The Great Princess

The Great Princess
Ep. 56



Aika tengah berjalan menuju sisian lain dari Paviliun Barat. Tadi setelah selesai bersiap, seorang pelayan mengatakan bahwa Pangeran Nishinoya ingin bermalam dengannya dan sekarang ia tengah menuju kamar dimana suaminya itu berada.


Yutaka yang juga ikut berjalan di belakang Aika melirik sekilas wanita yang baru beberapa hari menyandang marga Sawamura itu. Ia sedikit bergindik saat mengingat cerita dari empat pelayan yang langsung minta keluar saat itu juga.


Cklek!


Suara pintu tertutup menyadarkan Yutaka dari lamunannya. "Kenapa kita di sini?" Tanyanya pada pelayan di belakangnya.


"Putri Aika memerintahkan kita kembali dan menjemputnya besok pagi." Jelas salah seorang pelayan menjawab tanya Yutaka.


Tanpa mau membuang waktu Yutaka segera beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya menuju tuannya yang sebenarnya.


Sementara itu di dalam kamar sang Pangeran, Aika dan Pangeran Noya tengah berbincang-bincang ringan.


"Benarkah? Ibu bilang begitu?" Tanya Aika tanpa menyembunyikan tawa gelinya ketika Pangeran Noya menceritakan perbincangan siangnya bersama sang ibu.


"Mau melakukannya?" Tawar Pangeran Noya pada pangkuan Aika. Ia tengah menikmati elusan tangan Aika di kepalanya saat ini.


"Tidak!" Tolak Aika enteng, masih setia mengelus kepala Pangeran Noya penuh sayang.


Pangeran Noya membuka mata kilat kala mendengar penolakan dari istrinya itu. "Sekarang apa lagi alasannya?" Protesnya tidak senang karena ajakannya melakukan itu selalu di tolak Aika.


"Ayolah, Noya tamu bulananku belum selesai. Tidak baik melakukannya saat aku sedang dalam keadaan kotor." Jelas Aika mencoba memberi Pangeran Noya pengertian.


"Kenapa lama sekali?" Gerutu Pangeran Noya terdengar kesal.


"Kau memintanya saat aku baru datang. Dan sekarang baru 3 hari jadi belum selesai, Noya." Gemas Aika mencubit hidung bangir Pangeran Noya.


"Ck, cepat datang padaku saat kau sudah selesai! Mengerti!?" Tuntut Pangeran Noya mutlak tak terbantahkan.


Aika mengangguk berulang, dan selanjutnya bibirnya di ***** habis oleh bibir Pangeran Noya.


.


.


.


Brak! Pyarrr!


"HAAAHHH!!! BRENGS*K WANITA J*LANG!!!" teriakan Putri Masako menggema di seluruh penjuru ruang kamarnya.


"Pu-Putri tenanglah. Pikirkan tentang bayimu. Jangan mengumpat sembarangan!" Yutaka mencoba menenangkan Putri Masako yang murka karena berita yang dibawanya.


"Bagaimana aku bisa tenang jika sekarang Pangeran Noya dan wanita jal*ng itu sedang bercinta?!" Murka Putri Masako tak menurunkan kadar emosinya.


"Khe, bawakan dia racun itu setiap hari! Pastikan dia meminumnya dan lakukan apapun agar ia segera lenyap dari dunia ini!" Perintah Putri Masako yang langsung di sambut anggukan dari Yutaka. Setelahnya Yutaka mohon undur diri dan malam itu pun berlalu begitu saja.


.


.


.


Pagi harinya, dua orang pelayan membawakan 1 set makanan lengkap -dengan racun di dalamnya. Awalnya Aika tidak merasa curiga mengingat makanan itu selalu di makannya setiap hari. Namun, indra penciuman dan perasanya tidak pernah salah dalam mengenali bau ataupun rasa apalagi menyangkut sesuatu yang familiar seperti racun.


Aika lagi-lagi tersenyum saat tahu racun apa yang tersaji tepat dihadapannya. Racun yang cukup diketahui Aika bermanfaat sebagai anti kesuburan.


"Kalian sudah makan?" Tawar Aika pada kedua pelayan dihadapannya. Kedua pelayan itu menggeleng kompak.


"Mendekatlah! Aku tak mungkin menghabiskan seluruh makanan ini sendirian!" Perintah Aika dengan suara mendayu manis. Tak lupa senyum penuh misteri ia pajang apik di wajahnya.


Kedua pelayan itu saling berpandangan. Mereka tentu ingat pesan Yutaka yang mengatakan bahwa makanan itu telah dibubuhi racun.


"Ti-tidak, Putri! Kami akan makan nanti." Pelayan pertama mencoba berkilah.


"Apa maksudmu? Ayo, kemarilah! Aku tahu benar rasanya kelaparan. Kalian pasti ingat siapa aku yang dulu. Aku juga seperti kalian yang tidak makan sebelum tugasku selesai. Jadi, kemarilah dan makan ini!" Tawar Aika murah hati, ia sengaja menyodorkan bekas lepehan nasi kunyahannya.


Kedua pelayan itu bergeming di tempatnya. Mereka menggeleng berkali-kali demi menolak tawaran Aika. "Ti-tidak, Putri! Ka-"


"Kenapa kalian terus menolak?" Tanya Aika skeptis dengan memangku wajah.


"Apa kalian tahu apa yang ada di dalam nasi, sayur, ikan, dan juga ocha ini!" Tambah Aika dengan dingin dan kembali menegakkan tubuhnya. Dengan santai ia membanting meja berisi makanan itu hingga seluruh isinya tumpah ke lantai.


Kedua pelayan itu berjenggit terkejut saat suara meja dan mangkuk-mangkuk itu beradu dengan lantai. Jujur, mereka tidak tahu kalau Aika akan membanting meja itu dengan wajah yang terlihat tidak mengeluarkan emosi.


"Jadi benar!? Kalian berdua kemari!" Suruh Aika masih dengan ketenangan yg luar biasa.


Kedua pelayan itu berjalan patah-patah. Terlalu takut menjadi korban kemarahan Aika seperti empat pelayan yang keluar tempo hari.


"Cepat kemari!" Gemas Aika mulai tidak sabar meski nada bicaranya masih terdengar normal. Kedua pelayan itu berjalan sedikit cepat menghampiri Aika.


"Pungut dan makan sampai habis!" Perintahnya mutlak, meski wajah dan intonasi masih terdengar biasa-biasa saja.


"Aku akan memberi 100 kali hukuman cambuk jika kalian berani mengabaikan perintahku!" Tambahnya santai saat salah satu dari pelayan itu hendak membuka mulut.


Tak mau membuat si Rubah Betina marah mereka terpaksa memungut makanan yang telah tergolek di lantai (dan juga beracun) itu dan memakannya tanpa tahu akibatnya nanti.


"Mulai hari ini dan seterusnya kalianlah yang akan memakan semua makanan atau apapun itu yang diberikan padaku!" Tegas Aika mutlak dan mulai membaca buku setelah mendapat anggukan takut-takut dari kedua pelayan itu.