
Di tempat lain..
"Ck! Ck! Ck! Beginikah sikap seorang Pangeran!?"
Sebuah suara baritone menginterupsi kegiatan empat orang Pangeran yang sedang sibuk dengan dunianya itu. Pangeran Akira dan Pangeran Ren yang sedang bermain entah apa ikut terkejut dibuatnya. Begitupun dengan Pangeran Rei dan Pangeran Noya yang tadinya bertualang ke alam mimpi.
"Paman!" Seruan terkejut Pangeran Akira terdengar.
"Ya, aku! Apa ini yang disebut berburu? Berleha-leha hingga air liur menetes membanjiri lautan?!" Sindir Pangeran Kouji tajam, menatap garang empat Pangeran di depannya.
"Ha..ha..ha.. Ayolah, kami hanya sedang beristirahat." Kilah Pangeran Akira penuh dusta.
Pangeran Daichi dan Pangeran Riyu yang juga datang bersama Pangeran Mahkota Nakashima itu memutar bola mata bosan. Alasan klasik pikir mereka kompak.
"Ya, dan aku sedang memarahi keponakanku!" Sindir Pangeran Kouji memicing tajam ke arah Pangeran Akira.
"Ekhem.. Ekhem.. Apa yang sedang kalian lakukan disini?" Suara Pangeran Riyu terdengar, mencoba mencairkan suasana mencekam di antara mereka.
"Berburu. Apa lagi memangnya!?" Jawab Pangeran Akira santai. Tak berdosa sekalipun di tatap tajam beberapa pasang mata sekaligus.
"Dan sedikit bersantai tentu saja." Aku Pangeran Rei jujur. Yang segera disusul oleh anggukan dari Pangeran Akira, Pangeran Noya, dan Pangeran Ren.
Pangeran Daichi yang hendak membuka mulut untuk bertanya kenapa adiknya tak bersama dengan Aika harus menelan kering pertanyaannya ketika beberapa langkah kaki terdengar oleh ketujuh pangeran itu.
"Mau kemana mereka?"
"Bukankah mereka pasukan yang berburu bersama Pangeran Kenma." Celetuk Pangeran Ren menjawab pertanyaan Pangeran Riyu.
"Ya, tapi untuk apa pasukan tambahan itu? Apa terjadi se-"
"Ssstt..!! Diamlah, Riyu!" Potong Pangeran Daichi saat dua orang ksatria yang tertinggal di belakang melewati tempat persembunyian mereka.
"Ada apa sebenarnya?" Suara ksatria pertama terdengar.
"Aku hanya mendengar jika Pangeran Kenma meminta bantuan." Si ksatria kedua menjawab.
"Apa sesuatu terjadi padanya?"
"Entahlah, Kapten Ukai tak mengatakan apapun."
"Hei! Sedang apa kalian disana? Cepat ke belakang air terjun!" Entah darimana datangnya suara ksatria ketiga muncul menginterupsi kedua ksatria yang tertinggal itu.
Kedua ksatria itu mengangguk, "Baik!" Jawab keduanya kompak, mereka bergegas bergabung dengan ksatria ketiga dan bergegas menuju belakang air terjun.
"Apa ada masalah besar disana hingga Pangeran Bumi itu meminta banyak bantuan?" Pangeran Riyu kembali melayangkan tanya setelah ksatria-ksatria tadi pergi.
"Ck! Manja sekali dia." Cemooh Pangeran Akira tersenyum geli.
"Ssstt...!! Ada yang datang lagi!" Giliran Pangeran Rei yang mengeluarkan suara.
"Dayang Kurama, kemana kita akan mencari Putri Aika?" Tanya Ayame yang berjalan bersisian dengan Dayang Yui.
"Apa dia juga berada di belakang air terjun?"
Dayang Yui menggeleng, "Tidak! Aku rasa ia berada di tempat yang berbeda."
"Berbeda? Di mana? Apakah di sungai?" Celetuk Ayame asal.
Dayang Yui menghentikan langkah. Ia mencerna ucapan asal Ayame ke dalam otaknya dan menemukan suatu kejanggalan disana.
"Ayame, arah sungai! Apa itu berlawanan arah dengan air terjun?" Tanya Dayang Yui mulai merangkai sugestinya.
Ayame ikut menghentikan langkah, mengernyit saat mendengar pertanyaan yang tiba-tiba berganti topik dengan arah sungai. "Ya, kurasa. Air terjun sangat jauh dari sungai. Air terjun ke arah sana (Utara) sedang sungai kesana (Selatan)."
Dayang Yui terdiam, tak berselang lama wajah aneh dari Dayang Yui memenuhi indra penglihatan Ayame yang semakin berkerut bingung. "Ada a-"
"Gawat!" Seru Dayang Yui tiba-tiba. Sukses merubah wajah bingung Ayame menjadi sedikit khawatir.
"Pangeran Bumi itu sengaja membuat para pasukan pergi ke arah air terjun!" Ungkap Dayang Yui tidak jelas.
"Aku tidak mengerti untuk apa dia melakukannya?"
"Menurutmu apa yang direncanakannya dengan meminta para ksatria pergi ke belakang air terjun?" Tanya Dayang Yui menatap Ayame yang menggeleng tidak mengerti.
"Dia berusaha mengecoh para ksatria dan dia pergi ke arah sebaliknya-" Dayang Yui menggantung ucapannya hanya untuk melihat reaksi bingung yang semakin bertambah bingung milik Ayame.
"-Putri Aika, dia mencoba melakukan sesuatu padanya! Kau ingat ucapan Putri sesaat sebelum ia pergi dari tenda?"
"Aku akan pergi ke sungai siang nanti. Jika aku belum kembali jangan khawatirkan aku, karena Pangeran Mahkota Nishinoya bersamaku. Atau cari saja aku disana jika kalian membutuhkan sesuatu!" Ucap Ayame dan Dayang Yui berbarengan, menirukan pesan Aika pagi tadi.
"Apa dia mendengarnya?" Ayame mulai gelisah dengan sugesti mereka.
"Entahlah, bagaimana jika kita memastikannya?!" Usul Dayang Yui menenangkan Ayame. Dayang Yui menarik Ayame ke arah selatan di mana sungai berada.
"Tu-tunggu! Apa kita tidak perlu memberitahu Pangeran Mahkota?" Ucap Ayame takut-takut, ayolah ia hanya merasa kalau tidak ada gunanya jika hanya mereka berdua yang pergi dan tak dapat melakukan apapun jika terjadi sesuatu nantinya.
"Apa kita punya waktu?" Dayang Yui melirik tajam Ayame. Ayame menggeleng pasrah. "Ayo pergi sebelum sesuatu yang buruk terjadi!" Putusnya kemudian melanjutkan langkah menuju tujuan awal.
Hening. Tak ada lagi suara yang mengisi hutan di tempat perburuan siang itu. Sampai..
"Pangeran Noya!"
Panggilan Pangeran Daichi sontak menghentikan langkah buru-buru milik Pangeran Noya. "Jangan gegabah, bisa saja mereka salah mensugestikan hal ini!" Ucap Pangeran Daichi menenangkan.
"Aku akan pergi untuk memastikannya!" Putus Pangeran Noya setelah diam untuk berpikir.
"Kalau begitu kami ikut!" Usul Pangeran Rei, sedikit khawatir jika sugesti itu benar dan Pangeran Noya kehilangan kendali dan membuat perang besar antara Negara Api dengan Negara Bumi.
Pangeran Noya mengangguk setuju, dan ketujuh pangeran itu pergi ke arah sungai untuk memastikan rencana busuk apa yang Pangeran Bumi itu lakukan.