The Great Princess

The Great Princess
Ep. 52



Buagh!


"Pangeran Noya!"


"Hey, ada apa denganmu?" Tanya Pangeran Riyu yang menahan tubuh Pangeran Noya yang hendak menerjang wajah Pangeran Akira lagi.


"Cih!" Decih Pangeran Noya menatap sinis Pangeran Akira yang juga tengah menatap tajam dirinya -sembari mengusap darah di sudut bibirnya.


"Kenapa kalian tidak tanya saja padanya!" Ucapnya, lalu kembali duduk. Namun, pandangannya tak teralihkan dari Pangeran Akira yang sekarang dibantu berdiri oleh Pangeran Ren.


"Apa masalahmu? Khe, Pangeran Manja?!" Tantang Pangeran Akira tak terima tiba-tiba dihadiahi ciuman tangan saat baru memasuki ruangan.


"Masalah? Kaulah masalahku!"


"Ada apa sebenarnya, Pangeran Noya?" Sahut Pangeran Daichi menengahi.


"Istriku bercerita tentang semua kelicikannya padaku!" Jelas Pangeran Noya tidak jelas.


"Apa maksudmu?" Pangeran Riyu mengernyit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Pangeran Noya.


Pangeran Noya kemudian menceritakan apa yang diceritakan Aika semalam padanya. Dan hasilnya, keempat Pangeran itu ikut mendidih emosi.


"Kau!" Tunjuk Pangeran Rei pada Pangeran Akira yang malah memangku kaki tenang. Tak terintimidasi dengan tatapan tajam lima pria didepannya.


"Kembalikan semua apel-apel yang selama 1 tahun ku kirimkan padamu!" Minta Pangeran Rei mengadahkan tangan pada Pangeran Akira.


"Begitupun apel kami!" Tambah Pangeran Riyu mewakili tiga Pangeran lainnya.


"Ck, ayolah itu sudah lama berlalu. Untuk apa diungkit lagi." Balas Pangeran Akira santai, mengambil apel kemudian memakannya.


"Mungkin satu tonjokan lagi tidak akan merusak wajahmu." Kata Pangeran Daichi tak kalah santai.


"Ya, satu orang satu tonjokan mungkin itu akan adil. Meski kenyataannya itu tidak menyelesaikan masalah sama sekali." Tambah Pangeran Riyu mengompori.


"Hey, hey, hey! Ayolah, kita lupakan saja oke?" Tawar Pangeran Akira mencoba cari aman. Ayolah, ia tidak mungkin menang jika lima lawan satu.


"Mana bisa begi-"


"Oh, hey, Putri Aika!" Panggil Pangeran Akira pada Aika yang kebetulan lewat untuk mengalihkan perhatian.


Aika yang tadinya berjalan sontak menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Pangeran Akira. Pangeran Akira yang melihat celah segera lari menghampiri Aika.


Dari kejauhan Pangeran Akira nampak berbincang ringan, kemudian keduanya berjalan beriringan menjauhi kelima pangeran yang masih terbakar emosi itu.


Di hari berikutnya, Aika diperkenalkan pada seluruh rakyat Sawamura. Para rakyat berseru senang melihat paras cantik dari istri Pangeran Mahkota mereka. Bukan hanya kecantikan, Aika bahkan tak henti-hentinya menebar senyum ramahnya.


Tentu hal ini membuat Putri Masako berwajah masam, karena dulu saat ia diperkenalkan pada rakyat tak ada yang mengelu-elukan namanya seperti saat ini. Dan itu membuatnya semakin muak dengan wajah bak malaikat itu. Putri Masako jadi bersemangat untuk segera  menghancurkannya.


Beda rakyat beda pula dengan para dayang, pelayan, kasim, ksatria, jendral, hingga dewan negara yang melihat kehadiran Aika di atas podium. Mereka tentu terkejut, pasalnya Aika yang mereka duga seorang pria -awalnya, tanpa di duga kini menjelma menjadi seorang wanita yang parasnya begitu cantik selayaknya bidadari -jauh berbeda ketika ia melihat ksatria dulu. Ia juga digosipkan telah meninggal dan kini justru berdiri di depan mereka dengan title baru sebagai istri dari Pangeran Mahkota.


Acara perkenalan tak berlangsung lama. Aika kembali di giring masuk ke dalam istana. Dan di tengah perjalanan, tanpa sengaja Aika bertemu pandang dengan Putri Masako.


"Selamat pa-"


"Tidak perlu berbasa-basi!" Potong Putri Masako cepat mangabaikan salam dari Aika.


"Ada apa-"


"Aku berencana mengusulkan pemilihan calon istri lagi untuk Pangeran Mahkota, bagaimana menurutmu?" Tanya Putri Masako meminta saran. Setelah kembali memotong ucapan Aika.


Aika diam. "Kau tahu bukan, jika Pangeran Nishinoya nantinya akan menjadi Raja dan seorang Raja harus memiliki banyak istri untuk memastikan calon Permaisuri mana yang berkwalitas." Tambah Putri Masako dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Hening. Tak ada jawaban apapun dari Aika. "Apa kau-"


"Aku tidak masalah jika Pangeran Mahkota menyetujuinya." Potong Aika santai, tidak terintimidasi dengan ancaman Putri Masako.


Kini giliran Putri Masako yang di buat bungkam. Senyumnya mendadak luntur digantikan wajah datar.


"Lagipula masih terlalu dini untuk memilih calon Permaisuri. Jadi, kupikir Pangeran tidak akan menyetujuinya untuk sekarang. Dan..." Aika menggantung kalimatnya. Ia melangkah mendekati Putri Masako kemudian berbisik tepat di telinga kiri wanita Shimura itu.


"... Aku tidak akan membiarkanmu berbuat macam-macam!"


Dengan langkah mantap Aika meninggalkan Putri Masako yang mematung dengan wajah mengeras dan tangan terkepal erat ditempatnya. Putri Masako berbalik dan menatap tajam punggung Aika yang berjalan menjauh.


'Aku akan menghancurkan wajah sombong itu suatu hari nanti! Tunggu saja, Aika!' Sumpah Putri Masako dalam hati, yang kemudian melangkah pergi.