
keesokan harinya dimalam hari Erina berniat pulang setelah menyelesikan pekerjaannya di restoran.
dalam perjalanan mobil Erina dihadang oleh mobil warna putih Erina turun dari mobil.
Erina terkejut melihat pria yang ada dihadapannya kala pria itu turun dari mobil karena permintaan Erina.
"Rico apa mau kamu??" Rico tersenyum menatap Erina
"kemarin kamu bilang apa?? kamu bilang aku sampah busuk sekarang aku bakal bikin kamu sampah busuk samapi gak akan pernah ada seorangpun yang mau sama kamu bahkan mereka akan jiji lihat kamu" ancam Rico
"apa maksud kamu??" Rico langsung membungkam mulut dan hidung Erina dengan saputangan yang sudah diberi obat bius sebelumnya.
"jangan panggil aku Rico Ardiansyah kalau aku gak bisa dapatin apa yang aku mau" Rico menggendong Erina yang pingsan karena dibius kedalam mobilnya.
Rico membawa Erina ke sebuah hotel dia sudah memesan kamar untuknya,, namun ternyata hotel itu milik Faiz.
ketika Rico menggendong Erina dan membawanya kekamar yang dia pesan Faiz melihat pemandangan itu.
"itu bukannya Erina ya tapi ngapain cowok itu gendong Erina terus ngapain juga tu cowok bawa Erina ke hotel??" berbagai pertanyaan muncul dipikiran Faiz
akhirnya Faiz mengikuti Rico sampai akhirnya Rico masuk ke kamar no 151,, Faiz dilema antara harus masuk untuk melihat Erina atau tidak.
selama 1 jam Faiz mondar mandir di depan kamar tersebut hingga akhirnya Faiz mendengar suara Erina menangis dan minta toling,, dengan segera Faiz minta pintunya dibuka.
Faiz terkejut kala melihat baju yang dikenakan Erina sobek dibagian lengan Erina menangis ketakutan.
Faiz menghajar Rico abis abisan dia sampai akhirnya keamanan membawa Rico dan menyerahkan Rico ke pihak yang berwajib.
"Erina kamu gak apa apa kan??" tanya Faiz spontan Erina memeluk Faiz dengan erat Erina hanya menangis
matap keadaan Erina Faiz melepaskan jas yang dia pakai lalu memakainya ke Erina Faiz membawa Erina keluar dari kamar itu
sesampainya dirumah Bunda yang sedang nonton Tv di tuang keluarga terkejut melihat keadaan putrinya.
"Erina kamu kenapa sayang??" tanya Bunda Erina mencoba untuk tenang
"Erina gak apa apa bun,, semua berkat Faiz Erina gak tahu gimana jadinya kalau Faiz gak ada" jawab Erina Bunda langsung meluk Erina
"tante gak perlu khawatir pria yang berusahha menodai Erina akan Faiz pastikan mendapatkan hukuman setimpal" ucap Faiz
"bi toling antar Erina ke kamarnya" ucap Bunda bi ani datang dan membawa Erina mengantarnya ke kamar
"Faiz tante gak tahu apa yang harus tante katakan Erina bukan hanya anak tante satu satunya tapi dia bagaikan berlian untuk tante dan om" ucap Bunda
"Faiz ngerti tante Faiz tahu benar bagaimana Erina dia akan hancur banget jika rencana pria brengsek itu berhasil,, tante memang benar Erina itu berlian selam Faiz ngenal Erina dia gak pernah bikin orang disekitarnya tersakiti Erina sangat berbeda dengan gadis gadis pada umumnya"
"Faiz tante benar benar berterima kasi karena kamu,, kamu sudah menjaga kehormatan Erina dari pria kejam itu"
"tante gak perlu berterima kasih sama Faiz sudah jadi tanggung jawab Faiz sebagai sahabat Erina membantu Erina dan untunglah kejadianny di hotel Faiz jadi Fiaz bisa langsung menilong Erina,, seteleh kejadian ini Erina pasti sangat ketkutan kita harus berusaha membuar Erina kembali seperti dulu"
"ya kamu benar banget Faiz"
"kalau gitu tante Faiz pamit ya udah malem Faiz jug harus ngurus kasus ini"
"iya hati hati ya Faiz"
Faiz pergi dia kembali ke hotel.
sepanjang malam Erina menangis dia masih ketakutan dengan apa yang menimpa dirinya walaupun musibah itu berhasil digagalkan oleh Faiz.