
hari hari berlalu Lily tidak kembali ke Kanada dia Hiro tinggal bersama orang tuaanya
Erina berjalan menunuju gazebo dihalaman belakang rumah mereka
suasana malam yang sangat indah matahari mulai terbenam
pemandangan gazebo itu terlihat lebih cantik jika malam hari
Setelah Erina duduk tak lama Lily juga ikut duduk bersama Erina
Lily menyenderkan kepalanya dibahu Erina layaknya anak kecil
"Li kamu tahu alasan mama sama papa menikah sebenarnya apa??" Erina mengelus lembut kepala Lily
"Lily tidak tahu" Lily memejamkan matanya merasakan hangatnya sentuhan seorang ibu
"mama tahu pernikahan kamu sama Hiro bukan didasari oleh Cinta sama seperti mama dan Faiz dulu kami menikah karena terpaksa papa yang rela mengorbankan masa depannya demi mama sama seperti Hiro,, dulu pas awal awal pernikahan mama sama sekali tidak memiliki perasaan lebih kepada papa bahkan saat mama hamil pun mama masih belum mencintai papa,, tapi seiring berjalannya waktu mama mulai mencintai papa" Erina tak henti mengusap lembut kepala Lily
"Li dulu mama pernah keguguran karena ada orang yang tidak menyukai kebahagian mama sama papa sejak mama keguguran mama sadar kalau papa sangat mencintai mama dan perlahan hati mama luluh hingga mama tidak bisa hidup tanpa papa kamu"
"Lily mama harap kamu bisa membuka hati kamu untuk Hiro berikan semua cinta kamu untuk suami kamu bagaimanapun juga kalian sudah resmi menjadi suami istri secara agama dan secara hukum,, sayang mama sama papa ingin anak anak kami bahagia"
Lily kini sudah menghadapkan tubuhnya kehadapan Erina
Lily terdiam tubuhnya kaku Erina merasa heran menatap sang putri
"kenapa sayang??" tanya Erina
"tentang Maria dan Biran bukankah mereka berhak bahagia??" Lily menatap wajah Erina
Erina tersenyum mendengar pertanyaan Lily
"kita kesanpingkan dulu Biran mari kita mulai memikirkan Maria dulu,, hari semakin malam sebaiknya kita masuk kuta pikirkan apa yang akan kita lakukan untuk Maria besok oke"
Lily mengangguk memberikan jawaban
Erina dan Lily masuk
****
Biran masih terjaga dia menatap ke arah rak buku yang ada dikamarnya
perlahan Biran mendekati rak bu itu,, Biran mengambil boneka yang ada di rak buku
"entahlah aku ingin menghilangkan semua kenangan tentang dirimu tapi tidak bisa,, entahlah bagaimana caraku menghapus semua ingatan tentang kamu?? jika aku mengingat segalanya rasanya sakit hatiku benar benar terasa sangat sakit tapi bersamaan aku mengingat kenangan kita aku mera aku ingin tetap hidup dimasa itu dimana kita masih bersama" tetesan air mata tak terasa jatuh membasahi tangan Biran yang memegang boneka pemberian dari Evan
tok...tok...tok
Biran langsung menghapus air matanya dan meletan boneka itu kembali ketempatnya
Biran membuka pintu kamarnya dan ternyata sang ibu yang ada dihadapannya
Biran mengajak Erina masuk kedalam mereka duduk disofa
"sayang mama tahu bagaimana perasaan kamu,, mama dan papa tidak akan memaksa kamu untuk melupakannya kami tahu apa yang dia lakukan sama kamu itu salah tapi mama sama papa percaya kalau Evan memutuskan semua itu karena punya alasan" Erina memegang kedua tangan Biran
"Sayang mama cuman mau peasan jangan kamu sesali jangan kamu hindari kenyataan ini jangan kamu benci juga dia bagaimanapun kamu pernah bahagia dengannya ingatlah jika kamu danEvan berjodoh maka tidak akan ada yang bisa menghalangi kalian bersatu"
"mama" Biran langsung memeluk Erina dengan erat Erina membalas pelukan Biran dengan hangat dan mengelus lembut rambutnya