The Great Princess

The Great Princess
Menuju Peperangan



Saat dalam perjalanan menuju aula pertemuan, Daichi tanpa sengaja bertemu dengan Noya yang sedang menuju tempat yang sama. Melangkahkan kakinya cepat, Daichi menyapa sang adik. "Pangeran Noya!"


Noya yang mendengar namanya dipanggil menghentikan langkahnya. Ia menengok ke asal suara, dan menemukan Daichi berjalan cepat kearahnya.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Noya saat melihat wajah Daichi yang tidak seperti biasanya.


"Tidak ada! Ayo, aku dengar ada suasana genting." Kilah Daichi mengalihkan pembicaraan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju aula pertemuan.


Saat keduanya tiba sudah banyak penghuni dalam ruangan tersebut. Bahkan Daichi dan Noya tidak bisa menghitung sudah berapa kali keduanya bolak-balik dari aktivitas masing-masing menuju aula pertemuan.


"Saya membawa berita genting, Kaisar." Lapor Panglima perang Sawamura.


Semua dewan nampak gusar ditempatnya. Bukankah tadi mereka sudah membahas kalau Kageyama Norio akan diturunkan untuk perang kali ini. Lalu, apalagi sekarang?! Apakah suasana semakin tak terkendali sebelum Kageyama diturunkan. Entahlah, semua orang sibuk dengan berbagai asumsi masing-masing.


"Apa yang terjadi?" Ucap Kaisar Hideki mencoba tenang. Ia tidak boleh gegabah saat ini atau seluruh rakyat bisa dalam keadaan berbahaya karena diliputi ketakutan.


"Kerajaan Sawamura dalam bahaya. Gerbang Perbatasan Utara telah berhasil diterobos masuk, Kaisar." Ungkap Panglima tadi dengan wajah menunduk malu karena gagal menjaga benteng perbatasan Sawamura.


Semua mata terbelalak. Ini masalah yang cukup serius jika perbatasan sampai diterobos. Semuanya mulai menggeliat bak cacing kepanasan.


"Apa perintah anda Kaisar? Kita harus menurunkan seluruh ksatria Sawamura untuk mengambil alih perbatasan dengan segera! Atau rakyatlah yang akan menjadi korban." Saran Dotto tenang. Meski demikian, wajahnya nampak sekali tidak senang dengan orang Negara Angin yang mencoba mengusik daerah kekuasaannya.


"Kaisar, saya tidak setuju jika seluruh pasukan ksatria diturunkan. Bukankah itu terlalu berlebihan?" Noya menyuarakan protesan-nya. Tentu ia tidak mau Aika menjadi korban bar-bar pasukan Negara Angin itu.


"Tidak! Menurutku justru itu adalah ide terbaik untuk saat ini. Kesampingkan dulu urusan pribadimu, Pangeran Mahkota. Kita tidak bisa mengorbankan nyawa rakyat untuk keegoisanmu." Kali ini giliran Daichi yang menolak alasan Noya yang jelas-jelas ingin bertindak berdasarkan keegoisannya.


"Sebaiknya Kaisar segera membagi pasukan dan memanggil Kageyama untuk segera menyusun strategi bersama Menteri Nara." Usul Daichi mengabaikan tatapan kebencian dari Noya yang tidak menyetujui usulannya.


"Kalau begitu minta bantuan juga pada Kerajaan Ishikawa dan Kerajaan Nakashima!" Usul Noya mencoba mencari pengaman lain. Menurutnya jika Ishikawa dan Nakashima ikut membantu peluang Aika terluka akan mengecil.


Hideki menimang usulan Daichi serta Noya dan menerima usulan keduanya. Kageyama diperintahkan untuk segera menyusun rencana perang besar kali ini. Dan pengantar pesan tercepat dikerahkan untuk menghubungi Kerajaan Ishikawa dan Nakashima untuk ikut memberi bantuan.


"Kaisar, sebaiknya para ksatria juga harus segera dipersiapkan sebagai pasukan tambahan untuk membantu, Jendral Kageyama." Usul Dotto kembali, saat melihat hampir seluruh ksatria berwajah tegang.


Noya segera melangkah turun dari kursinya setelah mengucapkan kalimat tadi dan berjalan menuju kearah para ksatria berada.


"Aku akan menggabungkan dua pasukan menjadi satu-" Noya mencermati masing-masing pasukan untuk menggabungkan dua kekuatan agar dapat saling bekerjasama.


"-Kroni Teratai Air menjadi satu dengan Bambu Kuning, Buah Persik dengan Awan Merah, Kamelia Merah dengan Gagak Hitam, dan yang terakhir Giok Singa dengan Serigala Putih." Putus Noya setelah menimbang potensi yang menurutnya cocok dan saling menutupi kekurangan masing-masing pasukan.


Semua kapten pasukan setuju, kecuali kapten Giok Singa yang sedikit dirugikan karena mereka harus menanggung beban ksatria baru yang masih amatir dalam peperangan.


"Cih, kita ini akan berperang. Apa yang akan kita lakukan jika berperang dengan pasukan amatiran seperti mereka." Sindir Tooru mengerling remeh pada kroni Serigala Putih.


Tanpa ada yang mengucapkan katapun, Tooru tahu jika sebenarnya seluruh pasukan lain juga setuju dengan ucapannya.


Ukai mencoba bersikap biasa saja seolah sindiran itu tidak ditujukan untuk kroni mereka. Namun, beda Ukai beda pula dengan-


"Aku berjanji demi Kerajaan Sawamura bahwa Pasukan Serigala Putih tidak akan menjadi batu sandungan untuk kalian." Janji Aika pada pasukan ksatria lainnya.


Semua ksatria mendengus mencemooh lalu memberi hormat pada Noya dan kembali ke kamp untuk memulai persiapan keberangkatan berperang. Meninggalkan kroni Serigala Putih dihadapan Noya saat ini. Hingga mereka juga memutuskan untuk membubarkan diri dan ikut bersiap-siap.


"Ukai." Panggil Noya saat Ukai juga hampir beranjak pergi. Hanya ada mereka berdua disana.


Ukai menatap Noya dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa, Pangeran Mahkota?" Tanyanya.


"Aku memberimu perintah. Tidak! Aku memohon padamu-" kata Noya menggantungkan ucapannya untuk menghirup udara dengan susah payah. Jujur ia sebenarnya tidak ingin mengatakan ini.


"-Aku memintamu menjamin keselamatan Aika dan membawanya kembali kemari dengan hidup dan utuh." Pinta Noya dengan sorot mata yang sulit diartikan oleh Ukai.


"Tentu, Pangeran. Saya akan selalu menjaga anggota saya." Janji Ukai yang membuat Noya sedikit bernafas lega meski hatinya tetap merasa tidak tenang dengan perginya Aika dari sisinya.


Noya mengangguk dan menepuk sebelah bahu Ukai ringan, kemudian berbalik kembali ke aula pertemuan. Namun, di langkah ketiganya Noya berhenti dan menengok kecil kearah Ukai, sambil berucap "Aku harap kau juga kembali dengan selamat." Setelahnya Noya benar-benar menghilang masuk ke aula.


To be Continue...