
Permasalahan baru muncul dari kroni Dotto, alias para gubernur yang merasa kecewa karena putri, keponakan atau salah satu anggota keluarga mereka tidak ada yang terpilih.
"Kau harus segera mengambil keputusan, Dotto. Mereka akan semakin menjadi anjing liar jika kau tak mengikat kencang tali mereka." Kazan orang pertama yang membuka mulut.
"Dan kau hanya punya 2 pilihan. Menyingkirkan mereka atau membuat mereka kembali tunduk padamu." Sambung Jendral Norio memberi penawaran.
"Pilihan kedua lebih masuk akal. Bagaimanapun kita masih membutuhkan dukungan para cecunguk itu untuk rencana-rencana kita. Meski ku akui mereka sedikit terlalu banyak menggonggong akhir-akhir ini." Keluh Dotto, berbeda dengan wajahnya yang justru nampak santai.
"Putri Masako, bujuklah Permaisuri untuk menambah lebih banyak istri untuk Pangeran Mahkota demi menyenangkan para anjing-anjing itu." Ucap Kazan menatap langsung Putri Masako yang tetap diam membisu sejak tadi.
Putri Masako mengerling sejenak, ini akan jadi sulit jika mengingat tentang ancaman Aika tempo hari. Gadis itu jelas bermaksud mengekang pergerakannya secara terang-terangan.
"Tidak! Itu tidak akan berhasil jika si jal*ng (Aika) itu tak disingkirkan lebih dulu." Putri Masako akhirnya buka mulut.
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
"Ya, dia mengancamku secara terbuka. Dan seolah mendukung tindakannya, bahkan dinding-dinding istana pun ikut menjadi mata dan telinganya..." jeda sejenak, Putri Masako menyesap ochanya untuk menetralisir rasa gelinya.
"... Aku bahkan tidak akan terkejut bila ia tiba-tiba berdiri di depan pintu saat ini!" Lanjutnya sembari terkekeh geli.
"Kalau begitu lenyapkan dulu gadis itu." Usul Kazan santai, yang disambut anggukan antusias Putri Masako dan Dotto.
Saking antusiasnya mereka tak menyadari perubahan raut wajah salah satu mata-mata ganda di antara mereka.
"Siapa kau?"
Sebuah kalimat tanya meluncur mulus dari bibir peach Aika kala melihat pelayan yang tak dikenalnya memasuki kamar.
"Yui-"
"Saya adalah Dayang pribadi anda yang baru, Putri." Potong pelayan itu cepat, ketika Aika hendak memanggil Yui (Dayang pribadinya yang lama).
Bukannya Aika tidak tahu siapa dayang baru yang menggantikan Yui itu. Jelas ia sangat tahu kalau Yutaka adalah mantan dayang pribadi Putri Masako sebelumnya. Apakah ini adalah cara Putri Masako mengawasinya? Aika mendengus geli dibuatnya.
"Begitu? Jika kau di sini lalu siapa yang melayani Tuanmu?" Tanya Aika dengan binar mata jahil.
"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Fuen ada di sana untuk membantunya." Jelas Yutaka dengan wajah beraninya.
"Baguslah kalau begitu." Sahut Aika santai dibarengi senyuman secerah mentari yang sukses membuat Yutaka mengernyit bingung.
Ada apa dengannya? Apa dia tidak keberatan atau marah? Pikir Yutaka bertanya-tanya.
Permaisuri Chikara berjalan riang di sepanjang lorong Paviliun Barat guna menemui putra bungsunya. Ia datang untuk menyampaikan wejangan yang pastinya akan disukai oleh putranya yang manis itu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Permaisuri Chikara masuk ke dalam kamar yang didominasi warna navy, emas dan hitam itu dengan wajah senang bak anak kecil yang baru mendapat sekotak permen. Membuat si empu kamar menatap aneh sang ibu.
Permaisuri Chikara mendudukkan dirinya tepat di hadapan Putranya yang tengah asyik membaca buku (tadinya) sambil menatap aneh dirinya. Tapi, Permaisuri Chikara acuh dan mulai membuka obrolan.
"Kau tahu, Putra-"
"Tidak!" Potong Pangeran Nishinoya cepat, mengabaikan delikan protes Permaisuri Chikara, ia kembali memfokuskan diri pada bukunya.
"Jangan memotong ucapan Ibu, Nak!" Nasihat Permaisuri Chikara penuh penekanan, sedikit jengkel ucapannya di potong saat ia dalam mood yang sedang baik-baiknya.
Pangeran Noya bergeming, tapi Permaisuri Chikara tahu putranya itu mendengarkan. Jadi, ia putuskan melanjutkan pembicaraan.
"Ibu menemui seorang Miko pagi tadi. Kau tahu, ia mengatakan bahwa malam nanti adalah waktu yang bagus untukmu dan Aika untuk 'ekhem', kau tahu pasti apa itu." ucap Permaisuri Chikara panjang lebar, tak lupa dibarengi senyuman aneh di bibirnya.
Pangeran Noya menukikkan alis, namun detik berikutnya ia mengerti apa maksud ibunya. "Ekhem? Apa itu?" Tanya Pangeran Noya berlagak bodoh, coba menggoda ibundanya.
Senyuman Permaisuri Chikara luntur seketika, digantikan wajah jelek yang merengut sebal. Sejak kapan Putranya itu jadi bodoh dan lamban, batin Permaisuri Chikara masam.
"Jangan berpura-pura bodoh. Ibu tahu kau sengaja menggoda Ibu, benar 'kan?" Tuduh Permaisuri Chikara dengan picingan mata galak.
Pangeran Noya tergelak ringan, kemudian mengangguk mengiyakan. "Sungguh? Kalau begitu baiklah. Tapi, bisakah Ibu yang memanggil Aika kemari?" Pinta Pangeran Noya setelah menghentikan gelak tawa ringannya.
Sejujurnya ia sama sekali tidak percaya dengan segala t*tek bengek menyangkut ramalan atau semacamnya. Tapi, lain cerita jika ramalan itu isinya adalah penyatuan antara ia dan Aika, tentu Pangeran Noya tak akan melewatkan hal sekecil apapun. Bahkan sekedar percaya pada ramalan, tentu ia akan dengan senang hati percaya.
"Astaga! Kau memerintah Ibumu? Lalu, apa gunanya banyak pelayan dan penjaga di luar sana, Putraku?" Tanya Permaisuri Chikara tak habis pikir.
Pangeran Noya menggendikkan bahu acuh, "Ya, sudah kalau tidak mau. Mungkin Ibu akan sedikit lama mendapatkan cucu." Ancam Pangeran Noya tak kalah tega.
"Oh! Astaga, Tuhan! Apa aku baru saja di ancam oleh putraku sendiri? Baiklah, baiklah Ibu akan membawanya kemari." Putus Permaisuri Chikara akhirnya. Percuma saja jika menolak, tetap ialah yang akan rugi tak mendapatkan cucu nantinya.
"Terimakasih, Bu." Ucap Pangeran Noya tulus. Menghadiahi kedua pipi Permaisuri Chikara dengan ciuman manis.
Pangeran Noya sama sekali tak menutupi rasa senangnya, bahkan ia tak sedikitpun kesal tatkala Permaisuri Chikara mulai mengoceh dan menggodanya dengan kata-kata mesum. Bahkan Pangeran Noya tak habis pikir bagaimana bisa Ibunya yang terkenal kalem dan anggun itu berubah mesum seperti ini. Pangeran Noya curiga apa itu sebabnya Pangeran Daichi akan segera memiliki anak dalam waktu dekat. Entahlah, Pangeran Noya enggan berpikir jauh.