
Di hari berikutnya hingga hari pemilihan, para gadis itu dengan sukarela memakan pemberian dari Putri Masako. Yang tentu saja dibumbui dengan obat kemandulan didalamnya. Mereka tidak lagi menaruh curiga karena memang tidak ada efek apapun setelah mereka memakan ataupun meminum masakan istana tersebut. Toh, jika mereka tidak mau, mereka tentu akan kelaparan atau yang lebih parah adalah mendapat cambukan lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Pintu ruangan khusus para gadis dibuka, seorang pelayan melenggang masuk dan berjalan menuju Putri Masako yang duduk di kursi paling ujung ruangan.
"Putri, Permaisuri meminta para gadis untuk bersiap!"
Putri Masako tersenyum manis, "Tentu, pergilah!" Ucapnya dengan suara mendayu tak kalah manisnya.
Si pelayan membungkuk, kemudian melangkah keluar.
"Sudah waktunya! Kalian bersiaplah, aku menunggu kalian di aula istana." Kata Putri Masako ringan, matanya menatap satu persatu mata yang memandangnya.
Putri Masako melangkah pergi setelah mendapat anggukan dan bungkukkan hormat dari para gadis itu.
.
.
.
Sebuah kereta kuda baru saja melewati gerbang utama menuju Istana Sawamura dan berhenti tepat di depan pintu masuk Istana terbesar di Negara Api itu.
Seorang gadis mengintip malu-malu lewat jendela kecil dari dalam kereta yang telah membawanya hampir satu Minggu lamanya.
Mata indahnya meneliti setiap sudut istana megah itu dengan pandangan rindu seolah lama waktunya ia tak menjamahkan kedua kakinya di dalam sana.
"Kau tidak keluar?"
Tak ada sahutan, bibir dengan gincu peach itu tertutup rapat. Mengabaikan atensi pria yang juga telah satu Minggu duduk bersamanya.
"Aku harap kau tidak akan menyesal."
Gadis bersurai emas itu menutup jendelanya dengan pelan, kemudian dengan anggun menoleh menatap wajah pria disampingnya.
"Tidak akan!" Ucapnya penuh keyakinan diiringi senyum manis.
"Begitu kau melangkahkan kakimu ke sana, tidak ada jalan untuk kembali."
Si gadis tetap mempertahankan senyumnya, namun kali ini tatapannya ia bawa kembali keluar jendela. "Aku tidak akan menyesal!" Ucapnya dengan keyakinan yang sama saat ia memutuskan kembali ke istana yang hampir 3 tahun dihuninya itu.
Pria tua itu mengangguk mengerti, "Ya, karena kau adalah gadis yang diramalkan." Ucapnya lalu melangkah turun untuk membukakan pintu bagi si gadis.
Uchikake sutra dengan warna putih dengan aksen bangau bersulam emas terlihat menyembul dari pintu kereta. Sepasang kaki berbalut geta menapak indah di rerumputan hijau milik Tuan rumah Sawamura.
Beberapa pengawal ataupun penjaga pintu menunduk hormat saat melihat siapa gerangan yang menggandeng tangan gadis yang baru saja dituntunnya turun itu.
"Mulai sekarang kau akan menghadapi pertempuran yang panjang."
"Aku tahu." Jawab si gadis, saat keduanya berjalan menuju aula utama.
Si pria mengangguk, "Demi Ibumu, seluruh penduduk desa, rakyat dan demi balas dendammu." Tambah si pria.
Gadis itu tertawa kecil, "Aku tahu, Pak Tua Mesum! Ini demi Ibu-" jeda sejenak, gadis itu menggenggam erat liontin kristal sapphire-nya saat mengatakan Ibu.
.
.
.
Pangeran Noya sedang dipersiapkan saat Pangeran Daichi datang untuk menjemputnya. Namun, tidak seperti seseorang yang akan memilih pasangan sehidup semati yang akan berseri-seri bahagia. Lain cerita dengan Pangeran Noya yang justru terlihat dingin, kosong, pucat, dan aura suram yang kuat.
"Kau sudah siap, adikku?" Tanya Pangeran Daichi lembut setelah ia sampai tepat disebelah adiknya.
Hening. Pangeran Daichi menghela nafas ringan. Apa yang ia harapkan? Bukankah hampir selama 3 bulan ia selalu mendapat respon yang sama?!
"Pangeran Noya?" Panggil Pangeran Daichi kalem, memposisikan duduknya agar dapat berbicara dengan nyaman.
Pangeran Noya bergeming.
"Hah~ apa yang bisa aku lakukan untukmu, Pangeran Noya?" Tanya Pangeran Daichi putus asa. Ia menatap sendu wajah pucat dan kurus adik kesayangannya itu.
"Pangeran Noya, aku mohon jangan seperti ini!" Pinta Pangeran Daichi memelas. Ia mengarahkan tangannya untuk menggenggam tangan ringkih dan pucat itu.
"Kau bahkan tidak menepis tanganku." Ucap Pangeran Daichi dengan senyum putus asanya. Ia sengaja memancing Pangeran Noya agar bereaksi, karena Pangeran Noya paling tidak suka ada yang menyentuh dirinya. Ya, kecuali Aika seorang saja yang boleh melakukan hal itu pada Pangeran Noya.
"Kau tahu, Aika tidak akan senang melihatmu seperti ini saat ia kembali nanti." Pangeran Daichi susah payah mengendalikan gejolak dalam hatinya saat tak melihat sedikit pun cahaya kehidupan di dalam bola mata Pangeran Noya.
Pangeran Noya bereaksi, ia menggulirkan kelereng hitamnya saat mendengar nama Aika disebut. Pangeran Daichi tersenyum pahit, namun dalam hatinya ia bersorak, setidaknya Pangeran Noya masih memiliki rasa jika nama Aika yang disebut.
"Hei, Pangeran Noya!" Panggil Pangeran Daichi lagi, mencoba menarik atensi Pangeran Noya. "Kau ingat? Kau pernah mengatakan ingin menikahi Aika, bukan?"
Pangeran Noya mengangguk ringan. Pangeran Daichi semakin melebarkan senyumnya. Ia hanya perlu memberi sedikit pancingan dan kemudian mendorong Pangeran Noya untuk kembali bangkit dari rasa terpuruknya.
"Hari ini, setelah kau memilih satu calon untuk kau jadikan istri. Bukankah kau ada janji akan menikahi Aika?" Tanya Pangeran Daichi lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih menunjukkan kegembiraan karena berhasil mengambil atensi Pangeran Noya. Meski masih terlalu awal tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Flashback On :
"Beberapa bulan lagi akan ada pemilihan calon istri untukku-"
Ucapan Pangeran Noya barusan berhasil menghentikan jemari Aika yang sedang mengelus rambutnya. Pangeran Noya membuka matanya saat dirasakan tangan Aika tak lagi mengelus kepalanya.
"-dan Minggu depan Pangeran Daichi akan menikah." Lanjut Pangeran Noya lagi. Matanya menatap langsung mata biru kesukaannya. Menyalurkan isi hatinya yang belum sampai pada si pemiliknya.
"Aku berencana memilih salah satu diantara mereka-" kata Pangeran Noya sengaja menggantung ucapannya. Bermaksud melihat apa respon atau reaksi dari Aika. Nihil, Aika tetap bungkam.
"-dan kemudian melamarmu dan menjadikanmu milikku seutuhnya." Sambungan ucapan Pangeran Noya berhasil menyedot seluruh kewarasan Aika.
"Aku mencintaimu." Ucap Pangeran Noya tiba-tiba, membuat Aika semakin gila dibuatnya dan hampir mengeluarkan bola safir-nya dari tempatnya. Bahkan rahangnya bisa jatuh kelantai jika tidak ada tulang penyangga diwajahnya.
Flashback Off.
Pangeran Noya tersenyum kaku saat ingatan dimana Aika bermalam bersamanya menyeruak memenuhi isi kepalanya. Membuat hatinya memanas dan melupakan fakta bahwa Aika telah tiada saat ini.
Pangeran Daichi hanya menatap sendu senyuman itu. Meski hatinya bersorak tak menutup kemungkinan Pangeran Noya akan kembali terpuruk saat ia menyadari bahwa Aika sudah lama tiada.
"Ayo, pergi Pangeran Noya! Jangan biarkan Aika lama menunggu." Ucap Pangeran Daichi sambil menggandeng tangan Pangeran Noya. Tanpa tahu bahwa ucapannya adalah sebuah kenyataan.
Bersambung...