The Great Princess

The Great Princess
Mimpi Dotto



Seekor kuda jantan berwarna putih dengan gagahnya menapaki jalanan terjal. Tubuh tegapnya membawa barang-barang berharga milik sang tuan. Namun, si tuan tak nampak berada diatasnya melainkan berjalan disisinya sembari sesekali membelai lembut rambut sang kuda.


Saat ini Aika hampir sampai di depan gerbang desanya. Awalnya ia sangat heran tidak biasanya desanya setenang ini mengingat hari tak lagi gelap. Seharusnya saat sang fajar telah bangun suara gaduh juga pasti akan terdengar dari kejauhan.


Menepis segala pemikiran buruk, Aika mencoba mempercepat langkahnya dan begitu sampai di depan gerbang, ia begitu dikejutkan dengan kenyataan bahwa desanya tak lagi ada. Sejauh mata memandang hanya ada abu dan arang.


Aika jatuh terduduk, matanya memanas. Apa yang terjadi? batinnya hancur.


Desanya telah lenyap, dan ia tak ada di sana saat warga desa membutuhkannya. Aika merasa gagal. Apanya yang seorang Jendral saat kau bahkan tak bisa menyelamatkan satu nyawa?


Tes..


Tes..Tes..


Tes..Tes..Hiks..Tes..


Air mata yang tadinya hanya setetes itu kini mulai menganak sungai. Menuruni pipi bak porselen itu dengan deras. Ikut menambah kesan kesedihan si blonde manis.


Membuatnya terlihat rapuh, setelah hampir selama 15 tahun ia tak pernah tahu apa kegunaan air matanya. Karena memang ia tak pernah merasa bersedih, bahkan saat kehilangan ibunya sekalipun. Namun, kini ia bahkan tak tahu bagaimana cara untuk menghentikan air mata sialan yang membuatnya terlihat lemah ini.


Lama Aika terduduk dan menangis, bahkan saat sang fajar memutuskan kembali keperaduannya ia masih di tempat dan aktivitas sama. Hingga datang seseorang yang menginterupsi kegiatannya.


"Nona?"


Aika mendongak -memperlihatkan wajahnya yang sembab, dan sisa keringat yang membuat anak rambutnya lepek dan membuat wajahnya terlihat mengenaskan. Mencoba melihat siapa orang yang telah menginterupsinya namun ia tak bisa melihat dengan jelas sebab matanya sedikit kabur oleh lelehan air mata.


"Si..hiks..sia..hiks..pa?" tanyanya sesenggukan.


"Aika! Astaga, ada apa denganmu? Maaf, kukira siapa tadi." ucap pria kecil (cebol) itu tidak menanggapi pertanyaan Aika, ia terlalu terkejut melihat keadaan Aika yang sangat mengenaskan.


"Aika, ada apa? Sedang apa kau di sini? Dan kenapa kau menangis?" tanya pria tua itu beruntun. Mimik khawatir terpatri di wajahnya.


"Tu..an..hiks...a..ap..pa..hiks..yang ter..hiks..jadi..hiks?" tanya Aika disela isakannya.


Pria itu sedikit sulit mencerna dan memahami ucapan Aika. Namun dengan perlahan ia mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Aika.


"Apa kau tidak tahu? Desamu telah terbakar habis sekitar 2 bulan yang lalu. Apa kau tidak tinggal di desa saat itu?" tanya pria itu sembari menenangkan.


"Ti..hiks..dak.. a..ku..hiks..ti..dak..tahu.. aku..hiks.."


"Sudah tenanglah, semua warga desamu baik-baik saja. Jangan menangis lagi." potong pria itu sembari menepuk punggung Aika pelan.


Aika yang mendengar kalau warga desanya baik-baik saja sontak menghentikan tangisannya.


"Be..benarkah? La..lalu di mana me..mereka?" tanyanya sedikit tergagap. Karena terlalu senang.


"Aku tidak tahu. Tapi, pria tua yang tinggal di dekat kebun itulah yang menolong mereka. Coba kau datangi pria itu, dan tanyakan padanya." usul pria itu baik hati.


"Uhm.. baiklah. Terimakasih, Tuan Chen. Kau memang baik." puji Aika tulus dengan senyum lima jari menghiasi wajah manisnya yang membengkak.


"Ya, sekarang pergilah. Aku juga harus segera pulang. Sampai jumpa." pamit Chen sambil berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari Aika.


"Sampai jumpa, Tuan Chen!" teriak Aika pada Chen yang belum berjalan terlalu jauh. Dan dibalas dengan lambaian tangan oleh si Tuan Chen.


"Yosh, ayo pergi Kuroo!" seru Aika girang dan menarik sang kuda menuju rumah pria tua yang di tunjuk Tuan Chen.


.


.


.


Dan disinilah ia, di depan pintu pondok milik si pria tua yang di maksud oleh Chen dengan wajah terkejut, mulut terbuka, dan mata melBunyit saat melihat siapa pria tua yang membukakan pintu untuknya.


"Yo! Aika, apa kabar?" tanyanya sambil menggaruk rambut belakangnya yang tidak gatal, jangan lupakan senyum bodoh yang mampir di wajahnya juga.


"GURU MESUM! SEDANG APA KAU DISINI, HAH?!" sembur Aika setelah sadar dari rasa terkejutnya.


"Ahahahahaha! Aku?" tawa Uroko sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, kau!" ketus Aika dengan mata memicing tajam.


"Y..yah, ten..tentu sa..ja m..menunggumu. Ahaha." ucap Uroko salah tingkah, merasa terintimidasi oleh tatapan tajam dan suara ketus Aika.


"Menungguku?" tanyanya dengan mata menyipit curiga. "Untuk apa?" tambahnya sengak.


"Uh..ten..tentu saja membawamu pada orang-orang di desamu." jelas Uroko sedikit bergindik mendapati perlakuan sangar Aika.


"Benarkah? Kalau begitu ayo pergi." girang Aika melupakan kekesalannya.


Uroko melongo, anak ajaib pikirnya. Bagaimana bisa moodnya berubah secepat itu. Lalu, kemana perginya sifat sangarnya tadi. Apa tadi hanya lelucon untuk mengerjainnya, pikir Uroko mulai melantur.


Tak jua mendapat respon, Aika langsung menarik Uroko keluar dari pondoknya dan berniat berangkat ke tempat warga desanya berada. Namun niatnya segera terhenti saat ingat ia tidak tahu di mana mereka berada. Sedang si guru mesum masih melayang dalam lamunan.


Tak mau ambil pusing, ia tetap menarik si guru mesum dan memutuskan bertanya saat dalam perjalanan nanti.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


Gunung, lembah, sungai, bahkan hutan pun telah dilalui Aika bersama Gurunya. Berhari-hari mereka berkuda, berkemah, dan berkuda lagi. Tapi, ia tak kunjung tiba di tempat tujuan. Aika sempat berpikir kalau si mesum itu telah membohongi dirinya.


Namun pemikiran itu segera ia buang jauh-jauh saat kembali melihat gerbang perbatasan dihadapannya. Gerbang familiar yang telah dua kali dilewatinya. Apalagi kalau bukan gerbang perbatasan kerajaan Sawamura. Ia ingin bertanya tapi kembali menutup mulut saat pemikiran bahwa warga desanya mungkin telah dipindahkan ke Desa Api. Jadi, diam dan ikut saja adalah pilihan terbaik saat ini. Begitu pikirnya.


Setelah melewati pemeriksaan dan berkuda lagi kini ia justru semakin bertanya-tanya. Arah desa Konoha dengan arah yang ditujunya berbeda namun masih di bawah pemerintahan Kaisar Sawamura. Mulai jengah karena banyak pertanyaan yang menumpuk di otaknya ia pun bertanya pada si mesum.


"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Aika sedikit ketus.


Uroko melirik lewat ekor matanya. "Desa Bunyi." jawabnya singkat.


Aika hanya diam. Tidak biasanya ia menjadi pendiam memang, tapi mau bagaimana lagi pria uzur disampingnya ini sering membuatnya naik pitam jadi, daripada menambah kadar darah lebih baik diam saja.


Sesampainya di Desa Bunyi tak ada sambutan mewah atau apa. Desa itu malah terlihat suram dan sedikit mistis dari luar. Dari gerbangnya saja sudah memperlihatkan jalanan yang sepi padahal matahari baru saja tenggelam. Tak ada seekor suara serangga pun yang menemani langkah dua orang berkuda itu. Sepi dan senyap dua kata yang menggambarkan suasana Desa Bunyi.


"Di mana wargaku?" (Aika)


"Entahlah?!" (Uroko)


"Mereka disini!"


Uroko dan Aika berpandangan. Lama mereka dalam posisi seperti itu. Tapi, tak ada satupun yang membuka suara atau memalingkan wajah. Mereka berdua menampilkan ekspresi wajah yang sama. Ketakutan! Kenapa? karena baru saja ada suara ketiga yang masuk dalam pembicaraan mereka.


Memantapkan diri Aika dan Uroko memilih untuk melihat siapa pemilik suara itu. Dan benar saja kedua orang itu menampilkan ekspresi yang berbeda-beda. Uroko dengan wajah sedikit terkejut dan Aika yang pucat pasi.


"Kyaaaaa~ Sadakooooo~!" teriak Aika histeris, sampai-sampai ia terjatuh dari kudanya.


"Sadako?" ucap Uroko melongo, demi apa si idiot itu percaya hal bodoh seperti hantu. Ia ingin tertawa saja.


"Ara, Aika-chan ini aku, Tsuki. Kepala Desa Bunyi." ucap pria yang disebut sadako oleh Aika.


"Eh?" cengonya.


"Ya, Jiji ini sudah memberitahuku kalau kau akan datang berkunjung jadi selamat datang. Maaf tak ada pesta penyambutan untukmu." jelasnya sambil menunjuk Uroko saat berkata 'Jiji'. Apa Jiji panggilan sayang Tsuki pada guru mesumnya? Entahlah siapa yang peduli.


"Y..ya. di mana kepala desa dan wargaku yang lain?"


"Ikutlah denganku!"


Mereka bertiga berjalan menyusuri tanah becek bekas salju yang digaruk. Tak lama mereka berjalan dan berakhir di sebuah rumah pondok yang sangat besar namun terlihat rapuh dan reot.


"Masuklah! Mereka semua ada di dalam." perintah Tsukishima sambil mendorong Aika memasuki pondok.


"Anda tidak masuk, Tsuki-san?"


Tsuki menggeleng, "Aku ada urusan dengan si mesum ini." ucapnya lalu melangkah pergi dengan menarik Uroko bersamanya.


Tak mau ambil pusing dengan tingkah aneh kedua bangkotan tua itu, Aika segera memasuki pondok didepannya. Baru satu langkah ia menginjakkan kakinya, Aika sudah dibuat terperangah oleh isi dari pondok itu


Bagaimana tidak dari luar pondok itu terlihat rapuh dan reot, tapi didalamnya sungguh luar biasa semua perabotan terbuat dari kayu mahoni terbaik, banyak hiasan dinding berukiran rumit dan juga lukisan mahal terpampang apik di dinding kayu jati kokoh itu.


Dan yang paling mengejutkan adalah adanya ruangan bawah tanah yang berisi banyak pintu. Pantas saja tak ada satu kamar pun dirumah itu, karena semua kamarnya berada di bawah tanah rupanya. Sial, sampai kapan ia akan dibuat terkejut oleh desa misterius ini.


Aika menjelajahi seluruh lorong yang berisi banyak pintu, bahkan ruangan bawah tanah ini jauh lebih rumit dari lorong milik istana Sawamura. Membuat Aika pusing sendiri karena tak juga menemukan jalan keluar. Sial, apa dia baru saja tersesat (lagi).


"Sial, kenapa ini selalu terjadi padaku." Umpatnya meratapi nasib.


"Siapa kau?"


"Huaaaaa~ Astaga!"


"Siapa kau?" tanya seorang anak kecil yang berhasil membuat Aika hampir mati kena serangan jantung.


"Maaf, habis kau mengendap-ngendap, sih." balas bocah itu polos.


"Hah~ sudahlah. Hei, kau bisa membantuku?" tanya Aika pada si bocah manis berjenis kelamin laki-laki itu.


"Ya, apa yang bisa ku bantu, Kak err..etto..?" tawar si bocah.


"Aika, itu namaku. Siapa namamu?"


"Jun, jadi kak Aika apa yang bisa aku bantu?" tawar Jun lagi.


"Jun, bisakah kau mengantarku ketempat warga desaku?" pinta Aika sambil menundukkan tubuhnya pada Jun.


Jun yang tidak mengerti maksud Aika hanya menelengkan kepala dengan ekspresi bingung yang tercetak jelas di wajahnya.


"Ah, kau tidak mengerti ya? Bagini aku mencari orang dewasa di desa mu. Bisakah kau membawaku pada mereka?" pinta Aika lagi.


"Ya, ayo ikut denganku!" seru Jun setelah mengengerti, yang lalu membawa Aika pergi bersamanya.


.


.


.


"Masuklah!" perintah Jun setelah hampir bermenit-menit mereka berjalan.


Akhirnya sampai juga, pikir Aika lelah.


Tanpa disuruh dua kali ia langsung menuruti ucapan bocah tampan itu. Dan benar saja banyak sekali orang dewasa di dalam sana. Padahal Aika kira satu pintu kecil itu pasti hanya berisi satu petak kamar berukuran 3x4 meter atau lebih kecil lagi. Tapi, kenyataannya semua imajinasinya langsung dihancurkan saat memasuki kamar super luas itu.


Tak butuh waktu lama bagi Aika untuk mencari orang yang dicarinya, karena orang itu juga ada disana. Sedang duduk bersama dengan penghuni kamar lainnya.


"Kak Shizuka!" panggil Aika pelan.


Orang yang dipanggil menoleh, wajahnya nampak terkejut. Namun sedetik kemudian wajahnya merekah dan bibirnya tersenyum manis. Shizuka membuka kedua tangannya lebar-lebar. Siap menerima Aika dalam pelukannya.


Aika yang melihat itu tak mau membuang kesempatan, ia berlari kecil dan langsung menerjang tubuh yang tak sedikit mendapat luka bakar itu. Seketika tangis Aika kembali pecah saat kulitnya menyentuh kulit Shizuka yang hampir terkelupas.


Tangis yang tadinya kecil itu kini merebak, mengeluarkan rintihan pilu bagi siapapun yang mendengarnya. Shizuka yang mendengarnya pun juga ikut meneteskan air mata. Ia mendekap erat tubuh yang menggigil itu. Sentuhan kasih sayang ia torehkan pada rambut kuning adiknya. Menyalurkan arti bahwa ia baik-baik saja.


Keduanya tetap seperti itu hingga malam semakin larut, dan bulan tak lagi nampak. Membiarkan keduanya saling mengisi, melepas rindu, dan saling menguatkan dalam kesakitan masing-masing.


oOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO


"Kau akan mati!..."


"Tidak!"


"...Seorang gadis dengan darah Ennoshita akan membunuhmu!..."


"Tidak!"


"...Masa-masa kejayaanmu akan segera berakhir!..."


"Tidak! Tidak!"


"...Kehancuranmu telah ditakdirkan!..."


"Tidak! Huh~ Tidak! Diam!"


"...Kau harus mati, Dotto!"


"TIDAKKKK~!! DIAAAMMM~!!"


"..man?!! Pa...man?!! Paman?!! Bangun, Paman!!" panggil seseorang mengguncang tubuh pria disampingnya.


"Hah~ hah~ hah~ hah~" deru nafas cepat Dotto terdengar, ia baru saja bangun dari mimpi buruknya.


"Paman, kau baik-baik saja?" tanya orang itu lagi, suaranya terdengar khawatir.


Dotto menoleh, wajahnya terlihat kusut, nafasnya tersenggal-senggal, dadanya naik turun meraup rakus udara, matanya memerah karena terlalu erat terpejam, dan tubuhnya dibasahi oleh keringat.


"Paman?"


"Aku baik-baik saja." sahut Dotto cepat sambil mengusap wajah dengan kasar.


"Apa paman bermimpi buruk?" tanya orang itu (lagi) wajahnya kembali datar, tak ada secuilpun ekspresi berarti di wajahnya.


"Ya." jawab Dotto singkat, wajahnya terlihat tenang namun ada ketakutan dibalik pancaran matanya.


"Lupakan lah! Apa kehadiranku tak bisa menghilangkan kegelisahanmu?" tanya sang lawan bicara, mencoba mencairkan suasana.


Dotto menoleh dengan cepat, ia pandangi wanita yang menjadi teman tidurnya malam ini. Sesaat ia teringat pergumulan panas mereka satu jam yang lalu. Membuat senyumnya mengembang dan sejenak melupakan mimpi buruknya.


"Tentu saja itu tidak benar, Masako. Kau selalu bisa melakukan segalanya untukku." sanggah Dotto, tangannya memegang dagu lancip Masako. Sebuah seringai terpasang di wajahnya.


Masako tersenyum kecil, ia mendekatkan tubuh telanjangnya kearah Dotto kemudian mengecup mesra bibir berkeriput itu. Ciuman mesra, suhu tubuh yang berubah panas, membuat suhu ruangan meningkat drastis. Dan malam itu dua insan yang dimabuk nafsu kembali mengulang pergumulan panas mereka.


.


.


.


Dotto melangkah cepat melewati roka kediamannya. Ia telah menunggu pagi dengan tidak sabarnya sejak tadi malam. Akibat mimpi buruk yang menjadi momok menakutkan baginya setiap malam membuat ia tak bisa tidur barang sejenak.


Ia bergegas keluar dan menuju kuda yang telah siap sedia ditumpanginya. Dengan tergesa ia memacu kudanya keluar jauh dari lingkungan kerajaan Sawamura menuju perbukitan di wilayah barat. Terdapat sebuah kuil di perbukitan itu. Tanpa ba-bi-bu ia langsung masuk tanpa mengindahkan sikap sopan.


Srek! Brakk!


Suara hoji yang dibuka kasar terdengar. Di dalam pondok itu nampak seorang wanita dewasa yang duduk membelakangi pintu dan menghadap sebuah perapian.


"Selamat datang, Tuan Dotto." sapa sang wanita tanpa menoleh kebelakang.


Dotto yang merasa tidak perlu menjawab sapaan itu segera melenggang masuk sebelum dipersilakan si pemilik rumah.


"Ocha?" tawar si wanita murah hati.


Senyap. Tak ada jawaban.


"Apa anda datang sendiri?" si wanita tetap bersikap basa-basi, meski ia tahu benar bahwa Tuannya itu tak mungkin mendatanginya jika bukan karena hal mendesak.


"Tidak biasanya." tambahnya lagi, tahu jika pria tua yang berdiri dibelakangnya itu tak akan menjawab.


Hening untuk beberapa waktu.


"Aku-"


"Hentikan basa-basimu, Terumi!" seru Dotto memotong ucapan si wanita (Terumi Kouka) dengan dingin dan tajam.


Kouka tersenyum tipis, sudah terbiasa dengan semua sifat dan sikap tuannya.


"Aku ingin menanyakan arti mimpiku padamu!" sebuah perintah dilayangkan oleh Dotto dengan dagu terangkat.


"Saya mendengarkan, Tuan." ucap Kouka manis, masih fokus dengan acara doanya.


"Ck, kau sudah tahu. Dan aku malas menjelaskan." decakan kesal Dotto layangkan, mulai sedikit emosi dengan sikap santai peramalnya itu.


"Apa lagi yang ingin anda tahu? Bukankah semuanya sudah jelas?" sahut Kouka santai, ia menyalakan dupa dan meletakkannya diatas perapian yang terdapat sebuah altar kecil (yang digunakannya untuk berdoa).


"Jangan mengujiku, Terumi!" geram Dotto mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.


Kouka berdiri, kemudian berbalik menghadap kearah Dotto. Meneliti wajah tua yang diperban hampir separuh wajah itu dengan cermat. Kemudian tersenyum tipis hingga kedua matanya menyipit.


"Gadis itu semakin dekat denganmu, Tuan. Sebaiknya minta anak buah anda untuk segera membunuhnya, atau anda akan terus bermimpi buruk setiap malamnya." jelasnya.


"Beritahu aku di mana gadis itu berada!"


"Anda sudah tahu! Aku tidak bisa mengetahui keberadaan seseorang hanya melalui mimpi." jawab Kouka tenang, berbalik menghadap perapian dan kembali duduk bersila.


Merasa tak menemukan jalan keluar di tempat itu Dotto memutuskan melangkah pergi. Namun sebelum sampai keluar dari pintu pondok, Kouka kembali berbicara.


"Waktumu tidak banyak lagi, Tuan. Jangan sampai saat bulan yang dikelilingi oleh 7 bintang seperti 15 tahun yang lalu datang, anda belum menemukan dan membunuh gadis itu. Atau bisa dipastikan bahkan langit pun tak lagi berpihak padamu."


Dan Dotto segera pergi setelah mendengar peringatan itu.


To be continue...