The Great Princess

The Great Princess
Ep. 49



Tak berselang lama pintu kembali terbuka dan dua orang pria yang tadi dibicarakan muncul. Pangeran Akashi berojigi sebagai salamnya.


"Maaf, kami datang tanpa pemberitahuan dan juga terkesan mendadak." Pangeran Akashi memulai perbincangan dengan tubuh membungkuk sebagai permohonan maaf.


Kaisar Hideki berdiri kemudian membawa kedua tamunya menduduki kursi yang kosong.


"Tidak masalah." Jeda sejenak, "Tapi, apa yang membawa kalian kemari tanpa pemberitahuan dan juga sembunyi-sembunyi seperti ini?" Tanya Hideki mengeluarkan unek-uneknya.


Kaisar Hiruko tersenyum, "Tidak! Seharusnya kami di undang, tapi karena undangan itu tak kunjung datang kami terpaksa hadir tanpa undangan." Jelasnya aneh, yang membuat seluruh kepala terdapat tanda tanya imajiner.


"Undangan?" Kali ini suara Permaisuri Chikara yang terdengar.


"Ya."


"Ekhem! Begini, Maaf jika aku menyinggung kalian. Tapi, aku tidak mengundang Kaisar manapun dan hanya mengundang keluarga dekat kami saja." Terang Hideki meluruskan permasalahan.


"Ah, aku mengerti! Apa Putriku belum memberitahu kalian?" Tanya Hiruko menatap setiap wajah yang berekspresi bingung itu.


"Putri?" Suara Permaisuri Keiko ikut menimpal tanya.


"Ya, adikku. Aku dengar ia menikah hari ini." Jelas Akashi menatap Keiko yang berkerut dahi.


"Jangan bilang kalau gadis bermanik safir itu adalah Putri Kerajaan Kaguya!"


Nice answer Pangeran Daichi! Karena segera dihadiahi anggukan dan senyum dari dua pria Kaguya itu. Semua orang sontak melebarkan mata karena terlalu terkejut. Tubuh mereka bak batuan arca yang memaku bumi tak bisa digerakkan.


Bagaimana bisa seorang putri dari sebuah kerajaan besar mengikuti seleksi dengan menyamar menjadi perwakilan gubernur? Dan lagi, Negara Air cukup jauh hingga membutuhkan waktu selama satu minggu untuk mencapai Kerajaan Sawamura.


Apa sebenarnya tujuan gadis itu?! Begitulah kira-kira yang terpikirkan oleh mereka.


Sampai sebuah alunan suara merdu menyapa indra pendengaran seluruh telinga di dalam ruangan. Dan mengembalikan mereka dari rasa terkejutnya.


"Ayah? Kakak?"


.


.


.


Paviliun Barat, Istana Sawamura


Tok! Tok! Tok!


Ketukan dari arah pintu membuatnya reflek melirikkan bola safirnya pada pelayan yang berdiri dimuka pintu.


"Sudah saatnya, Putri!" Ingat si pelayan, lalu berjalan semakin masuk dan menghampiri gadis itu yang kemudian tangannya dengan cekatan memasangkan kembali cadar yang telah disediakan.


Tanpa protes gadis itu menurut dan berjalan memimpin. Dibelakangnya ada 6 orang pelayan yang setia mengekor, 1 dayang yang berdiri dibagian serong kirinya, serta 2 pengawal pria yang berbaris paling belakang.


Langkahnya terhenti saat telah sampai di depan pintu aula keluarga. Ia melangkah masuk dengan tenang tanpa menimbulkan suara sekecil apapun.


Netranya menangkap sebuah pemandangan aneh yang tak lain adalah pandangan terkejut dengan tubuh menegang yang hampir dilakukan semua orang didalam sana.


Menggulirkan mata sedikit menyamping ia cukup dibuat terkejut pula oleh kedatangan orang yang sangat dikenalnya itu.


"Ayah? Kakak?"


Semua perhatian kini tertuju pada gadis yang baru saja menginterupsi kegiatan terkejut mereka. Gadis itu berjalan mendekati kedua pria yang dianggap berharganya itu dengan mata yang hampir melompat keluar.


"Kau mengenal mereka?" Pertanyaan bodoh ini dilayangkan oleh Pangeran Riyu yang pertama kali sembuh dari keterkejutannya.


"Maaf, saya tidak memberitahukan hal ini sebelumnya, Yang Mulia." Ucap gadis itu sembari membungkuk.


"Jadi, benar kau adalah Putri dari Kerajaan Kaguya?" Kali ini suara Kaisar Hideki terdengar normal. Bahkan semua orang kembali bersikap tenang.


"Benar."


"Kalau begitu aku ingin meminta maaf karena tidak mengundang kalian, Kaisar Hiruko!"


Hiruko tersenyum miring, "Tidak masalah. Aku tidak menganggap besar masalah itu." Ucapnya murah hati.


Semua orang tersenyum, ini memang pertama kalinya mereka bertemu dengan penguasa Negara Air itu dan mereka harus beruntung karena ternyata Kaisar Kaguya memiliki pribadi yang baik.


"Bagaimana jika kita membuka cadar itu sekarang? Apa kalian tak ingin melihat wajah Putriku?" Tutur Hiruko memecah keheningan.


"Tentu kami ingin." Timpal Permaisuri Chikara kemudian, "Bukalah cadarmu, Putriku!"


Bersambung...