para ksatria. Niat awal ingin bertemu dengan rekan timnya sedikit diurungkan ketika netra sapphire-nya menangkap siluet kedelapan pangeran. Mereka berdelapan tengah berkumpul dan sedang melakukan latih tanding -begitulah kira-kira yang Aika tangkap.


Menilik kesudut lain -sedikit agak jauh, disebuah gazebo ada kumpulan Permaisuri dari ketiga kerajaan tengah berbincang ditemani ocha dan beberapa camilan. Menelusuri sudut lainnya, ada empat orang Raja yang sedang beradu pedang dan terkadang bersenda gurau.


"Bukan waktu yang tepat!" Gumam Aika pelan, mengurungkan niat menyapa rekan-rekannya. Aika berbalik, namun langkahnya segera terhenti oleh sebuah suara.


"AAAIIIIKKAAAAAAA!!!"


Sebuah suara lantang sontak membuat tubuh Aika kembali berbalik. Bodoh! Gerutu Aika dalam hati. Gerutuannya berubah menjadi mata terbelalak lebar ketika tubuhnya di tubruk oleh suara yang menginterupsinya tadi hingga hampir limbung.


"Ugh! Se..sak, Kou!" Ucap Aika susah payah karena sesak yang diakibatkan oleh pelukan erat Kou -mantan teman ksatrianya dulu.


"Aikaaaa!!" Panggil Kou dramatis. Semakin mengetatkan intensitas pelukannya.


"Ugh! Hah~ le..pashh, Koo..uhhh~" Pinta Aika sembari memukul lengan Kou pelan. Oh ayolah, Aika hanya merasakan aura-aura suram disekitarnya dan ia berusaha menyelamatkan Kou dari nasib naasnya nanti.


Nihil. Kou bergeming. Sampai suara langkah lain mendekat terdengar di gendang telinga Aika.


"Oi! Kou! Oi!" Panggil Kiyoshi (yang baru tiba) menarik ringan baju ksatria Kou.


"Iisssh~ KOU!" Teriak Kiyoshi sembari menarik Kou dan hampir membuat pria bertato segitiga itu terjungkal tidak etis.


"Hey! Apa-apaan kau, Kiyoshi?!" Protes Kou tidak terima acara reuninya diganggu. Bahkan ia hampir terjungkal tadi.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Suara batuk Aika berhasil menarik atensi Kou dan Kiyoshi yang hampir saling melayangkan pukulan itu. Dan keduanya sontak menoleh kearah Aika yang bernafas tersenggal sambil memegangi dadanya.


"Ai- Pu..Putri kau tidak apa-apa?" Tanya Kiyoshi khawatir, ia membawa tubuhnya mendekati Aika setelah melepaskan cekalan tangan Kao pada kerah bajunya.


"Ai-"


"Berhenti, Kou!" Sergah Kiyoshi sembari merentangkan sebelah tangannya agar Kou tak lagi mendekati Aika.


Kou menatap bingung Kiyoshi yang memberi isyarat mata padanya. Seolah mengerti Kou segera mengikuti arah lirikan Kiyoshi dan terkejut mendapati seluruh pasang mata tengah memperhatikan mereka saat ini.


Kou menatap Aika memelas. Ia merasa ingin di telan bumi saat itu juga jika perlu. Kondisi Kou semakin terpuruk tatkala Kiyoshi semakin memanasi keadaan dengan menepuk bahunya prihatin.


"Aika, tolong!" Cicit Kou hampir tak terdengar. Wajahnya sudah seperti anjing liar yang minta di pungut. Wajah Kou semakin pucat saat di rasanya ada sebuah aura membunuh yang berjalan menuju kearahnya.


"Pergilah!" Suruh Aika pada Kou dan Kiyoshi. Tanpa di suruh dua kali Kou langsung lari terbirit-birit dan meninggalkan Kiyoshi dibelakangnya.


Tak lama setelah Kou dan Kiyoshi pergi, Pangeran Noya datang untuk mengejar keduanya, namun tangannya segera di cekal oleh Aika.


"Mau kemana, Pangeran?" Tanya Aika setelah berhasil menghentikan langkah Pangeran Noya.


Pangeran Noya melirik tajam, "Lepas!" Suaranya terdengar dingin dan dalam.


"Aku baik-baik saja!" Sahut Aika menenangkan, ia mengelus lembut lengan Pangeran Noya berkali-kali.


"Kau tidak apa-apa, Putri Aika?" Kali ini suara Pangeran Akashi yang terdengar khawatir. Ia meneliti setiap jengkal tubuh adik angkatnya itu dengan raut cemas.


"Lancang sekali mereka!" Pangeran Akira ikut menimpal geram.


"Sudahlah, aku baik-baik saja!" Sahut Aika dengan senyum menenangkan, ia tak terbiasa dimanjakan oleh banyak (delapan) pria sekaligus.


"Baik-baik saja apanya?! Kau bahkan sesak nafas tadi." Pangeran Riyu semakin memanasi keadaan.


"Aku mohon kalian semua! Jangan membuat para Permaisuri dan Kaisar khawatir!" Pinta Aika sembari memberi isyarat mata pada arah datangnya ketiga Permaisuri dan keempat Kaisar.


Nihil. Suara Aika hanya di anggap angin lalu oleh kedelapan pria di depannya.  Mereka semakin gencar mengatakan sesuatu yang Aika tidak tahu apa itu, karena kini atensinya berpindah pada mata hitam yang sedang menatapnya dengan sorot makna yang sulit Aika mengerti.


Dari kejauhan nampak Kin yang entah berapa lama berada di sana tengah memperhatikan Aika dengan intens. Di dalam mata hitam itu Aika melihat perasaan iri atau-


Cemburu? Entahlah, karena Kin mendadak memutar langkah dan menjauhi arena pelatihan.


Di sudut lain, ternyata Putri Masako juga melihat pemandangan yang menurutnya menjijikkan itu. Namun, entah mengapa hatinya ikut merasa -entahlah ia sendiri sulit menafsirkannya. Ia tak pernah diperlakukan spesial seperti itu dan itu semakin menjadi pupuk dendam bagi Putri Masako.