
Putri Masako menggendong Pangeran Udon yang kini berusia 3 bulan dikediamannya. Diwajahnya menampakkan senyum keibuan. Menggoyang-goyangkan putranya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Lihat Putraku! Wajahmu adalah cerminan dari calon Kaisar masa depan." Ucap Putri Masako mengelu-elukan putranya.
"Seperti inilah seorang calon Kaisar harus di didik dengan tangan dan kekuasaan seorang Bangsawan, bukan pelayan." Pujinya lagi, namun diiringi sindiran untuk rival abadinya, Putri Aika.
Putri Masako sejenak menyayangkan rencananya, bagaimana bisa Aika berhasil melewati kutukan itu dan tetap hidup sampai sekarang. Ini sungguh penghinaan tak langsung pada kemampuannya.
"Apa dia iblis?" Bisiknya pada diri sendiri.
"Ya, pasti benar. Mana ada seorang manusia yang masih hidup setelah hampir meregang nyawa?!" Ungkapnya tak habis pikir.
"Pangeran Udon, kau harus cepat besar hmm.. Gunakan kekuasaanmu untuk mengusir wanita penyihir itu dari Istana ini! Dengan begitu Ibu akan selalu tidur dengan nyenyak." Pesan Putri Masako pada putranya yang setia memejamkan mata.
Putri Masako terus mengamati wajah putranya, dan mengernyit curiga kala melihat sisian wajah putranya yang terdapat bintik kemerahan. "Apa ini?" Tanyanya.
"Fuen, kau diluar?" Panggilnya pada sang pelayan.
Fuen masuk dengan tergesa. Ia bingung melihat raut wajah khawatir Putri Masako. "Ya, Yang Mulia."
"Lihat! Apa ini?!"
Fuen mendekati Pangeran Udon dan terbelalak horor ketika mendapati apa arti dari bintik merah itu. "Astaga! Ini campak, Yang Mulia!" Pekiknya heboh.
Putri Masako ikut dibuat terkejut, ia sungguh ketakutan karena penyakit campak belum diketemukan obatnya dimasa kini, dan setiap kasus serupa selalu berujung pada kematian. "Cepat panggil tabib!" Perintahnya dengan airmata yang mulai turun secara perlahan.
Seluruh istana heboh oleh sakitnya Pangeran Udon. Pelayan, Kasim, Dayang bahkan Pangeran dan Permaisuri pun telah mendengarnya. Permaisuri Chikara berjalan cepat menuju Heya -Balai khusus pengobatan.
"Anda dilarang masuk, Permaisuri." Kazumi menghalangi Permaisuri Chikara yang hendak masuk ke dalam balai kesehatan.
Permaisuri Chikara menurut, ia kemudian melirik kesamping dan menemukan Putri Masako menangis dalam pelukan Fuen. "Putri, jangan bersedih semua akan baik-baik saja." Permaisuri Chikara menenangkan menantu pertamanya. Ia meminta Fuen menyediakan meja dan kursi untuk dirinya dan Putri Masako duduk.
Permaisuri Chikara menghapus jejak airmata Putri Masako. "Tak apa, Tabib akan keluar dengan berita baik." Ucapnya kembali menenangkan.
Beberapa saat kemudian datang Pangeran Daichi bersama Pangeran Noya dan Aika. Ketiga orang itu datang dengan wajah yang berbeda-beda. Putri Masako seketika memeluk suaminya. Namun, Pangeran Daichi tetap bergeming dan membiarkan Putri Masako memeluknya.
"Pangeran, maafkan aku. Karena aku Pangeran jadi seperti ini." Sesalnya. Pangeran Daichi tetap kekeuh dengan wajah datarnya. Ini akan lain cerita jika Pangeran Daichi tidak tau siapa ayah dari anak malang itu. Sayangnya, ia tau semuanya dan itu membuatnya semakin tak peduli.
"Tenangkan dirimu, Putri." Aika berujar iba. Namun, bagi Putri Masako itu adalah sebuah ejekkan. Ia melepas pelukannya dan mendekati Aika.
Plakk!!!
Satu tamparan ia layangkan. Pangeran Noya yang melihat hal itu mendorong jauh Putri Masako. "Jauhkan tanganmu darinya, Putri!" Ancam Pangeran Noya penuh penekanan.
Permaisuri Chikara menarik Putri Masako. "Ada apa denganmu?" Tanyanya bingung. Putri Masako seketika pingsan. Bahkan Pangeran Daichi yang melihatnya malah menjauh pergi. Diikuti oleh Aika dan Pangeran Noya kemudian.
*
*
*
Aika terduduk di tepi danau buatan milik keluarga Sawamura. Ia sedang menikmati gigitan-gigitan kecil dari bibir ikan koi yang menggelitik kakinya.
"Kemarilah Jendral Mitsuki!" Panggilnya.
Jendral Mitsuki yang sejak tadi belajar di gazebo mendekat ketika namanya dipanggil.
Jendral Mitsuki awalnya berniat tak menyahut, tapi ia kemudian menjawabnya singkat. "Ya."
Aika mengangkat sebelah bibirnya. "Apa ini teluh yang kembali pada Tuan yang gagal mengirimkan kutukan?!"
Jendral Mitsuki lagi-lagi menjawab, "Ya."
Sejenak Aika merubah ekspresinya menjadi tak dapat ditebak. "Kuharap Udon baik-baik saja." Bisiknya.
Jendral Mitsuki meliriknya. "Kenapa anda berkata demikian?" Tanyanya.
Aika dengan tenang menjelaskan. "Karena ia tak bersalah. Harusnya Dotto atau Putri Masako saja yang terkena teluh ini."
Hening. Kedua sekutu itu hanya fokus pada isi fikiran masing-masing.
"Apa aku bisa membantu?" Tanya Aika lagi.
Jendral Mitsuki nampak berfikir. "Jika, Yang Mulia bersedia berdoa dengan sungguh-sungguh hamba yakin itu bisa sedikit membantu." Usulnya.
"Do'a, ya? Baiklah! Buat altar do'a untukku di Paviliun Tenggara. Aku ingin berdoa untuk Udon." Perintahnya. Jendral Mitsuki dengan siap melaksanakan perintah itu, namun sebelum tubuhnya benar-benar pergi ia sempat melirik Aika dengan tatapan yang sulit diartikan.
*
*
*
Istana Shimura
Di tengah kegaduhan akibat sakitnya Pangeran Udon, istana Shimura justru sedikit meriah dengan adanya puluhan Geisha yang disewa oleh sang Perdana Menteri. Bukannya ia tak mendengar berita itu, hanya saja ia butuh sedikit hiburan.
Di samping Dotto yang tengah bergulat dan bercumbu dengan 2 orang gadis. Kapten Kin nampak duduk disana bersama dengan kakak sulungnya -Shin.
"Apa yang mengganggumu, Kin?" Tanyanya perhatian. Pasalnya wajah adiknya itu tak pernah menunjukkan kefrustasian seperti saat ini.
"..."
"Apakan ini karena gadis yang kau sukai itu? Aika?!" Tebak Shin tepat sasaran.
Kapten Kin lama tak merespon, hingga akhirnya ia mengangguk jujur. "Sejujurnya aku telah lama mengetahuinya. Saat itu aku dan kroniku mencoba melucuti pakaiannya. Saat itulah aku tanpa sengaja menyentuh tubuh wanitanya." Aku Kapten Kin jujur.
"Lalu dimana masalahnya?"
"Tentu saja dengan statusnya yang telah bersuami, dengan Pangeran Noya yang menjadi rivalku. Apa dalam hal ini aku juga harus bersaing dengannya."
"Kurasa Pangeran Noya tak akan mengalah semudah itu. Lepaskan saja Kin, kau bisa bermain dengan banyak wanita yang lebih cantik dari Aika." Shin mencoba melapangkan hati adiknya.
"Tapi, hanya Aika yang membuatku merasakan debaran itu." Elak Kapten Kin.
Shin menghela nafas. Urusan perang dan cinta memang sama rumitnya, namun perang akan berakhir jika kita berhasil membunuh lawan. Tapi, cinta tak semudah itu.
"Jangan khawatir! Aika pasti akan melihat kearahmu suatu hari nanti." Ucapnya menenangkan. Shin kemudian memanggil seorang Geisha ternama untuk melayani Kapten Kin.
"Guren." Panggilnya. Geisha itu mendekat. Shin mendekatkan bibirnya dan berbisik menggoda.
"Puaskan adikku malam ini!"