
Disebuah barak khusus, terdapat dua orang berbeda usia tengah berdiri saling berhadapan. Tinggi badan yang berbeda hampir 15 cm itu nampak terlihat jelas oleh bias cahaya lilin di dalam ruangan.
Menilik kedalam barak, terlihat Kageyama Mitsuki tengah sibuk membantu sang ayah mengenakan baju zirah-nya dan melihat beberapa bagian yang tergores dan koyak.
Norio yang melihat Putranya menghentikan gerakan memakaikan zirah, mengikuti arah pandang Mitsuki dan berkata, "Semua goresan, robek, atau tanda apapun disana adalah bukti kemenanganku."
Mitsuki menatap sang ayah dengan datar. Meski begitu ada sebersit kebanggaan dalam hatinya saat mendengar penuturan sang ayah.
"Kenapa kau tak menanyakan tentang Ukai?" Tanya Norio tiba-tiba.
Mitsuki menggeleng, "Aku yakin Ayah sudah punya rencana." Ucap Mitsuki dengan tenang. Percaya pada rencana yang telah dibuat ayahnya.
Norio menatap Mitsuki datar. Meski begitu tatapannya memiliki arti yang sulit ditafsirkan. Setelah selesai membenahi diri Norio melangkah keluar dari barak bersama Mitsuki dibelakangnya. Namun baru beberapa langkah keluar, Tooru sudah menghadang jalannya.
"Jendral!" Panggil Tooru kemudian berojigi.
Norio hanya memandang datar Tooru tapi tetap menghentikan langkahnya.
"Bawalah aku bersamamu!" Pinta Tooru yang juga iri karena bukan ia yang dipilih untuk bertarung bersama Jendral Senior itu.
"Pasukanku akan terbagi menjadi 2 dan kau akan berada di bawah otoriter Menteri Nara." Ucap Norio tenang lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Tooru yang mendengar itu hanya semakin geram saja karena ditolak mentah-mentah oleh sang Jendral Senior. Mengepalkan kedua tangannya, ia akan membuat perhitungan dengan Ukai setelah perang usai nanti.
.
.
.
Berhari-hari kemudian...
2 hari sebelumnya bantuan dari ksatria Ishikawa dan Nakashima telah dikirim untuk ikut membantu peperangan. Membuat ksatria dari Sawamura sangat terbantu dengan kedatangannya.
Beralih kedalam satuan ksatria, terlihat kroni dari Serigala Putih yang mendapat tugas mengevakuasi korban perang yang terluka dan tewas nampak kepayahan. Aika, Kou, dan Lee muntah-muntah tak tahan setelah melihat luka-luka dan kondisi para ksatria itu.
Tak berselang lama, Daiki datang membawa dan membagikan berbagai perlengkapan dan juga memberitahukan strategi perang mereka pada kroninya dan juga Serigala Putih.
"Sebaiknya kita segera melakukan kamuflase!" Perintah Daiki singkat.
"Kapten, bukankah kita akan berperang di Desa Bulan? Tapi, kenapa kita justru ke Perbatasan Chuubu?" Tanya salah satu ksatria Giok Singa.
"Cih, kupikir mereka cukup pintar tadinya." Cemooh Kou memandang sinis ksatria yang bertanya tadi.
"Hei! Apa masalahmu, Anj*ng!" Seru ksatria tadi tidak terima.
"Cukup!" Marah Daiki menatap tajam kedua bocah ingusan yang hampir baku hantam itu. "Ini adalah strategi dari Menteri Nara dan Jendral Kageyama. Dan itu adalah-"
"-strategi menyerang 2 tempat bersamaan." Lanjut Aika menyambung ucapan Daiki. Daiki mengangguk membenarkan ucapan Aika.
"Aku harap kita bisa bekerjasama." Kata Daiki memandang kearah Aika. Kali ini giliran Aika yang mengangguk.
Tak berlangsung lama setelah mereka mempersiapkan diri, kedua gabungan kroni itu mengarah ke Chuubu. Sesampainya disana terlihat banyak pasukan dari Negara Angin berlalu lalang memenuhi daerah itu.
Tadinya mereka ingin menyerang secara sembunyi-sembunyi. Namun berkat Lee yang berteriak karena ada serangga di punggungnya membuat persembunyian mereka ketahuan dan pertarungan pun dimulai.
Pertarungan beradu sengit antara kubu Sawamura dengan Negara Angin. Bahkan bagi yang pertama kali bertarung seperti kroni Serigala Putih ini sangat menegangkan menurut mereka. Ada beberapa yang hampir mengompol di celana karena merasa ketakutan.
Aika yang sudah terbiasa bertarung merasa ini bukan apa-apa baginya. Namun tetap saja selama 17 tahun usianya, ini pertama kalinya Aika membunuh banyak orang sekaligus.
To be Continue...