The Great Princess

The Great Princess
Masako Si Ular



Aika melangkah menyusuri taman Istana dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk. Ia masih tidak terima dengan keputusan Ukai yang ingin menempatkannya di barisan belakang dan bukannya di depan.


Duk!


"Aish!" Ringis Aika saat merasakan dahi mulusnya baru saja menabrak sesuatu yang keras seperti sebuah dada.


Tunggu! Dada? Aika cepat-cepat mendongakkan kepala untuk melihat siapa korban dari keganasan dahinya kali ini.


"Noy- Pangeran?" Ucap Aika dengan wajah terkejutnya. Aika mundur dua langkah untuk mengurangi jarak keduanya lalu membungkuk sebagai salam.


"Di mana perhatianmu, Aika!" Kalimat seru dilayangkan Noya dengan gemas. Bagaimana mungkin tubuh Noya yang notabene 2x lebih besar dari Aika itu ditubruk begitu saja bak seonggok batu yang tak terlihat.


"Maafkan saya, Pangeran." Ucap Aika penuh sesal kembali membungkukkan badan.


"Hm." Sahut Noya cuek.


Hening (...) beberapa saat.


"Aku memerintahkanmu lari dari duel!" Kata Noya sedikit menekan kata perintahnya.


Aika merasa tidak senang dengan perintah itu dan berniat menolaknya.


"Aku tidak akan lari!" Seru Aika keras kepala.


"Aku melakukan ini untuk diriku sendiri. Sebenarnya sejak awal aku ingin sekali menantang seluruh ksatria di Kerajaan Sawamura. Mungkin ini adalah waktuku mewujudkan keinginanku." Lanjut Aika lagi saat Noya akan melayangkan protesan-nya.


Aika kemudian membungkuk dan melangkah pergi meninggalkan Noya yang diam mematung.


"Pangeran Mahkota, Anda dipanggil ke aula pertemuan oleh Kaisar!"


.


.


Ditempat lain di waktu yang sama...


Disebuah ruang kamar di bagian paviliun timur. Terdapat seorang pria dewasa duduk di depan meja dengan segelas ocha ditangannya. Tepat diseberang mejanya terdapat seorang wanita yang duduk manis dengan gestur yang sama dengannya.


"Pangeran." Panggil wanita itu.


Si pria yang dipanggil Pangeran hanya mengangkat wajah untuk memandang wanita didepannya itu. Hanya memandang, tanpa berniat merespon.


Pria itu menurunkan pandangan sejenak. Ia meletakkan gelas ocha-nya dan meletakkannya di atas meja dengan gerakan yang sangat pelan. Seperti enggan membahas topik yang diangkat wanita yang akan menjadi calon istrinya tersebut.


"Kita sedang dalam masa perang. Tidak mungkin aku meminta mereka mempersiapkan pernikahan sedang banyak orang berduka karena kematian salah satu keluarganya." Jelas pria itu tenang.


Meski setengah hatinya merasa jengkel karena wanita yang tidak disukainya itu terus menerus memintanya segera menikahinya.


"Lalu, sampai kapan aku harus menunggu Pangeran Daichi." Kalimat datar wanita itu layangkan. Ia juga mulai tidak sabar dengan Daichi yang selalu memiliki alasan untuk menghindari topik pernikahan mereka.


"Bersabarlah, Masako." Kata Daichi santai dengan senyum menawannya.


Sejujurnya ia tidak mau menikahi keponakan Dotto itu. Sebab ia tidak pernah menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan kroni si Shimura Bangka itu. Daichi merasa mereka adalah bom waktu yang cepat atau lambat akan meruntuhkan kepemimpinan Sawamura.


Daichi juga menyetujui rencana pernikahan ini karena awalnya ia ingin mengorek informasi dari wanita bernama Masako itu. Tapi, apa yang diduganya selama ini salah, Masako adalah bisa ular yang sama mematikannya seperti Dotto. Jadi, untuk sekarang Daichi memilih menjaga jarak dan mengamati pergerakan Masako secara perlahan.


"Aku tidak bisa menunggu lagi, Pangeran." Ucap Masako dengan wajah sendu dibuat-buat.


"Itu sebabnya aku menemui Permaisuri Chikara kemarin, dan ia telah memutuskan pernikahan akan diadakan 3 hari dari sekarang." Tambahnya lagi, kali ini diiringi seringai kemenangan yang kentara.


Daichi yang mendengar itu hanya memasang wajah datar. Ia juga tahu sekuat apapun ia mencoba lari dari pernikahan ini, tetap saja ia tidak akan bisa berlari jauh. Sebaiknya ia segera memikirkan rencana untuk menangani ular berbisa itu.


"Baiklah." Kata Daichi tenang. Meski otaknya telah bekerja menyusun ribuan cara untuk mengikat ular yang berbahaya didepannya ini.


Masako tersenyum senang. Berbeda dengan hati hitamnya yang mulai memikirkan berbagai rencana untuk menjalankan tugas dari sang paman. Yang tak lain adalah Menghabisi Sawamura Daichi.


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan dari pintu terdengar. Daichi memberi perintah pada penjaga pintunya untuk membuka pintu dan mempersilakan siapapun itu masuk. Tak berselang lama datang kehadapan Daichi seorang prajurit pengantar pesan.


"Pangeran, anda dipanggil ke aula pertemuan oleh Kaisar!" Katanya.


Daichi mengangguk dan memberi isyarat agar prajurit itu keluar.


"Pergilah! Aku tidak suka orang lain tinggal di kamarku saat aku tidak ada didalamnya." Perintah Daichi datar tanpa menatap Masako -yang balas menatap nyalang dirinya, sebelum keluar dari kamar.


To be Continue..


A/N : Jangan lupa Like dan Favorite ya. Terima kasih banyak sudah mampir dan menyempatkan diri membaca. 😊🤗