The Cold Wind And Lonly Love

The Cold Wind And Lonly Love
Finding Reason



setelah dinner malam itu Verel selalu mencari cari alasan untuk menghindari pembicaraan yang mengarah pada hubungannya dengan Laura


waktu terus berjalan namun Verel dan Laura tidak saling mengungkapkan perasaan satu sama lain


Verel duduk nonton TV diruang keluarga


"Verel kamu sibuk gak??" tanya Erina baru datang


"ngga kenapa emangnya kak??" jawab Verel melihat kearah Erina


"bisa tolong anterin kakaka ke Rumah Sakit??"


"kak Erina kenapa?? kak Erina sakit?? sakit apa??"


"ngga kakak mau nengok Miki dia baru melahirkan"


"ohh ya udah aku anterin"


"oke kakak tunggu didepan"


"iya bentar aku ambil kunci mobil dulu"


dirumah sakit Sasya dan Laura sudah ada disana mereka sudah menjenguk Miki sejak mereka diberi tahu Bintang kalau Miki akan melahirkan


"Miki mau dikasih nama siapa anak kamu??" tanya Sasya


"entahlah" jawab Miki


"loh kok gitu Mik??" tanya Laura


"kamu gak lihat wajahnya sangat jelek dia bukan anak yang aku harapkan"


"Miki jaga ucapan kamu bagaimana pun dia putri kamu dia anak kamu sama Bintang"


"terserah"


tak lama Erina dan Verel datang Bintang terkejut melihat kedatangan Erina


"Erina" ucap Bintang tanpa suara


"Miki selamat ya akhirnya anak kamu lahir" Ucap Erina


"aku gak butuh ucapan selamat dari kamu,, aku yakin kamu senengkan karena ngelihat aku ngelahirin anak yang jelek" Miki merasa tersinggung melihat Erina


"udahlah lebih baik kamu pergi"


"Miki cukup!!" Ucap Bintang tegas


"kenapa kamu mau nyalahin aku dan ngebela Erina iya??"


tanpa basa basi Erina keluar dari ruangan itu Verel mengikuti Erina dia berusaha menenangkan kakak sepupuhnya


"Miki aku pikir kamu akan berubah setelah kamu berhasil menikah dengan Bingang walaupun dengan cara yang salah" kalimat Laura menarik perhatian Bintang sedangkan Miki seolah tak peduli


"maksud kamu dengan cara yang salah??"


"lebih baik kamu tanya saja istri kamu itu,, aku berterima kasih kepada yang maha kuasa karena takdir yang dia tulis untuk Erina kini dia bahagia dengan Faiz"


"kamu ini sebenarnya teman aku atau temannya Erina sih!!??"


"sejak kamu mencampakan aku dan Sasya sejak saat itu juga aku udah bukan teman kamu lagi" Laura pergi ninggalin Miki


"sya" Miki melihat kearah Sasya


"apa yang Laura katakan emang bener Mik selama ini aku sama Laura selalu ada untuk kamu tapi saat kami butuh kamu apa yang kamu lakukan kamu malah mencapkan kami" Sasya pergi ninggalin Miki


diluar Erina menangis Verel terus berusaha menenangkan Erina


Laura dan Sasya datang mereka juga berusaha menenangkan Erina yang menangis


selama ini jika Erina menangis tidak ada yang bisa menengakannya selain bunda dan ayahnya kalaupun ada itu adalah sahabat masa kecilnya yang kini jadi suaminya siapa lagi kalu bukan Faiz


Laura Sasya dan Verel mengajak Erina pergi dari rumah sakit


selama perjalanan Erina terus menangis


lelah karena menangis tubuh Erina melas sampai dia pingsan,, Laura dan Sasya berusaha menyadarkan Erina


namun kondisi Erina terlalu lemah dia tidak mamapu membuka matanya


semuanya merasa panik karena kondisi Erina


sesampainya dirumah Erina langsung digendong kekamarnya Laura dan Sasya terus menemani Erina yang masih tak sadarkan diri.