
Pagi berikutnya Aika masih belum berhasil mengatasi mimpi buruk yang ditimpakan padanya. Dan berakhir dengan sekujur tubuh yang dipenuhi lebam, bekas gigitan, dan juga cakaran hewan-hewan yang hilir mudik mendatangi mimpinya.
Pangeran Noya yang semalam tidur bersamanya mulai menyadari luka-luka itu, tak ketinggalan tanda kutukan yang tanpa sengaja dilihatnya saat Aika berganti kimono.
"Ada apa dengan tatapan mesummu itu, Pangeran!" Aika mencoba membuat guyonan, yang dengan sukses gagal total.
"Mau sampai kapan kau menyembunyikan ini dariku, S.A.W.A.M.U.R.A A.I.K.A?" Desis Pangeran Noya penuh penekanan pada nama istrinya itu.
Menghembuskan nafas gugup, "Ada yang mengirimkan ilmu hitam padaku, Pangeran!" Cicit Aika mulai menceritakan semua kejadian yang dialaminya hampir 2 minggu terakhir.
Pangeran Noya menghembuskan nafas pelan. Ia mengikis jarak antara dirinya dan Aika kemudian memeluk dan mencium pucuk kepala istrinya penuh sayang. Jauh di dalam hatinya ia tahu siapa pelaku dari pengirim kutukan itu.
"Noya-"
"Aku tidak akan melakukan apapun!" Potong Pangeran Noya cepat. "Kita akan menghukumnya setelah menemukan bukti yang kuat." Terang Pangeran Noya menenangkan.
Aika mengangguk dalam pelukan Pangeran Noya. Jauh dipikirkannya Aika menyiapkan banyak cara untuk segera menguak rencana Putri Masako.
.
.
Untuk mendapatkan bukti, Aika meminta Kapten Mitsuki mencari tempat mencurigakan disekitar istana yang berkemungkinan menjadi tempat ritual atau apapun yang Putri Masako rencanakan.
Di saat yang sama, Aika memuntahkan darah dari mulutnya kala tusukan ketiga Putri Masako ditujukan ke ulu hatinya. Ia terbatuk-batuk dan tubuhnya lemas seketika.
Kapten Mitsuki yang melihat Aika hampir limbung segera membantunya berdiri tegak. "Hamba rasa Yang Mulia juga mendapatkan serangan lain." Ujar Kapten Mitsuki merasa curiga.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Aika memastikan.
Kapten Mitsuki diam tak menyahut. Ia kembali memutar otak dan menemukan suatu sugesti lain. "Sepertinya ini bukan hanya ilmu hitam tapi juga racun kematian." Jelasnya tepat sasaran.
Kapten Mitsuki menggeleng, "Ini tak semudah itu, Yang Mulia. Percayalah, kau telah diracuni." Ucapnya meyakinkan.
Aika diam-diam menyetujui ucapan Kapten Mitsuki. Ia tentu tak menampik segala fakta yang dikatakan Kapten Mitsuki adalah benar adanya.
"Bagaimana dengan Tuan Uroko. Apa beliau telah menemukan solusinya?" Tanya Kapten Mitsuki kemudian, ketika Aika sibuk bermain dengan pikirannya.
"Dia telah menemukan Miko itu." Sahut Aika cepat.
"Hamba, akan menyiapkan kebutuhan anda, Yang Mulia." Tawar Kapten Mitsuki murah hati. Ia kemudian memapah Aika menuju Paviliun Barat sesaat setelah mendapatkan anggukan persetujuan dari Aika.
.
.
Putri Masako merencanakan sebuah perjamuan makan besar bersama keluarganya dan tak lupa menyertakan keluarga Ishikawa dan Nakashima untuk memastikan sihir hitam yang dikirimnya. Sekaligus memastikan kapan kiranya kematian akan mendatangi rival abadinya itu.
Tak lupa sore itu, ia juga mengirimkan seorang pelayan yang diutusnya untuk mengundang sang pemeran utama yang hampir selama beberapa hari tak jua menampakkan batang hidungnya.
"Kau tidak perlu pergi!" Cegah Pangeran Noya saat Aika bersikeras mengenakan kimono suteranya dan berniat menghadiri perjamuan makan yang direncanakan Putri Masako.
Aika menggeleng, "Aku hanya ingin memastikan siapa di antara mereka yang menjadi pelakunya." Jelasnya kalem.
"Tapi-"
"-Aku baik-baik saja, Noya!" Potong Aika cepat. Ia mendekati Pangeran Noya yang duduk gusar di tepi ranjangnya dan dengan berani menduduki pangkuan Pangeran Noya dan mencium mesra bibir merah milik kekasihnya itu.
Pangeran Noya terlena oleh ciuman manis milik Aika dan dengan intens mengikuti permainan sang istri. "Tetaplah bersamaku!" Pintanya setelah berhasil mengendalikan diri dari atensi panas keduanya.
Aika mengangguk setuju, dan keduanya berjalan bersama menuju perjamuan makan.