The Great Princess

The Great Princess
Hubungan Gelap



Istana Shimura


Di dalam kastil Dotto kini Kageyama Norio tengah berdiskusi mengenai strategi perang bersama para kroni Shimura.


"Apa kita bisa menggunakan Chuubu? (Provinsi bagian Utara benteng Sawamura)." tanya Dotto pada Norio.


"Entahlah, perang kali ini sedikit sulit." Jawab Norio dengan gelengan kepala pelan.


"Aku tidak menyangka mereka bertindak sejauh itu untuk menerobos benteng pertahanan." Ucap salah satu Gubernur.


"Apa kita salah strategi? Apa kau juga meminta mereka menghancurkan gudang harta kita, Perdana Menteri?!" Tanya Kazan sarkastik, maniknya memicing sinis kearah Dotto.


"Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya meminta mereka memberi gertakan untuk memancing reaksi Kaisar. Siapa sangka jika mereka berani melanggar perjanjiannya!" Kilah Dotto mencoba membela diri.


"Hah~ sudahlah! Serahkan saja padaku!" Ucap Norio kemudian dengan helaan nafas lelah.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Seru Dotto pada si pelaku pengetukan.


Pintu shoji terbuka, memperlihatkan wanita cantik dengan kimono uchikake yang menjuntai mengepel lantai. Langkahnya ia bawa menuju Dotto yang duduk di bagian ujung ruangan.


Semua orang yang mengenal dengan baik siapa yang memasuki ruangan memasang berbagai macam ekspresi. Tanpa disuruh pun mereka tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Sebaiknya aku segera bersiap." Ucap Norio sambil berdiri keluar dari ruangan.


"Kami pergi Perdana Menteri." Kata salah seorang gubernur mewakili gubernur lainnya. Kemudian mereka kompak berdiri lalu melangkah pergi.


Sisanya tanpa ada kata juga ikut melangkah pergi meninggalkan dua insan berbeda gender itu.


"Kenapa kau kemari?"


"Aku bosan di sana."


"Apa si bodoh itu sama sekali tidak tertarik padamu?"


"Dia sangat membosankan, dia jelas-jelas memperlihatkan ketidaksukaannya padaku!" Ucap si wanita dengan wajah datarnya, tampak tidak berminat.


Si wanita menurut, namun bukannya duduk di kursi ia justru memilih duduk dipangkuan Dotto dan bergelayut manja pada tubuh tua renta itu.


"Meski begitu aku berhasil memintanya menikah denganku 3 hari lagi." Kata wanita itu dengan seringai kemenangan.


"Berhati-hatilah, Masako. Daichi lebih cerdik dari yang kau kira." Kata Dotto memperingati.


"Sudahlah, Paman! Aku datang kemari untuk menghilangkan rasa bosanku, bukan membahas pria dengan orientasi menyimpang sepertinya." Gerutu Masako dibuat-buat. Tangannya mulai bergerilya kesana-kemari.


Dotto yang mengerti gelagat dari Masako segera tahu apa yang diinginkan oleh kekasih gelapnya itu.


"Kalau begitu cari kenikmatanmu!" Tantang Dotto menurunkan Masako dari pangkuannya dan mengeluarkan batang kemaluannya.


Masako menyeringai senang saat melihat * yang sudah setengah ereksi itu. Ia memajukan tubuhnya dan **** * itu dengan ganas. Membuat si ***** berdiri secara sempurna.


Tanpa menunggu foreplay Masako segera memposisikan dirinya pada selangkangan Dotto dan mulai melakukan adegan panas. Keduanya saling menggila dengan hasrat yang semakin menggebu-gebu hingga tak sadar waktu. Dan melupakan dosa hanya untuk kenikmatan dunia.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Keesokan harinya, seluruh keluarga kerajaan beserta dewan negara dan beberapa gubernur mengantar kepergian para ksatria ke medan perang. Kageyama Norio meminta semua kapten ksatria berkumpul untuk membahas strategi setelah mereka sampai di area aman.


"Aku menempatkan semua posisi ksatria terbaik untuk bertempur di garis depan. Sedang khusus untuk ksatria amatir mengevakuasi pasukan yang terluka atau tewas..." Perintah Norio pada ksatria-ksatrianya.


"...Aku juga meminta pada Kapten Shimura untuk menjaga posisi agar tidak ada lagi jatuhnya korban." Tambah Norio menatap Kapten Gagak Hitam dengan mimik serius.


Shimura Kin selaku Kapten Gagak Hitam mengangguk menuruti perintah.


"Jendral, tolong izinkan kroni Serigala Putih membantu..."


"...Tidak! Tidak ada yang boleh melawan dan membangkang perintahku!" Seru Norio tegas, memotong permintaan salah seorang kapten yang berteman dengan kroni Serigala Putih.


Semua ksatria tidak ada lagi yang membuka mulut setelahnya, begitupun Kapten dari kroni Bambu Kuning yang tadi melayangkan usulan.


"Dimana Ukai?" Tanya Norio, saat tidak menemukan Ukai dan kesatuannya pada barisan ksatria.


To be Continue...