The Great Princess

The Great Princess
Ep. 77



Tak sampai 10 menit keduanya telah sampai di tempat perjamuan yang penuh sesak oleh ketiga keluarga besar. Tak lupa keluarga Shimura juga ikut ambil tempat di sana.


Semua mata tertuju pada Pangeran Noya dan Putri Aika yang berjalan sambil bergandengan tangan saat memasuki ruangan perjamuan. Mereka bahkan belum menyadari jika menantu kedua Sawamura berwajah pucat kala itu. Sepanjang perjamuan semuanya berjalan cukup lancar. Semua orang saling bercakap dan belum menyadari tindak tanduk Aika yang menahan sakitnya.


Namun, sesuai rencana Putri Masako yang sejak awal sudah merasa senang dengan sakitnya Aika atas perbuatannya, semakin memikirkan cara bagaimana membuat Aika mati lebih cepat.


"Bagaimana keadaanmu, Putri? Aku tak melihatmu saat acara perkenalan Pangeran Udon. Apa kau baik-baik saja?" Putri Masako memulai sandiwaranya.


"Aku baik," Balas Aika datar dengan suara pelan, kentara sekali jika ia tengah menahan sakit.


"Benarkah?! Tapi sepertinya tubuhmu mengatakan yang sebaliknya." Ucap Putri Masako berpura-pura perhatian. Bahkan mimik kasihan ia pasang baik-baik.


"Kau terlihat pucat dan tubuhmu juga kurus. Apa kau tidak bisa tidur? Mintalah obat pada tabib agar tidurmu nyenyak." Saran Putri Masako dengan penuh pengertian.


Diam-diam Aika mendapat genggaman lembut ditangannya oleh Pangeran Noya. Pria Sawamura itu memberikan isyarat bahwa kuat dugaan sudah pastilah Putri Masako yang mengutuknya.


"Ah! Putri Masako benar. Kau tak perlu mendatangi perjamuan jika kau sedang sakit. Istirahatlah!" Ucap Permaisuri Chikara yang juga merasa khawatir dengan kondisi menantunya. "Pangeran Noya cepat bawa istrimu!" Suruhnya pada putranya.


Tanpa menjawab Pangeran Noya segera membawa Aika pergi dari sana. Dan keduanya tak lagi menampakkan diri hingga perjamuan usai.


.


.


.


Setelah berhari-hari mengobrak-abrik altar dan menemukan berpuluh-puluh boneka fudu. Aika bertekad mencari Miko yang telah membuat boneka itu. Bersama Kapten Mitsuki ia menemui Miko yang dicurigai menguasai ilmu hitam tersebut.


Melihat ekspresi gugup Shio, Aika langsung tahu bahwa Miko itulah pelakunya. "Geledah tempat ini!" Perintahnya, yang kemudian segera dilaksanakan oleh para bawahannya.


"Yang Mulia!" Salah seorang prajurit menyerahkan lukisan wajah Aika pada pemiliknya. Aika menerimanya, kemudian menyeringai dan langsung meremasnya.


"Karena sudah ada bukti, tangkap dia dan seret ke penjara!" Perintahnya mutlak.


"Tidak, Yang Mulia! Aku mohon ampuni aku!" Pinta sang Miko memelas.


Namun, bukan Aika namanya jika ia menerima permohonan dari manusia rendahan yang hampir saja membunuh dirinya. Dengan pandangan mengejek, Aika membakar sendiri kuil milik si Miko dengan kedua tangannya. Bagi seorang Miko, altar yang ada dikuilnya adalah tempat yang membayangi para Dewa. Karena itu ia sungguh ketakutan melihat altar itu terbakar habis dan dapat menyebabkan para Dewa marah.


Ditempat lain Dayang Yui yang mematai-matai Putri Masako, membuntuti wanita Shimura yang memasuki sebuah altar pemujuaan yang biasa ia gunakan untuk mengirimkan ilmu hitam. Dayang Yui kemudian memerintahkan seseorang untuk memanggil Pangeran Noya untuk menangkap basah wanita itu.


Pangeran Noya yang saat itu tengah berkumpul bersama para pangeran lain di aula bermain langsung bergegas pergi kala utusan itu menyampaikan berita baik tersebut.


Ditengah perjalanan Pangeran Noya justru berpaspasan dengan Aika yang membawa Shio untuk dipenjarakan.


"Anda ingin kemana, Pangeran?" Tanya Aika sesaat setelah melihat Pangeran Noya yang nampak terburu-buru.


"Ikutlah denganku! Dayang Yui telah menemukannya." Aika lagi-lagi mengangguk dan beralih mengikuti Pangeran Noya ketempat Dayang Yui berada dan menyerahkan Shio pada Kapten Mitsuki.


Brakkk!!


Putri Masako terkejut saat tiba-tiba Pangeran Noya dan Aika masuk bersamaan setelah menghancurkan pintu dan memergokinya tengah melakukan ritual.


"Pangeran? Tengah malam begini apa yang anda lakukan disini?" Meski nampak terkejut, Putri Masako berhasil menutupinya dengan baik.


"Apa yang sedang kau lakukan?"