The Cold Wind And Lonly Love

The Cold Wind And Lonly Love
different views



Faiz memeluk Erina dari belakang untuk mengembaikan moot Erina


"rambut kamu bau bunga lily" bisik Faiz


"kamu tahu kalau aku suka bunga Lily" Erina mengangkat kepalanya memandang wajah sang suami


"Faiz"


"hmm??"


"hari ini penampilan kamu beda banget dari biasanya"


"ohh iya??"


"ahmm" Erina membalikan tubuhnya dia melepaskan jas yang dipakai Faiz


"hei mau ngapain??"


"kamu kan gak akan kerja" Erina melepaskan dasi Faiz


"Erina aku bisa sendiri"


Erina mendong Faiz sampai tubuh Faiz jatuh keranjang Erina langsung menindih tubuh Faiz dan melepaskan kancing baju Faiz satu persatu


"jadi kamu mau itu ya??" Faiz mebalikan posisinya kini tubuh Faiz ada diatas tubuh Erina


"penampilan kamu yang beda bikin aku jadi tergoda" ucap Erina membuat Faiz sangat bahagia


"baiklah tapi apa kamu kuat?? secara kemarin aja kamu abis pingsan"


"kalau kamu kuat kenapa aku nggak" Erina membalikan posisinya kini posisi mereka seperti awal


alhasih pagi yang cerah itu mereka menghabiskan waktu dengan bercinta kali ini Erina yang meminpin namun tak berselang lama Faiz kembali memimpin


selesai dengan aktivitas mereka Erina dan Faiz mandi bareng


"aku jadi harus mandi lagi gara gara kamukan" bisik Faiz dengan suara khasnya yang selalu bikin Erina tenang


"jadi kami nyesel karena udah bercinta sama aku??" ucap Erina kesal


"hei kenpa aku harus nyesel lagi pula kita baru bercinta lagi kan secara beberapa hari yang lalu kamu kan lagi datang bulan"


Erina kembali tersenyum


selesai mandi dan berpakaian lengkap Erina malah duduk diatas ranjang


"geser" ucap Faiz yang akan ikut duduk dengan Erina,, Erina bergeser


"Faiz apa kamu nyesel udah nikah sama aku??" Erina menyandarkan kepalanya dipundak Faiz


"Faiz jangan tinggalkan aku sendiri"


"aku ngga akan pernah ninggalin kamu sampai kapanpun" Faiz memeluk Erina dengan erat


dikantor Verel kelihatan gelisah entah apa yang dia pikirkan tapi kerjaan Verel hari ini sangat berantakan


sore harinya Verel ngajak ketemuan dengan Laura


"Verel ada apa??" tanya Laura gelisah


Verel terdiam sejenak dia menghembuskan nafas panjang


"Laura aku tahu ini terlalu singkat tapi aku gak bisa menyembunyikannya lagi"


"maksud kamu??"


"Laura Would you marry me??" Verel menunjukan sebuah cincin berlian


"Verel?? kamu nggak becandakan??"


"aku serius Laura,, jadi apa jawaban kamu??"


Laura terdiam sejenak lalu menganggukan kepalanya


"jadi??"


"iya aku mau Verel nikah sama kamu"


Verel menyematkan cincin dijari Laura



hari terus berlalu pernikahan Sasya sudah dilangsungkan


Verel sudah melamar Laura secara resmi dan kedua belah pihak sudah merestui


kini persiapan untuk pernikahan Verel dan Laura sedang dipersiapkan


hari menuju pernikahan mereka semaki dekat Erina dan Faiz sangat sibuk mempersiapka pernikahan Laura dan Verel


karena kedua orang tua Verel sudah meninggal dan yang bertanggung jawab atas Verel adalah Ayah dan Bunda Erina maka ayah dan bunda Erina juga yang mengambil tanggung jawab sepenuhnya untuk pernikahan Verel dengan Laura


saat mendengar kabar kalau Verel melamar Laura secara pribadi bunda dan ayah Erina langsung pulang ke Makasar dengan perasaan tak sabar ingin meresmikan hubungan Verel dan Laura


Erina bahagia karena setelah sekian lama dia bisa berbumpul lagi dengan keluarganya.