
Sesuai dugaan, Aika memang berada di sungai saat ini. Ia sedang bersantai di bawah pohon setelah membasuh wajah dan sedikit mengambil air untuk diminumnya ketika sebuah langkah mendekatinya.
"Sedang apa anda disini?" Aika menjadi orang pertama yang membuka mulut.
Hening. Hanya ada desahan angin yang berhembus sepoi-sepoi yang menjawab suara merdu milik Putri Kerajaan Sawamura itu.
Tak jauh dari kedua insan berbeda gender tersebut, Putri Masako bersembunyi di balik semak (bagian barat sungai) dengan seringai mengerikan di wajahnya.
Disisi lain (bagian selatan sungai) tenyata Pangeran Akashi dan Kapten Mitsuki juga berada disana setelah melihat Putri Masako yang mengikuti Aika saat keduanya sedang berburu tadi.
Sedang Pangeran Noya beserta ketujuh pangeran yang baru datang mengambil tempat di bagian timur sungai. Mereka tengah sibuk mencuri dengar apa yang kedua anak adam itu lakukan disana.
"Dengarkanlah ceritaku... Dengarkanlah, tetapi jangan kasihani aku, karena rasa kasihan mengundang kelemahan..." Pangeran Kenma memecah keheningan panjang keduanya.
"..."
"...Sejak masa mudaku, aku sering didatangi oleh seorang wanita aneh, baik saat aku terjaga maupun tidur..."
"..."
"...Setiap saat ia datang ke kamarku, saat aku gelisah dan susah. Kemudian seluruh kecemasan dan kesusahan itu berubah menjadi kesenangan dan ketenangan." Pangeran Kenma berhenti sejenak. Menunggu reaksi yang akan Aika berikan. Diam, Aika hanya membisu di tempatnya.
"..."
"Lima tahun yang lalu, Seorang Kaisar Desa Rumput mengutusku ke Beijing untuk sebuah perjalanan menuntut ilmu. Aku meninggalkan Negara Bumi dengan sebuah kapal China, meninggalkan pula seorang kekasih yang mengisi seluruh hati dan pikiranku..."
"..."
"...Bagaimana harus kugambarkan padamu tentang kesedihan yang kurasakan selama perjalanan itu? Kata-kata tidak akan cukup untuk menjelaskan perasaan terdalam hati manusia." Jeda sejenak, Pangeran Kenma menarik nafas panjang untuk meloloskan rasa pahit dalam hatinya.
"..."
"Tiga tahun setelahnya. Untuk pertama kalinya di tengah malam aku merasakan kepahitan yang bersembunyi di dasar cangkir Kesenanganku..." jeda lagi, Pangeran Kenma tersenyum pahit kala matanya menerawang jauh.
"Kekasihku, dia datang dengan wajahnya yang terdapat tanda-tanda kesedihan dan kesakitan, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sambil berbicara lembut dengan nada sedih, dia berkata 'Aku datang dari kedalaman samudra untuk melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Sekarang kembalilah, lalu tidurlah dan bermimpilah'-"
"-Pangeran Kenma!" Panggil Aika dengan suara aneh, bahkan untuk pendengarannya sendiri. "Dengarkanlah ceritaku, Dengarkanlah, tetapi jangan kasihani aku, karena rasa kasihan mengundang kelemahan -padahal aku masih kuat dalam penderitaanku."
"..."
"..."
"...Dia selalu bersamaku selama tiga hari penuh kesenangan yang kulalui di Dunia, menjelajahi kota denganku, ikut berhenti di mana aku berhenti, dan dia tersenyum ketika seorang teman menyapaku." Aika menjeda ucapannya, entah mengapa mata dan hatinya memanas hingga lelehan airmata tak lagi dapat dibendungnya.
"..."
"Tetapi, ketika aku ingin menemuinya dengan kapal China menuju Beijing, perubahan besar telah menyapuku. Aku merasakan hantaman batu menghancurkanku dan membuat patahan hatiku tercecer tak lagi berbentuk..."
"..."
Aika bersusah payah mengendalikan suara yang mulai terdengar menyayat nadinya sendiri kala kembali membuka luka lamanya. Isakkan tak lagi ditahannya, pertahanannya roboh tak berbentuk. Aika hancur untuk yang kedua kalinya.
"...Kekasihku, dia bertelanjang busana di depan mataku menggerayangi wanita tak berbusana lainnya dan bersenggama tepat di bawah hidungku."
Pecah, Aika tak lagi bisa menahan dirinya. Emosinya melalang buana menghancurkan segala pertahanannya. Aika meraung, menangis sejadi-jadinya dihadapan mantan kekasihnya, Pangeran Kenma.
"Putri Aika!" Panggil Pangeran Kenma mencoba mendekap Aika yang menangis keras.
"Le..pas..! Lep..as..!" Tolak Aika mencoba menjauhkan diri dari kungkungan Pangeran Kenma. Nihil, tubuhnya mendadak lemah tak bertenaga di bawah pelukan hangat milik mantan kekasihnya itu.
Di balik semak, Pangeran Noya yang mendengar keseluruhan fakta yang baru diketahuinya, mendadak merasa geram, marah, murka, dan masih banyak macam emosi negatif yang bercampur di dalam benaknya karena wanitanya disakiti sekejam itu.
"Tenanglah, Pangeran!" Pangeran Daichi menahan bahu Pangeran Noya yang hendak beranjak untuk melayangkan "hukuman kematian" pada Pangeran Kenma.
"Apa yang akan Putri Aika pikirkan jika tahu kita mencuri dengar?" Tambahnya mencoba menenangkan.
"Ada waktu untuk memberi pelajaran pada Pangeran Brengs*k itu. Tapi, bukan sekarang saat ada Putri Aika disana, Pangeran Noya." Pangeran Akira ikut menimpali, entah kenapa ia juga ikut merasa geram, malah lebih emosi dari Pangeran Noya mungkin.
Pangeran Rei dan Pangeran Ren mengangguk setuju, keduanya mencoba menenangkan Pangeran Noya dengan usapan lembut pada punggung dan bahunya.
Dibagian semak yang lain, Pangeran Akashi tak kalah murkanya saat adik kesayangannya ternyata disakiti hingga begitu dalamnya. Pangeran Akashi sama sekali tak tahu jika hubungan adiknya dengan Pangeran Kenma kandas karena adanya faktor perselingkuhan seperti ini. Karena saat itu Aika hanya mengatakan bahwa Pangeran Kenma harus tetap tinggal di Beijing dan itu sebabnya hubungan keduanya harus usai.
Beruntung ada Kapten Mitsuki yang ikut mencekal tubuh si sulung Kaguya itu, karena jika tidak, maka akan terjadi perang antara Negara Air dan Bumi saat itu juga.
Lalu, bagimana dengan Putri Masako? Tentu dialah wanita psycho yang akan tertawa paling keras dalam hal ini. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat Aika semakin hancur setelahnya.