
sidang terakhir dimana hukuman untuk Morgan akan ditentukan dilakukan Lily tidak menghadiri sidang itu tapi Lily memberikan semua bukti yang dia kumpulkan
bukti yang bisa menghukum Morgan seberat beratnya
Lily datang ke perusahaan Jordan Grup dia masuk ke ruangan Verel
Lily melihat ada sebuah berkas dimana isinya adalah kontrak kerja sama antara perusahaan Jordan dan perusahaan Sanjaya
"akan aku pastikan kalian hancur karena kesalahan putra kalian kalian juga harus menanggung akibatnya kesalahan terbesar kalian adalah karena kaluan hanya diam saja ketika putra kalian menghina adikku" Lily memegang berkas itu dengan kuat
diperusahaan Sanjaya
"apa kenapa Jordan Grup tiba tiba memutuskan kontrak kerja sama dengan kita??" tanya ayahnya Morgan
"yang memutuskan konterak kerja sama adalah putri tertua dari keluarga Jordan"
"siapa??"
"kalau tidak salah namanya Lily Dirga Adipratama"
"gadis itu,, ternyata gadis itu tidak main main dengan ancamannya. ahhh!!! semua ini gara gara Morgan!!!"
Lily melihat hp nya dia tersenyum melihat ada pesan dari Aqsa
Lily bisa ketemu malam ini ditempat biasa
"apa yang terjadi denganku di satu sisi aku masih sakit hati dengan keputusan Aqsa sewaktu dulu tapi disisi lain aku membiarkan emosiku menguasai diriku" ucap Lily pada dirinya sendiri
malam harinya Lily duduk ditangga menantikan Aqsa
tak lama Aqsa datang Lily bangkit dari posisinya
"Li bisakah kita dinner untuk malam ini??" tanya Aqsa Lily terdiam
"papa dan om Faiz yang merencanakan semua ini" tambah Aqsa menyakinkan Lily
"baiklah jika ini keinginan papa dan Om Bagas"
Lily dan Aqsa pergi ketempat yang sudah disiapkan oleh Bagas dan Faiz
sesampainya disana Lily dan Aqsa langsung makan makanan yang sudah dihidangkan
selesai makan Aqsa mengajak Lily berdansa mau tidak mau Lily berdansa
"pergilah" pinta Aqsa pada semua orang yang ada disan kini hanya ada Lily dan Aqsa disana
"Lily aku akan selalu berusaha mengobati luka yang aku buat dihati kamu yang membuat kamu jadi dingin kaya gini sama aku"
"Lily apa boleh aku mencium bibir kamu??"
"bukankah selama ini kamu tidak pernah meminta ijin dulu?? kenapa sekarang kamu minta ijin??"
"Lily aku tidak ingin membuat kamu semakin marah"
"terserah" Lily memalingkan wajahnya Aqsa mendekati Lily
wajah Lily dan Aqsa semakin dekat hingga Lily bisa merasakan hangatnya nafas Aqsa
bibir Aqsa dan Lily sangat dekat namun Aqsa tidak langsung mencium bibir Lily
"apa kamu akan marah jika aku mencium kamu??" Lily terdiam mendengar pertanyaan Aqsa
"apa diam kamu itu artinya iya??"
"tidak ada alasan untuk aku marah sama kamu" jawab Lily
"apa??"
"aku tahu ada kamara tersembunyi disini" bisik Lily
"bagaimana kamu tahu??"
"tidak penting"
Aqsa mulai mendekatkan wajahnya lagi dengan wajah Lily
kini Aqsa mulai mencium bibir Lily dan Lily membalasnya
Aqsa sangat senang ditambah Lily mampu melakukan ciuman dalam waktu yang lama meski ciuamn itu berubah menjadi ciuman panas
pertama kalinya Lily berciuman saat dimalam itu dimana Lily tahu kalau Aqsa adalah pria yang dipilih papa nya untuk menjadi pendampingnya
Aqsa menarik tubuh Lily kini tubuh Liky dan Aqsa menempel Lily sangat menikmati ciuman itu walaupun pada awalnya Lily melakukan itu terpaksa karen dia melihat ada kamera tersembunyi yang dimana pasti akan disaksikan seseorang
Lily memilih menerima Aqsa yang mencium bibirnya dilihat oleh seseorang dari pada harus pertengkaran dengan Aqsa yang dilihat orang itu
"Aqsa sama Lily aku rasa mereka sudah bisa saling menerima satu sama lain" ucap Bagas
"bagaimana kamu yakin??"tanya Faiz
"lihatlah dilayar baik Lily ataupun Aqsa mereka kelihat sangat menikmati ciuman yang mereka lakukan" jawab Bagas
"tapi ini salah seharusnya mereka bisa menahan diri sampai mereka menikah"
"ayolah Is kaya gak pernah muda aja yang terpenting sekarang kita harus bisa membuat mereka jatuh cinta"
kali ini Faiz setuju dengan ucapan Bagas.