The Great Princess

The Great Princess
Ep. 32



Sesampainya di dekat tempat perang, Aika meminta Kiyoshi dan Lee untuk bersembunyi, sedangkan ia mencari Ukai atau Daiki. Namun, naas justru Tooru si mulut besarlah yang ia temukan.


"Ho, lihat siapa ini?!" Ucap Tooru menyebalkan dengan sebelah alis naik.


"Menyingkirlah, Hiu! Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu!" Sahut Aika datar.


"Lihat siapa yang bicara!?" Tooru semakin memajukan tubuhnya, merasa tidak suka ada yang berani padanya terutama seorang ksatria rendahan seperti Aika.


Aika mendengus, ingin sekali dia menjitak kepala ikan di depannya jika ia tidak ingat bahwa sedang dalam keadaan genting. "Hah~ dimana Kapten Daiki, Tuan Tooru?" Tanyanya dengan menekan kata Tuan pada kalimatnya.


Tooru tersenyum senang dengan mengangguk berulang-ulang. Mudah sekali membujuknya, batin Aika tak habis pikir.


"Dia-"


"KAPTEN!!"


Suara Tooru terpotong oleh seruan para ksatria yang terkejut melihat Daiki yang terkena tebasan pedang pada bagian dadanya. Aika dan Tooru terbelalak dan segera berlari menghampiri gerombolan itu.


Daiki terluka cukup parah dengan luka menganga pada dadanya. Dengan keadaan lemah ia mencoba memberikan tanda kepemimpinannya pada Ukai dan meminta salah satu ksatria untuk membunuhnya.


Para ksatria mundur saat mereka diminta untuk membunuh Daiki. Begitupun para ksatria dari kroni Giok Singa yang tidak mungkin membunuh pemimpin mereka. Namun, hal itu akan dikabulkan oleh Tooru yang sudah siap menarik pedang dari sarungnya.


"Berhenti!" Seruan Aika berhasil menghentikan pergerakan Tooru menggantung di udara.


"Biarkan Tooru melakukan tugasnya, Aika." Ucap Ukai pelan menepuk pundak Aika. Mencoba menenangkan anggotanya itu.


"Tidak! Jika ada yang berani membunuhnya maka dia akan melawanku setelahnya." Tantang Aika dingin, menatap keseluruh ksatria termasuk Ukai dan Tooru dengan tajam.


Ukai mengangkat pedang dan mengacungkannya pada leher Aika. "Berani kau menentang peraturan!" Katanya tak kalah dingin.


"Bukankah kau yang melatihku naik turun gunung membawa karung gandum dengan maksud membawa rekan yang terluka." Ucap Aika tidak merasa terintimidasi dengan pedang yang mengacung dilehernya.


Aika berlutut, "Bertahanlah, Kapten Daiki!" Mohon Aika.


Menatap sendu sang pemimpin pasukan Aika kembali berujar, "Bagaimana bisa kau begitu kejam dengan membunuh ksatria yang berjuang bersamamu, Kapten? Yang rela mengorbankan nyawa demi rakyat, keluarga, negeri, ataupun hidupnya sendiri."


"Ayunkan pedangmu padaku, Ukai!" Perintah Daiki susah payah. Sontak membuat semua ksatria yang berlutut termasuk Aika membelalak tak percaya.


"Mereka yang melanggar peraturan adalah sampah! Tapi, mereka yang meninggalkan rekan-rekannya lebih rendah dari sampah!" Kata Aika lantang membuat semua mata kembali tertuju padanya.


Mereka terkejut melihat wajah Aika yang berbeda dari sebelumnya. Wajahnya kini nampak serius dengan kilat keyakinan dimatanya. Membuat mereka semua tertegun.


Ukai tersenyum samar melihat ekspresi Aika. Kemudian berkata, "Akulah pemimpin pasukannya sekarang, dan aku tidak akan membiarkan ksatriaku mati sia-sia."


Semua ksatria tersenyum mendengar penuturan Ukai. Mereka memutuskan membawa kembali Daiki setelah mendapatkan pertolongan pertama nantinya.


.


.


.


.


.


.


Pertarungan masih berlangsung dengan khidmat(?). Dalam pertempuran, apapun bisa terjadi. Termasuk Aika yang hampir tertebas pedang namun Lee berhasil menyelamatkannya. Lee terjatuh, membuat Aika berlari cepat kearahnya dan mendapati Lee yang terluka parah.


Kou yang melihat Aika berlari cepat kearah seseorang, juga ikut mengalihkan pandangan dan ikut berlari. Kou segera memberikan pertolongan pertama untuk Lee namun sia-sia karena pendarahan hebat Lee akhirnya tewas.


Aika menangis meraung bak orang kesetanan. Ukai yang melihat Aika yang tak terkendali menariknya dan berhasil dilepaskan oleh Aika. Ia pun kembali berteriak pada Kou dan juga rekannya yang lain untuk melakukan sesuatu pada Lee. Namun semuanya hanya bergeming menatap sendu kearah Aika.


Ukai mendekati Aika kembali dan berusaha menenangkannya. Hingga hari berganti hari Aika tetap menangis tersedu dalam pelukan hangat Ukai.


To be Continue...