The Great Princess

The Great Princess
Ep. 43



Aula Utama


Putri Masako tersenyum penuh kemenangan saat menilik waktu yang telah habis, namun tidak ada satu gadis pun yang memasuki aula.


Lain halnya Putri Masako, Permaisuri Chikara justru gelisah ditempatnya. Bagaimana nanti jika semua gadis itu gagal? Batinnya bertanya-tanya.


Kemudian ia mengalihkan pandangan pada Pangeran Noya yang sejak tadi hanya diam membisu. Ia menyangsikan dapat kembali membujuk Pangeran Noya jika perjodohan kali ini sampai gagal.


"Permaisuri, waktunya sudah habis. Apa yang Anda tunggu?" Tanya Putri Masako dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.


Permaisuri Chikara menatap Putri Masako dengan senyum masamnya. "Tidak bisakah-"


"Apa Anda ingin memperpanjang waktu?" Ucap Putri Masako penuh penekanan, menandakan ketidaksetujuannya.


Permaisuri Chikara menggeleng patah-patah. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada penjaga pintu aula. "Tutup pintunya!" Perintahnya dengan suara berat, setengah tidak rela.


Pintu aula tertutup lambat-lambat, menyisakan keheningan yang pekat. Tak ada yang bisa memprotes saat Permaisuri Sawamura telah memutuskan mengakhiri sesi pertama tanpa ada satu peserta pun yang lolos memasuki aula.


Untunglah, sedetik sebelum pintu sempat tertutup. Salah seorang gadis menghalangi pintu dengan memajukan sedikit ujung kakinya. Membuat Putri Masako memicing galak pada si pelaku yang tak lain tak bukan adalah satu-satunya gadis yang memiliki bola mata seindah batu nilam itu.


Semua orang menatap gadis itu dengan berbagai macam ekspresi. Bahkan sang Permaisuri merasa senang dengan hadirnya gadis itu. Namun, sejurus kemudian senyumnya semakin merekah saat melihat para gadis lain berbaris dibelakangnya ikut memasuki aula dengan nampan di tangan mereka masing-masing.


Masing-masing gadis kembali ke tempat semula dan bersiap untuk mempresentasikan masakan-masakan mereka. Penilaian diberikan berdasarkan hasil masakan dan cita rasa masakan yang dibuat.


"Akulah yang akan mencicipi masakan kalian!"


Permaisuri dan seluruh kepala yang berada di dalam aula terkejut ketika mendengar suara baritone yang tiba-tiba menyeruak ke dalam pendengaran mereka. Sontak si pelaku mendapat tatapan terkejut dari seluruh pasang mata. Namun, Pangeran Noya justru acuh dan memilih fokus pada gadis yang berada di barisan paling belakang.


"Tentu, Pangeran. Aku dan Putri Masako lah yang akan memberi penilaian pada presentasi masakannya." Timpal Permaisuri Chikara senang, saat Pangeran Noya ingin ikut ambil bagian dalam pemilihan.


Para gadis dipanggil satu persatu untuk maju ke atas mimbar untuk memperlihatkan masakan mereka (pada Permaisuri Chikara dan Putri Masako) dan kemudian kehadapan Pangeran Noya untuk dicicipi rasa masakannya.


Ada salah satu masakan yang paling menonjol, masakan itu milik gadis bermarga Kimura, Putri dari gubernur Provinsi Tokai. Bahkan Permaisuri menatapnya penuh damba karena sifatnya yang dewasa, pintar, dan baik hati. Ia tentu bisa mengenali Kimura Yuki hanya dari bola matanya saja, karena gadis itu adalah sahabat kecil dari si Pangeran yang sering bermain ke istana dulu.


Kini giliran, si gadis Kaguya yang dipanggil. Ia menyajikan beberapa masakan yang mudah dibuat. Namun, mampu membuat Permaisuri Chikara tersenyum karena tampilannya yang dikemas sangat menarik.


Si Kaguya mendatangi Pangeran Noya untuk dicicipi masakannya. Ia mengernyit tatkala ekspresi Pangeran Noya yang sulit diartikan saat satu suapan masuk kedalam mulutnya.


"A..ada apa, Pangeran Mahkota?" Cicit gadis itu takut-takut saat suaranya berhasil mendapatkan lirikan tajam dari Pangeran Noya.


Sedang Pangeran Noya sendiri justru menukikkan alis dalam saat mengingat dengan samar rasa dari masakan yang masuk ke dalam mulutnya itu.


Flashback On


"Apa ini?" Tanya Pangeran Noya saat Aika menaruh sesuatu dihadapannya.


"Aku tahu! Tapi, aku hanya mau jika kau yang membuatnya!" Protes Pangeran Noya seraya mendorong sepiring onigiri dihadapannya.


Aika memutar bola mata bosan, "Ya sudah, kalau tidak mau." Ucapnya santai hampir mencomot satu onigiri, namun belum sempat karena Pangeran Noya segera menarik kembali piringnya.


"Kau yang membuatnya?" Tanya Pangeran Noya penasaran, dengan perlahan ia mulai  memasukan satu suapan onigiri ke dalam mulutnya.


"Ya." Jawab Aika singkat dengan anggukan ringan. Matanya menatap intens Pangeran Noya yang terlihat menikmati onigiri buatannya.


"Apa aku sangat tampan. Sampai-sampai kau tidak berkedip seperti itu?" ujar Pangeran Noya percaya diri, tetap fokus memakan onigirinya.


Aika gelagapan karena ketahuan meneliti wajah Pangeran Noya yang nyatanya memang tampan itu, menurutnya.


"Ekhem!" Dehem Aika membersihkan tenggorokannya. "Jangan menggodaku!" Serunya kemudian dengan wajah merona merah. Membuat Pangeran Noya terkekeh kecil.


"Aku ingin kau yang selalu memasakan makanan untukku saat kita sudah menikah nanti." Kata Pangeran Noya tiba-tiba, sembari menatap serius Aika yang memandang terkejut kearahnya.


Dan tanpa aba-aba Pangeran Noya memajukan tubuhnya, kemudian mencium kedua pipi Aika yang sudah merah semakin memerah bak buah tomat kesukaannya.


Flashback Off.


Pangeran Noya tersenyum kecil saat mengingat keusilannya kala itu. Namun, dengan cepat wajah itu berubah datar kembali saat mendapat tatapan yang sulit diartikan dari gadis di depannya.


"Apa kau yang membuat ini?" Tanya Pangeran Noya datar.


Mata si gadis membola terkejut, bahkan hampir seluruh hidung yang berada di dalam ruangan ikut berhenti bernapas saat mendengar suara Pangeran Noya.


Mereka semua cukup terkejut dengan respon Pangeran Noya yang jelas menunjukkan ketertarikan itu. Mengapa? Karena dari kesebelas gadis hanya si Kaguya lah yang ditanggapi masakannya.


Dan para gadis lain jelas merasa terancam dengan hal itu. Atau mungkin banyak orang yang merasa terancam karenanya, termasuk Putri Masako.


Si Kaguya mengangguk kecil sebagai jawaban. Namun, ketika menyadari kesalahannya (tidak sopan karena tidak membalas dengan lisan) ia dengan tergesa menjawab, " Iya, Pangeran Mahkota."


Pangeran Noya mengangguk mengerti, membuat Permaisuri Chikara melebarkan senyumnya terlampau senang karena setidaknya ada satu gadis yang berhasil menarik perhatian Putranya.


Si Kaguya kembali ketempatnya setelah Pangeran Noya selesai mencicipi ketiga masakannya.


Tiba saatnya memberikan penilaian. Permaisuri Chikara dan Putri Masako menyerahkan kertas nilai mereka pada Pangeran Noya. Jelas terlihat Permaisuri Chikara memberi nilai sempurna untuk dua orang gadis (Kimura dan Kaguya) sedang Putri Masako memberi nilai rata-rata dibawah tujuh.


Pangeran Noya menyimpan saja, tanpa mau ambil pusing dengan angka-angka itu. Dan hari itu seleksi hari pertama pun telah usai. Dan seleksi selanjutnya akan dilaksanakan esok hari.


Bersambung...