The Great Princess

The Great Princess
Ep. 81



Aika memulai ritual doanya. Ia duduk bersimpuh di depan sebuah patung budha dengan kedua tangan menyatu. Bibirnya tak berhenti berkomat-kamit melafalkan doa. Matanya terpejam, meresapi setiap doa yang keluar dari bibirnya.


Kesendiriannya hanya ditemani lilin-lilin yang tersebar di setiap penjuru ruangan. Pelayan serta dayang istana ia usir entah kemana. Bahkan suaminya pun tak tahu keberadaannya.


Aika menjalani ritual selama hampir 3 hari. Ia pun berpuasa dan hanya meminum seteguk air. Demi seorang anak yang Ibu serta Pamannya ia benci. Namun, hati nuraninya tak sekejam itu. Ia juga kehilangan ibunya, setidaknya berbuat baik harus menjadi dasar untuk mempertahankan rasa kemanusiaannya.


Permaisuri Chikara yang kalang kabut mendengar bahwa menantu keduanya menghilang selama hampir 5 hari mulai menggeledah seluruh isi istana atas permintaan putra kesayangannya. Sungguh hati ibu mana yang tak senang jika putranya kembali berucap dan meminta tolong padanya. Itu sebabnya Permaisuri Chikara tak akan berpikir dua kali untuk menyanggupi permintaan itu.


Permaisuri Chikara berhenti di sebuah paviliun yang dulunya adalah bekas kuil yang tempatnya kini telah berpindah. Niatnya ia ingin mencari disana, dan suatu kebetulan dapat bertemu dengan Pangeran Noya juga disana.


"Kau disini, Pangeran Mahkota?" Sapanya.


Pangeran Noya mengangguk. "Dayang Kurama bilang Putri Aika ada disini." Jelasnya singkat.


"Benarkah? Syukurlah. Kalau begitu mari masuk bersama." Dan keduanya pun masuk bersamaan.


Para pelayan dengan sigap membuka pintu shoji. Nampaklah Aika disana dengan hanya berbalut nagajuban tipis. Tengah duduk bersimpuh dengan posisi yang sama seperti 5 hari sebelumnya. Hanya saja wajahnya sedikit memucat akibat berpuasa.


*


*


*


Sementara itu di balai kesehatan, tabib mengecek kondisi Pangeran Udon yang mulai membaik. Suatu keajaiban besar, campaknya hilang dengan sendirinya. Tabib itu kemudian lari ke depan menemui Putri Masako.


"Yang Mulia!!"


Putri Masako yang duduk dengan tergesa berdiri kala tabib itu keluar dengan wajah anehnya. "Ada apa?" Tanyanya ketakutan.


"Pangeran.." ucapnya menggantung.


Putri Masako seketika bertambah takut. Ia sudah berfikir yang tidak-tidak tentang putranya. "Ada apa dengan putraku?" Tanyanya dengan suara bergetar.


Si tabib membuat suasana menjadi dramatis. "Pangeran telah sembuh, Yang Mulia." Ucapnya senang. Bukannya apa, ia pasti akan mendapat imbalan yang berlimpah karena berhasil menyembuhkan Pangeran.


Putri Masako kembali dibuat terperangah, namun wajahnya nampak cerah. "Fuen, dimana Permaisuri? Aku akan meminta berkat darinya." Ucapnya semangat karena terlalu senang.


"Beliau ada di kuil lama, Putri."


Tanpa ba-bi-bu Putri Masako bergegas ke kuil. Ia menerobos masuk dan menemukan Permaisuri Chikara dan Pangeran Noya hanya berdiri diambang pintu.


"Permaisuri, Pangeran Udon telah sembuh." Ungkapnya senang. "Ini semua berkat kemurahan hati anda. Hamba mohon berkah anda, Permaisuri."


Putri Masako kemudian melakukan sembah sujud pada Permaisuri Chikara dan mencium kedua kakinya. Permaisuri Chikara segera membangunkan Putri Masako. "Syukurlah, ini semua berkat Putri Aika juga." Ungkapnya.


Putri Masako seketika berwajah muram. "Apa maksud anda?" Tanyanya tak suka.


Permaisuri Chikara menunjuk tempat dimana Aika berdoa. Putri yang dulunya bermarga Kaguya itu telah menghentikan doanya kala pendengarannya menangkap sebuah berita yang selama beberapa hari ingin didengarnya. Ia mencoba bangkit namun tubuhnya limbung.


Pangeran Noya dengan sigap menangkapnya. "Kau tak apa?" Tanyanya khawatir.


Aika tersenyum dengan bibir pucatnya. "Hanya kesemutan." Jujurnya.


Pangeran Noya memapah Aika mendekati Permaisuri Chikara dan Putri Masako.


"Apa kau berdoa agar putraku cepat mati?!" Tuduh Putri Masako seketika.


"Itu tidak benar, Putri." Elak Aika lemah.


"Itu benar Putriku, justru Putri Aika telah berpuasa dan berdoa untuk kesembuhan Pangeran." Permaisuri Chikara bantu menjelaskan.


Namun, Putri Masako sama sekali tak percaya. Mana mungkin rivalnya itu berdoa untuk keselamatan putranya. Ia beranggapan bahwa Aika pandai mencari muka saja.


"Pangeran, bawalah Putri Aika untuk beristirahat. Putri Masako, ayo kembali untuk menengok putramu."


Pangeran Noya membaringkan tubuh lemas Aika di ranjang mereka. Ia membantu Aika melepas nagajubannya dan mengambil sebaskom air hangat untuk membersihkan tubuh Aika.


Aika menahan tangan Pangeran Noya yang hendak membasuh tubuhnya. "Panggilkan saja pelayan." Pintanya. Pangeran Noya tak menggubris dan mencekal tangan Aika agar tak menghalanginya.


Seusai membersihkan tubuh istrinya, Pangeran Noya mengambilkan kimono tidur dan memakaikannya dengan telaten. "Kenapa kau melakukannya?!" Satu kalimat tanya terucap setelah beberapa waktu hanya keheningan yang menemani.


"Tak perlu ada alasan untuk berbuat kebajikan. Bahkan seekor semut tahu membalas budi seekor burung merpati." Jawab Aika santai sembari menyamankan posisi tidurnya.


"Tapi, kau tak berhutang apapun!" Sanggah Pangeran Noya.


"Akulah yang membuat mereka berhutang padaku." Lagi-lagi Aika berujar santai.


Setelahnya tak ada lagi percakapan karena Aika telah berkelana ke alam mimpi. Pangeran Noya membereskan baskom airnya dan keluar dari kamar dengan banyak pertanyaan yang tak mendapatkan jawaban.


*


*


*


Hari demi hari berlalu dengan tenang. Pangeran Udon telah sepenuhnya pulih. Bahkan sampai saat itu pun Dotto belum menemui putranya dan hal itu membuat Putri Masako terbakar amarah dan mendatangi pamannya itu.


"Asyik bercinta, Paman!" Sindirnya yang melihat langsung sang paman sedang beradu sumo dengan 2 wanita sekaligus.


Dotto nampak acuh. Ia tak mempedulikan Putri Masako sama sekali. "Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran, Paman? Apa putraku tak lebih berarti dari wanita-wanita jalang ini?!"


Plakkk!!


Tamparan keras Dotto layangkan. "Tutup mulutmu, Masako!" Bentaknya keras.


Putri Masako menatap pamannya dengan tangan memegangi bekas tamparan. Ada apa dengan tatapan dan suara pamannya itu?


"Apa Terumi membawa ramalan buruk?"


Pertanyaan yang salah, karena Dotto seketika mencekik lehernya dan mendorongnya hingga menabrak dinding.


"Singkirkan Aika secepatnya! Kau tau dia adalah gadis dalam ramalan yang akan menghancurkan tampuk kekuasaanku!!!" Murkanya mencekik Putri Masako hingga berwajah merah padam.


Putri Masako tak dapat membalas. Nafasnya tersenggal-senggal.


"Ayah!" Beruntung Kapten Kin datang dan membebaskan Putri Masako dari waktu kematian.


"Ada apa deng-"


Ucapan Kapten Kin terhenti kala sebuah pedang mengacung disisian lehernya. "Kau mau mencuri wanitaku, ha?" Bentak Dotto lagi.


Kapten Kin dan Putri Masako saling lirik. Kapten Kin dengan berani menatap ayahnya. "Ayah sadarlah! Ini aku putramu, Kin." Ucapnya.


Dotto nampak seperti orang gila. Putri Masako dan Kapten Kin sama-sama berpikir apa yang yang sebenarnya terjadi. Namun, sebanyak apapun pertanyaan itu saling bersahutan di otak mereka, tetap saja tak ada jawaban yang didapatkan.


"Hahahahaha..." Dotto justru tertawa terbahak-bahak. Ia kemudian kembali melakukan aktifitas sumonya dihadapan kedua orang yang masih berdiri kaku itu.


Putri Masako bergegas keluar dan diikuti Kapten Kin dibelakangnya. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya pada sang sepupu.


"Aku tak tau." Balasnya acuh.


"Tuah! Ini pasti karena ilmu hitam itu." Tebak Kapten Kin. Putri Masako memasang wajah bingung, namun sejurus kemudian ia mengerti.


"Apa paman bisa kembali sadar?" Tanyanya.


Kapten Kin menggeleng tak yakin. "Aku akan mencari Terumi untuk membantu." Usulnya.


Putri Masako mengangguk setuju. Bagaimana pun ia sungguh mencintai kekasih gelapnya itu, terlepas dari sikap br*ngs*knya. Ia juga tak mungkin membiarkan pamannya mati sebelum ia menjadi permaisuri. Dan setelahnya Putri Masako kembali ke istana Sawamura sedang Kapten Kin ke kuil Terumi.