The Great Princess

The Great Princess
Ep. 38



Seorang wanita cantik dengan surai emas menatap kosong jeruji besi kamarnya. Matanya menerawang jauh pada rembulan yang nampak besar dibalik tembok dingin tempatnya bernaung.


"Aika..."


Greek~


Suara decitan besi yang dibuka terdengar. Seorang pria memasuki ruangan itu dengan langkah tegapnya. Menghampiri wanita yang menjadi tawanannya hampir 12 tahun lamanya.


"Kapan? Kapan kau akan membawaku pulang?"


Ucapan si wanita berhasil menghentikan langkah pria itu lebih mendekat kearahnya. Si wanita melirik dengan iris kosongnya memperlihatkan keindahan mata yang telah lama kehilangan cahayanya itu.


"Kau telah berjanji. Jika aku mau makan dan menurut padamu kau akan membawaku kembali padanya." Suara si wanita terdengar putus asa.


Pria itu kembali melangkah saat dirasa si wanita hanya kembali terdiam. Ia berdiri tepat di samping wanita itu kemudian menggenggam tangannya.


Si wanita tetap diam menurut, ia hanya memfokuskan matanya pada pria itu sebagai bentuk tanya, 'Apa yang kau inginkan?''


"Aku akan mengantarmu pulang!"


Setelah menunggu lama, akhirnya si pria menyuarakan baritonenya. Membuat si wanita dengan luka goresan diwajahnya itu tersenyum manis untuk yang pertama kalinya, setelah hampir 12 tahun senyuman itu tak pernah nampak di wajah ayunya.


Tak mau menunggu lama wanita itu bangkit dan berjalan beriringan dengan pria dewasa itu pulang menuju Negaranya.


Kita akan bertemu kembali, Dotto.


.


.


.


Aula Utama, Istana Sawamura


Saat ini di dalam Istana Sawamura, lebih tepatnya aula utama tengah dipersiapkan untuk acara pemilihan istri untuk sang Pangeran Mahkota Noya yang akan diadakan 1 Minggu lagi.


Persiapan yang dilakukan langsung oleh sang Permaisuri demi Putra kesayangannya itu sudah mendekati angka 37%. Dan ia juga dibantu oleh menantu pertamanya, Sawamura Masako.


"Ibu!" Panggil Masako.


"Sepertinya ini sudah cukup untuk hari ini." Lapornya dengan suara mendayu manis.


"Ya, kurasa juga begitu." Sahut Chikara membenarkan ucapan menantunya itu.


Kemudian Chikara membawa Masako untuk minum bersama di area gazebo (di belakang istana) sambil melihat pemandangan luar.


"Apa ini akan berhasil, Putri Masako?" Tanya Chikara tiba-tiba, memecah keheningan diantara keduanya.


"Apa yang Ibu khawatirkan?"


"Pangeran Nishinoya! Aku khawatir padanya." ujar Permaisuri Chikara dengan helaan nafas panjang.


"Apa ini tentang pemuda yang disukainya itu?" Tanya Masako dengan alis berkerut.


Chikara mengangguk, kemudian menatap wajah ayu Masako. "Aku tidak tahu jika ia begitu kehilangan separuh hidupnya saat pemuda itu pergi..." Chikara kembali menggantungkan kalimatnya, mencoba mengurangi rasa sesak yang mendera hatinya tiba-tiba.


"...jika aku tahu mungkin aku akan menyatukan keduanya." Lanjut Chikara dengan nada penyesalan yang kentara.


"Tapi, itu tidak mungkin! Pangeran Noya adalah seorang Putra Mahkota." Sahut Masako mengingatkan.


"Tidak, jika ada Pangeran Daichi yang bisa menggantikan posisinya. Aku yakin bahwa Pangeran Noya tidak akan keberatan jika itu untuk keinginannya yang lain." Jelas Chikara dengan tatapan menerawang.


Masako diam-diam menyayangkan kesempatan itu. Jika awalnya ia tahu kalau Noya sama menyimpangnya dengan Daichi maka ia hanya perlu membuat Noya turun sendiri dari jabatannya dengan menikahi seorang pria, dan meminta Daichi yang naik kembali ke posisinya.


Tapi, sekarang kesempatan itu telah hilang lenyap dari pandangan matanya. Karena siapapun pemuda yang disukai Noya telah mati dan sekarang akan diadakan pencarian calon istri untuknya.


"Sudahlah, Bu! Sekarang yang terpenting adalah kesehatan Pangeran Noya yang harus kita khawatirkan lebih dahulu. Bukankah ia tidak ingin bertemu dengan siapapun?" Tanya Masako bersikap simpati dengan mengelus lengan Chikara.


Permaisuri Chikara mengangguk, "Ya, dia bahkan menolak kunjungan Daichi. Aku dengar ia hanya duduk termenung di kamarnya. Bahkan saat Kaisar Hideki datang untuk membicarakan tentang pernikahan ia tetap bungkam." Jelas Chikara tidak lagi menyembunyikan raut sedihnya.


"Tidak apa, Bu. Mungkin dengan adanya calon istri untuknya akan sedikit mengobati lukanya." Ucap Masako mencoba menenangkan.


Chikara mengangguk mengerti dengan mengulas senyum kakunya.


'Dan kemudian aku akan menghancurkan semua wanita itu.' Tambah Masako dalam hati dengan seringai yang tak menyentuh mata Chikara.


Bersambung...