The Great Princess

The Great Princess
Ksatria Baru



Pagi harinya setelah melewati mimpi buruk dengan hadirnya Noya dalam mimpinya yang terus minta nikah(?) Aika kembali berjalan memasuki istana Sawamura dengan wajah di tekuk sebal.


Hari ini, jika bukan karena janjinya dengan si Jendral Besar ia tidak akan sudi datang ke tempat di mana mimpi buruknya itu berasal. Dan yang membuatnya semakin menekuk sebal kuadrat adalah takdir benang merah yang mempertemukannya dengan si pangeran mesum di pagi harinya yang sudah hancur bertambah berantakan.


"Ck, kenapa dia ada disini?!" gerutunya dengan suara berbisik, matanya memicing kearah Noya dan Daichi yang sedang berduel pedang di sebuah ruang dojo.


"Aika!" panggilan suara baritone, menghentikan segala gerutuannya. Membuat si pemilik nama menoleh cepat dan menemukan Ryuichi berdiri tepat dibelakangnya.


Aika hanya diam membatu melihat Ryuichi yang menjulang tinggi dihadapannya. Otak cerdasnya mendadak putus urat melihat Ryuichi yang menatap tajam dan dingin dirinya.


"Kau terlambat!" ucap Ryuichi dengan wajah datar dan mata menusuk tajam. Seolah menguliti kulit Ivory-nya yang mengkilap berkat keringat dingin.


"Un, ma..af a..ku ter..sesat tadi." balas Aika gugup, merasa terintimidasi oleh tatapan yang semakin menusuk itu.


"Aku tidak menerima alasan! Cepat masuk ke barisan!" perintahnya tanpa mengalihkan tatapan dari tikus yang sedang terpojok itu.


Aika meneguk ludah susah payah, ia bingung dengan perintah itu. Tapi, ia masih sayang nyawa sehingga menurut saja tanpa ada satu kata yang terucap dari bibirnya. Aika melangkah menjauh dengan jantung yang hampir lepas dari tampuknya dan pergi tanpa mau menoleh kebelakang.


Ditengah latihannya, Noya tidak sengaja melihat kearah Aika yang berjalan ke arah para ksatria yang sedang berbaris. Sedang apa dia disini? tanyanya dalam hati.


"Ada apa, Noya?" tanya Daichi heran, ketika melihat Noya yang berhenti mengayunkan pedangnya dan mengalihkan pandangan keluar dojo.


"Apa aku sedang berhalusinasi?" tanya Noya sambil menunjuk ke arah Aika berjalan.


Daichi melihat kearah jari yang di tunjuk Noya dan tersenyum kecil. "Kurasa tidak. Itu benar-benar dia." ucapnya.


"Sedang apa dia di sini, Kak? Bukankah ia sudah kembali ke desanya satu bulan yang lalu? Aku juga sempat terkejut saat melihatnya di rapat kemarin." ucap Noya panjang lebar, wajahnya menampilkan ekspresi yang sulit diartikan antara senang dan bingung.


Daichi tak bisa menahan tawa gelinya saat melihat wajah tidak biasa Noya. Demi apa wajah stoic itu bisa berubah 180° hanya karena pemuda manis yang baru dikenalnya dalam hitungan hari.


Noya yang menyadari kebodohannya segera memasang wajah temboknya kembali. Ia mendengus kasar untuk menghentikan tawa geli Daichi yang tak kunjung berhenti itu. Dengan kesal karena tak juga mendapat perhatian Daichi, dengan wajah malaikatnya ia menginjak kaki Daichi lalu melenggang pergi kearah Aika pergi. Mengabaikan pekikakan, rintihan, dan sumpah serapah Daichi tentu saja.


.


.


.


Aika yang bingung dengan apa yang harus dilakukannya pergi menghampiri seorang "wanita" yang sedang memimpin barisan.


"Ano, Permisi!" sapanya kikuk merasa menjadi pusat perhatian saat ucapannya membuat seluruh orang dalam barisan itu memperhatikannya.


Bukannya mendapat balasan ia malah mendapat tatapan intens dari wanita itu. Ke atas ke bawah lalu ke atas lagi. Membuat Aika berdiri gelisah ditempatnya.


"Kau ksatria baru?" tanyanya, suara semerdu kapasnya mengalun lembut di telinga Aika, membuat si empunya terpukau.


"Apa kau mendengarku?" panggilnya lagi, mengguncang pelan bahu kecil Aika.


Kedip, Aika tersadar dari acara melamunnya. Ia menelengkan kepala dengan tatapan seolah berkata, apa kau harpa malaikat?


Si wanita mengernyitkan alis tidak mengerti. Ia kemudian menjitak kepala Aika pelan untuk menyadarkan Aika dari kebodohannya.


"Akh! Sa..sakit!" pekik Aika kecil sambil mengelus benjolan kecil bekas ciuman tangan si wanita.


"Apa kau ksatria baru?!" tanyanya lagi lebih menekan kalimatnya, mulai kesal sepertinya.


"Ugh, i..iya." ucap Aika tergagap. Tadinya sih mau marah, tapi melihat wajah cantik yang berubah garang itu ia menelan kembali ucapan yang sudah di ujung lidah. Bahkan ia tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.


"Kalau begitu apa yang sedang kau lakukan disana? Lalu, di mana baju ksatriamu?" tanya wanita itu lagi, wajahnya nampak tak bersahabat.


Aika hendak menjawab namun segera diurungkannya saat melihat wajah sangar itu. Sebagai gantinya ia hanya menggeleng cepat sebagai jawaban.


Menghela nafas lelah, sembari menghitung dalam hati untuk meredam amarahnya. Si wanita memberi instruksi, "Pergilah kesana! Cepat kembali dalam 15 menit."


Aika mengalihkan pandangan ke arah asrama yang di tunjuk oleh wanita itu. Tanpa mau kena semprot lagi ia segera melenggang masuk ketempat itu. Namun, langkahnya segera terhenti saat...


"Bodoh!" ...suara baritone Noya terdengar.


Sial, tidak adakah yang lebih buruk dari ini. Aika merasa dunia sedang tak berpihak padanya. Ayolah, ia baru saja kejatuhan tangga dan Noya datang sebagai batu sandungannya yang lain. Oh, One Hundred Shit! untuk hari ini.


Aika berbalik cepat, memandang bosan kearah Noya yang sedang menyilakan tangan dengan dagu terangkat tinggi. Bahkan Aika terkesan ogah-ogahan saat berojigi.


"Apa yang sedang kau lakukan disini, Bodoh?" tanyanya tanpa basa-basi. Bahkan dengan cuek mengabaikan ojigi Aika.


"Apa yang sedang anda lakukan disini, Pangeran?" ucap Aika dengan mengembalikan pertanyaan Noya.


"Ck, aku bertanya lebih dulu. Jadi, kau yang pertama harus menjawabnya." decakan kesal Noya lontarkan disertai nada gemas. Pasalnya ia sudah sangat penasaran dengan alasan adanya Aika di dalam istananya.


Mendengus kecil, Aika enggan meladeni Noya sebenarnya. Ia akan kena semprot lagi kalau sampai terlambat kembali ke lapangan. Jadi, daripada berdebat mendingan jawab lalu bergegas pergi secepatnya.


"Saya adalah ksatria baru, Pangeran." jelasnya singkat, kemudian berojigi hendak pergi. Namun, Noya kembali meraih pergelangan tangannya.


"Kau menjadi ksatria?!" pernyataan Noya terlontar kelewat antusias. Seolah baru mendapat lotre dari hasil judinya.


Aika mengangguk kecil dan hendak melepas tangan Noya yang menahan tangannya. Namun, Noya semakin mengeratkan pegangannya. Membuat Aika meringis kecil.


"Saya harus segera pergi. Saya hanya di beri waktu selama 15 menit (itupun juga telah dipotong 5 menit untuk meladeni si mesum ini) untuk bersiap-siap. Jadi, tolong lepaskan tangan saya, Pangeran." pinta Aika mencoba sopan. Ayolah, ia tidak mau kena marah lagi dan menjadikan hari ini sebagai hari terburuk dalam catatan kehidupannya.


Noya melepas tangannya. Tanpa menunggu reaksi atau apapun itu. Aika segera berbalik dan segera melakukan kegiatan awalnya yang sempat tertunda.


Dibelakangnya Noya manatap punggung kecil Aika dengan tatapan yang sulit diartikan. Bibirnya menyeringai mengerikan.


"Takdir memang tidak pernah salah. Tinggal menghitung hari maka kau akan menjadi milikku, Aika." gumam Noya pelan.


.


.


.


Bahkan setelah berhasil menemukan seragam ksatria-nya, ia juga kesulitan mencari tempat ganti. Untungnya ada sesama ksatria yang berbaik hati menolongnya dengan menunjukkan letak kamarnya di asrama itu sekalian. Membuat Aika dapat sedikit bernapas lega.


Kembali ke realita di mana Aika mendapati dirinya terlambat mengikuti pemanasan. Ukai (si pemimpin barisan) memberinya hukuman dengan memintanya mengangkut sekarung pasir naik-turun bukit sebanyak 50 kali.


Aika hampir menangis saat mendengar perintah bernada mutlak itu. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melewati rintangan sebesar dan seberat apapun. Apa kata ibunya jika melihat ia menangis hanya karena hukuman sekecil itu. Bahkan ia tidak menangis saat ibunya pergi. Akan jadi penghinaan bagi ibunya jika ia melakukan itu.


Membulatkan tekadnya Aika mulai membopong karung pasir itu di punggungnya. Ia sempat hampir terjerembab karena kehilangan keseimbangan. Namun ia segera memantapkan kakinya untuk membungkuk dengan benar. Dan dengan segala tekad ia mulai melangkah dan mendaki bukit (naik-turun) sebanyak 50 kali hari itu.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Dibelahan bumi lain. Seorang wanita cantik duduk termangu di dekat jendela. Wajah cantiknya terpancar indah oleh cahaya bulan. Surai kuningnya terbang tertiup angin. Kaki telanjangnya menekuk menyentuh dadanya. Tangan putihnya memeluk kaki agar mendekat ke tubuh ringkihnya.


Mata indahnya menatap kosong langit hitam diluar sana. Tubuh berbalut nagajuban tipis itu diam membeku bak patung es. Bibirnya memucat karena kedinginan. Hanya kesunyianlah temannya sepanjang hari.


Krieet~


Decit pintu jeruji besi terdengar. Tanda seseorang memasuki ruangannya. Namun wanita itu tak bergeming barang sejenak. Seorang pria menghampirinya.


"Makanlah!" perintah pria itu. Ia melemparkan makanan yang dibawanya ke dekat kaki yang di pasung itu.


Hening. Tak ada suara lagi yang terdengar setelahnya. Bahkan piring itu tak juga bergeser sesenti pun dari tempatnya.


"Apa maumu?" tanya pria itu dengan nada tenang.


"..."


"Sampai kapan kau mau terus diam?"


"..."


"Aku tidak punya waktu untuk terus meladenimu."


"..."


"Percuma kau mati disini tanpa berbuat apapun."


"..."


"Kau-"


"Pulangkan aku!" suara si wanita terdengar lirih dan nyaris berbisik jika tidak memasang telinga dengan benar. Matanya menatap kosong pria samurai di depannya.


"..." giliran si pria yang diam membisu.


"Aku mau pulang." pinta wanita itu lagi, kemudian kembali memperhatikan bulan.


Si pria tetap diam. Lama pria itu memandangi wanita yang telah mencuri hatinya itu dalam diam.


"Aku akan membawamu pulang jika kau mau makan." ucap pria itu akhirnya. Ia melangkah keluar dan kembali mengunci penjara itu.


Didalam remangnya cahaya bulan si wanita melirik punggung pria yang mulai menjauh itu. Kemudian ia tersenyum kecil dan bergumam.


"Tunggu aku, Aika."


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Istana Shimura


Di istana nya Dotto semakin gencar memperluas daerah kekuasaanya. Ia semakin mencekik rakyat dengan berbagai pajak yang harus dibayar untuk memenuhi kekosongan kas istana (yang sebenarnya adalah untuk acara pestanya).


Selain itu ia juga membuat para pedagang menjual dagangan mereka dengan harga pasar kemudian kembali menjualnya dengan harga tinggi. Tak kehabisan akal ia juga mengurangi jumlah dana untuk setiap desa yang berada di bawah kerajaan Sawamura.


Dotto bahkan mengancam para gubernur untuk mendukung rencana kudetanya menurunkan Kaisar Hideki dari tahta. Tentu saja para gubernur awalnya menolak, namun saat Dotto menunjukkan buku utang piutang para gubernur. Mereka mengkerut takut dan memilih mengikuti kemauan Dotto.


Semakin hari ia semakin berani bertindak demi harta. Ia bahkan tidak memperdulikan tindakannya yang akan tercium oleh sang Kaisar. Dotto merasa Kaisar terlalu bodoh untuk tahu tindakannya.


Dan seluruh ketakutannya menjadi lenyap tak berbekas saat melihat dua pangeran Sawamura bodoh yang sempat menjadi kekhawatirannya ternyata hanya seonggok daging yang tidak berkwalitas.


Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti bulan lagi. Dotto semakin lincah memainkan strateginya didalam kerajaan. Ia bahkan telah membangun berjuta-juta pasukan (dari dana rakyat dan gubernur) yang ia siapkan untuk acara puncak pemberontakannya suatu hari nanti.


Dotto bahkan telah menyiapkan seorang wanita yang akan menjadi bidaknya untuk memantau pergerakan Daichi didalam istana. Kenapa Daichi? Karena menurut Dotto, Daichi memiliki pengamatan yang jauh lebih jeli dan sangat cerdas.


Daichi akan menjadi dinding penghalang untuk rencananya. Itu sebabnya harus ada tali pengikat yang akan membunuh pangeran tolol itu sebelum ia berulah.


Tok.. Tok.. Tok..


Sreek!


Suara shogi digeser pelan terdengar. Seorang wanita dengan sanggul rumit dan kizashi bunga mawar merekah masuk dengan anggun.


"Kau sudah datang?" tanya Dotto sambil menyeduh ocha-nya.


Wanita itu hanya mengangguk, lalu membuka simpul obinya dengan perlahan. Setelah obinya lepas ia berjalan mendekat kearah Dotto yang sudah menepuk pahanya sebagai tempat duduk wanita itu.


Wanita yang telah duduk manis itu segera mendapat ciuman ganas dari Dotto. Tak mau tinggal diam tangan Dotto mulai merayap kedalam belahan kimono yang terbuka dibagian dadanya.


Kegiatan yang semakin panas itu dimulai saat Dotto meremas kedua payudara si wanita. Setelah puas ia membaringkan tubuh wanitanya itu keranjang dan memulai olahraga panas mereka hingga beberapa kali ronde.


"Pergilah ke istana besok! Temui Daichi dan minta ia menikahimu. Setelahnya, bunuh ia dengan racun atau apapun itu." perintah Dotto sambil menyulut cerutunya. Ia telah kembali duduk dikursinya dengan tubuh separuh telanjang.


Wanita ya masih terkulai dikasur itu menyeringai, "Akan ku lakukan jika kita bermain 3 ronde lagi. Bagaimana?" tantangnya.


Tanpa ada niatan untuk menolak, Dotto mematikan cerutunya dan kembali merangkak naik keranjangnya. Dan malam itu keduanya kembali melakukan pergulatan panas mereka sampai menjelang pagi.


To be continue...