The Great Princess

The Great Princess
Ep. 47



Semua gadis terdiam. Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka pertanyaan pada sesi terakhir sesulit ini. Dalam diam mereka menyerah kalah dan siap dipulangkan dengan wajah malu.


Putri Masako semakin melebarkan seringainya saat matanya menangkap pemandangan para gadis yang diam bak seonggok batu tak berguna itu. Namun, kesenangannya tak berlangsung lama saat netranya menangkap bola mata Safir yang berjalan menuju ke tengah aula.


"Izinkan saya menjawabnya." Pinta si Kaguya pada Sarjana Istana di depannya. Dan segera mendapat anggukan dari si empunya.


"Isi dari buku 9 Perjalanan Manusia diantaranya ada Kehidupan, Pengetahuan, dan Kebangkitan..."


"...Pertama, Kehidupan adalah sebuah pulau di tengah samudra kesendirian, sebuah pulau yang batu-batunya adalah harapan, yang pohon-pohonnya adalah impian, dan yang alurnya adalah kehausan..."


"...Kedua, Pengetahuan adalah satu-satunya tiran kekayaan yang tidak dapat dirampas. Hanya kematian yang bisa memadamkan lampu pengetahuan yang ada dalam diri seseorang. Kekayaan sejati dari sebuah negeri tidak terletak ada emas atau perak, tetapi dalam pengetahuannya, kearifannya, dan tidak akan pernah mengkhianati-mu. Karena pengetahuan adalah mahkotamu, dan pemahaman adalah pegawaimu, ketika mereka bersamamu, kamu tidak dapat memiliki harta yang lebih berharga selain mereka..."


"...Yang ketiga, Kebangkitan. Kemarin, Kekasihku, aku hampir sendiri di dunia ini, dan kesendirianku sekejam kematian. Aku bagaikan sekuntum bunga yang tumbuh di bawah bayangan sebuah batu yang amat besar, yang keberadaan Hidupnya adalah ketidaksadaran, dan yang tidak menyadari akan Kehidupan." Tutup Kaguya menyelesaikan jawabannya. Gadis itu kemudian membungkuk hormat.


Sang Sarjana terbelalak penuh keterkejutan. "Ba..bagaimana k..kau ta..hu i..isi buku itu?" Tanyanya setengah tidak sadar dan tergagap pula.


"Tentu, karena aku juga memiliki buku itu." Jawab gadis itu ringan.


"Tidak!" Elak si Sarjana dengan gelengan tidak percaya. "Bu..buku itu hanya ada 1 di dunia." Ucapnya mencoba menyangkal.


"Tapi, aku mempunyai buku aslinya." Lagi-lagi gadis itu menyahut tenang.


"Ti..tid..ak m..mu..mung..kin.. bagaimana bisa?" Tanya sang Sarjana lagi. Masih enggan percaya.


"Karena aku yang menulisnya." Timpalnya lagi masih dengan ketenangan yang mengagumkan.


Tentu semua orang tahu jika buku berjudul "9 Perjalanan Manusia" itu ditulis oleh seorang penulis ternama yang hampir separuh hidupnya digunakan sebagai seorang pengembara. Jadi, tidak mungkin kalau...


"Siapa kau sebenarnya?" Kali ini suara sang Kaisar yang tak bisa ditahan lagi untuk tidak ingin tahu.


"Maaf, Kaisar. Saya di larang memperkenalkan diri sebelum proses seleksi selesai." Terang gadis itu tenang. Nampak tidak terusik dengan bisik-bisik yang mulai bermunculan disekitarnya.


Kaisar Hideki mengangguk mengerti. Sang Sarjana kembali mengambil alih proses seleksi. "A..apa ada yang ingin menambahkan?" Pertanyaan bodoh, tentunya tidak akan ada yang tahu tentang hal itu, bukankah sudah jelas!?


"Permaisuri, sepertinya hanya gadis inilah yang berhasil serta mendapat nilai sempurna dari saya." Lapornya cepat setelah menyadari kebodohannya. Dan segera mendapat anggukan dari Permaisuri Chikara.


"Berbarislah! Pangeran Mahkota akan memberikan pilihannya!" Seru Permaisuri Chikara pada para gadis.


Satu persatu gadis maju kehadapan Pangeran Noya dan diberikan sebuah jepitan rambut pada semua gadis yang tidak terpilih. Permaisuri cemas karena Pangeran Noya tidak memilih siapapun.


Hingga tiba giliran si Kaguya maju ke depan. Tadinya Pangeran Noya ingin memberikan jepitan rambut yang sama seperti kesebelas gadis yang lain, namun Pangeran Daichi segera menghentikan tangannya.


"Ingatlah dengan pembicaraan kita tempo hari, Pangeran Noya. Aika menunggumu!" Bisik Pangeran Daichi mengingatkan adiknya.


Pangeran Noya terdiam mengingat, lalu menarik tangannya untuk mengambil kanzashi kupu-kupu berwarna kuning dan memberikannya pada si Kaguya.


Semua orang kembali dibuat terkejut. Awalnya, mereka pikir Pangeran Noya tidak akan memilih satu pun gadis. Namun, selanjutnya semua orang berdiri lalu memberikan hormat pada Pangeran Noya yang dianggap bijaksana dalam mengambil keputusan.


Bersambung...