
Aika mendatangi Kiyoko yang tengah sibuk menghias tato pada wajah orang-orang bisu itu. Sebuah tato yang digoreskan menggunakan sebilah pisau yang kecil namun tajam.
"Keras kepala juga rupanya." Ujar Aika saat Kiyoko menggelengkan kepalanya.
Aika kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu pada salah seorang pelayan itu. "Jika masih sayang nyawa, aku tak akan membunuhmu dan keluargamu. Tapi, jika tidak maka hingga 9 generasi pun aku akan membasmi kalian." Ancamnya.
Aika tanpa ingin mendengar jawaban dari para pelayan itu bergegas pergi dan memerintahkan Kiyoko melepaskan mereka. Mungkin ia masih berbaik hati saat ini, tapi jika hal yang sama terulang, maka ucapkan selamat tinggal pada dunia.
*
*
*
*
Beberapa minggu setelahnya, Aika berhasil mengendalikan kutukan yang menimpanya. Bahkan seluruh tubuhnya kini telah kembali sehat meski tak menampik banyak bekas luka yang masih tertinggal. Hanya tinggal menghitung waktu maka semuanya akan seperti sedia kala.
Begitupun racun sihir itu, seorang Miko bernama Pakura membantunya mengeluarkan racun-racun itu. Meski Aika dikabarkan tak akan dapat mengandung dalam waktu dekat sebagai salah satu efek dari racun tersebut. Namun, beruntung nyawanya berhasil terselamatkan.
Aika berjalan dengan anggun menuju kamp para ksatria. Semalam ia telah mengirimkan surat lewat merpati dan diterima oleh Kapten Ukai. Dan kini wanita cantik itu tengah berada disebuah ruangan khusus untuk bertemu teman-temannya.
"Aika, apa yang terjadi?" Tanya Kou tak sabaran, bahkan melupakan etika dan sopan santunnya terhadap seorang putri kerajaan. Mungkin kejadian kapan lalu juga tak memberinya sedikit kecerdasaan dalam pengalaman.
Aika tersenyum sekilas. "Akan butuh waktu lama untuk menceritakannya. Tapi, yang pasti aku telah disini dan dalam keadaan baik-baik saja." Jawabnya dengan suara mendayu lembut. Berbeda 180° ketika ia menjadi seorang ksatria dulu.
Kou, Kiyoshi, Jendral Ukai, dan beberapa anggota kroni Serigala Putih tersipu. Masih tak percaya agaknya dengan wanita yang duduk bersama mereka kini dulunya adalah pecundang kelas teri yang merepotkan banyak orang.
Kou menunduk lesu. "Seharusnya aku melamarmu lebih dulu waktu itu." Cicitnya penuh sesal. "Sudah kuduga wajah cantikmu itu... Aish!" Gerutu Kou dengan kesalnya. Penyesalan nampak jelas terlihat.
Aika mendengus geli. "Putri, ada urusan apa anda datang kemari?" Ini suara Jendral Ukai yang nampak serius bahkan bersikap terlalu formal pada mantan bawahannya itu.
Aika yang menyadari hal itu ikut berwajah serius. "Maaf." Sesalnya. "Aku tak bermaksud menipu siapapun, karena pada nyatanya kalian tak menganggapku perempuan sama sekali." Jeda sejenak, Aika melirik Kapten Ukai yang tetap berwajah datar.
"Tapi, kau tak perlu berpura-pura tak tahu aku seorang gadis Jendral Ukai!" Sambung Aika kemudian.
Jendral Ukai memberanikan diri menatap wajah yang berbeda, namun memancarkan perasaan yang sama itu dan menyelaminya. "Anda tahu, tapi tetap tidak memberitahu kami?!" Jendral Ukai kembali membalikkan fakta.
"Anda punya rencana yang sampai sekarang aku tak bisa menebaknya! Apa sebenarnya yang anda inginkan?!" Tanya Jendral Ukai dengan berani.
"Takhta. Itu yang kuinginkan." Balas Aika tenang.
Kapten Ukai tersenyum sinis. "3 tahun bersama membuatku buta tentang siapa dibalik tubuh lemah itu. Apa aku terlihat terlalu mudah anda bodohi, Putri?" Sindirnya.
Aika menggeleng pelan. "Justru karena kau sama sepertiku. Katakan Jendral Ukai, sampai kapan kau mau menyembunyikan identitasmu sebagai Pangeran Negara Awan?" Ungkap Aika membuka identitas Ukai.
Seluruh kepala yang ada diruangan itu terkejut. Mereka sontak mengalihkan pandangan dan menatap wajah Jendral Ukai yang sama terkejutnya.
"Kau dan aku sama-sama memiliki tujuan. Itu sebabnya kita ada disini." Sambung Aika lagi. "Ayo, bekerja sama!" Tawarnya.
"Menurutmu apa yang akan Kaisar lakukan jika Jendral Banna dari Negara Awan bersekutu dengan Jendral Ukai -pangerannya?"
.
.
.
Aika kembali ke kediamannya setelah acara reuninya usai. Ia kembali memasang wajah manisnya disepanjang perjalanan.
"Yang Mulia, apa menurut anda Jendral Ukai akan berpihak pada anda?" Dayang Yui membuka pembicaraan.
"Kapten Ukai bukan Pangeran yang akan bertindak agresif. Ia juga telah lama dibuang dari Negara asalnya. Saat ini ia hanya mempercayai kekuatan Kaisar seorang. Jadi, ia tak akan berpihak padaku." Jelas Aika panjang lebar.
Dayang Yui berkerut bingung mendengarnya. "Lalu, untuk apa anda melakukan semua ini?" Tanyanya lagi.
Aika tersenyum kecil. "Aku hanya ingin menunjukan sedikit ketertarikanku padanya." Jawabnya.
Dayang Yui tak lagi bertanya, keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan dalam diam.
Sementara itu kroni Serigala Putih justru sibuk dengan gosip tentang pemimpin mereka. Tak hanya kemunculan Aika yang membuat mereka terkejut, kini datang fakta lain yang mendeklarasikan seorang Pangeran Mahkota yang turun pangkat menjadi seorang Jendral.
Brak!
Jendral Ukai menggebrak meja. "Apa kalian mau terus dibodohi?" Ucapnya dingin.
Kou menatap Jendral Ukai sejurus. "Jadi, itu semua benar? Bagaimana bisa kau melakukan ini Jendral? Kami bertarung habis-habisan. Mengorbankan Lee dan kehilangan Aika saat itu! Jadi, semua itu ulahmu juga?!" Tuduhnya.
Jendral Ukai bangkit dan menarik kerah Kou. "Jika aku bilang tidak kau percaya?!" Tantangnya.
Kou memalingkan wajah.
"Aku tak ada hubungannya dengan pemberontakan waktu itu. Putri Aika hanya mau menguji kita, tidakkah kalian mengerti?!" Kapten Ukai menjelaskan, kemudian melepas kerah Kou.
"Lalu dimana kesetiaan mu, Jendral?" Tanya ksatria lain.
Jendral Ukai diam tak menjawab. "Khe!" Decih Kou yang langsung pergi meninggalkan barak. Namun, langkahnya sempat terhenti oleh ucapan Jendral Ukai.
"Aku berada di pihak Yang Mulia Kaisar! Aku tak peduli meski ia melawan Perdana Menteri Dotto sekalipun. Aku hanya berpihak pada 1 orang. Dan jika Putri Aika berani bermimpi menghancurkan Dinasti Sawamura, maka akulah lawannya."
Kapten Ukai berjalan melewati Kou yang sempat terhenti dan tanpa memandang kembali ke belakang.
"Kou, bagaimana?" Tanya Kiyoshi pada rekannya yang masih diam mematung.
"Aku menyukai Putri Aika, jadi aku berpihak padanya." Putusnya santai, kemudian ikut meninggalkan barak.
Kiyoshi yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala. "Aku juga akan mendukung Putri Aika, itu karena aku pernah tidur dengannya. Kalian terserah mau apa.." ucapnya dengan pandangan pada rekan-rekannya lalu berjalan mengikuti langkah Kou.