The Great Princess

The Great Princess
Ep. 30



Kerajaan Sawamura, Paviliun Tenggara


Seorang pria tengah berjalan ringan menyusuri lorong istana malam itu. Jika dilihat dengan baik langkahnya terlihat terseret -enggan menuju kearah yang ditujunya. Bagian paviliun tenggara adalah paviliun khusus untuk istri-istrinya kelak. Dan disana sekarang hanya terisi oleh seorang wanita yang telah resmi menjadi istrinya beberapa hari yang lalu.


Daichi menghembuskan nafas keras saat matanya menyapu pintu besar di depannya. Demi apapun ia sesungguhnya paling malas melihat wajah ular yang dipaksa menikah dengannya itu. Mengabaikan ketidaksukaannya Daichi memberi isyarat untuk penjaga membuka pintu.


Kreek!


Suara decit pintu terdengar. Daichi melangkah memasuki ruangan yang gelap gulita itu tanpa kesulitan dalam pandangan. Dan netranya menangkap siluet Masako yang berdiri di dekat jendela membelakanginya.


"Kau lama, Daichi." Ucap Masako membuka pembicaraan, bahkan dengan lancang memanggil nama kecil pangeran sulung Sawamura secara langsung.


Daichi mendengus mendengar namanya keluar dari mulut berbisa itu. Daichi bersumpah akan mengganti namanya jika itu bukan pemberian dari kedua orang tuanya. Karena terlalu hina jika Masako yang memanggilnya.


"Kau mengabaikanku selama berhari-hari, Daichi. Dan itu membuat harga diriku terkoyak." Kata Masako dengan suara mendayu sedih yang dibuat-buat.


"Bersikaplah sopan, Masako! Jaga batasanmu!" Daichi mengingatkan, muak saat namanya dipanggil wanita murahan seperti Masako.



Masako berbalik, wajahnya menunjukkan kebencian. "Apa seorang istri tidak boleh memanggil nama suaminya?" Ucapnya tajam.


"Katakan itu pada pria yang telah menidurimu, Jalang!" Ucap Daichi tenang, menekan kata Jalang agar Masako sadar bahwa tidak ada yang bisa wanita itu sembunyikan darinya.


Masako justru tersenyum manis mendengar ucapan Daichi. "Apa maksudmu, Pangeran?"


"Aku tahu kau sudah tidak suci."


Masako tertawa renyah, "Lalu kenapa? Bukankah kau juga tidak akan meniduriku?" Ucapnya tidak tahu malu. Perlahan Masako mendekati Daichi dan membuang topeng sandiwaranya. Toh buat apalagi ditutupi, jika lawanmu sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya.


Masako semakin tertawa terbahak. Melupakan etika sebagai seorang bangsawan Shimura-nya. "Aku? Pergi? Untuk apa?" Kata Masako di sela tawanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Kemewahan, Sutra mahal, Harta, Kedudukan, apa lagi yang lebih nikmat dari itu? Dan demi apa aku rela meninggalkan semuanya?" Lanjutnya masih dengan tawa yang menyerupai wanita gila.


"Kau terlalu serakah Masako. Dan ingat keserakahanmu-lah yang akan menghancurkanmu suatu hari nanti." Kata Daichi mengingatkan, setelahnya ia meninggalkan Masako begitu saja tanpa menyentuhnya lagi malam itu.


Masako semakin tertawa tak terkendali mendengar ucapan Daichi yang dianggapnya angin lalu itu. "Aku akan mendapatkanmu, Daichi! Aku akan mendapatkanmu!" Sumpah Masako dengan sorot mata yang sulit diartikan, saat menatap bayangan Daichi yang menjauh pergi.


.


.


.


Chuubu, Perbatasan Utara Sawamura


Pagi hampir menjelang sebentar lagi, namun pertarungan sengit kedua kubu dari dua negara besar itu tak jua surut. Malah semakin sengit dengan semakin banyaknya korban berjatuhan.


Ditengah pertarungan Aika yang kebetulan bersama Lee yang terpojok oleh sepuluh tentara Angin memilih melarikan diri. Namun dalam perjalanan Lee terjatuh karena banyaknya luka dikakinya.


"Pergilah, Aika! Tinggalkan saja aku!" Pinta Lee sambil menahan tubuhnya yang bergetar.


Aika yang melihat Lee terjatuh segera membantu Lee untuk bangkit kembali, "Tidak! Ayo cepat kita masih sempat!"


To be Continue...