The Cold Wind And Lonly Love

The Cold Wind And Lonly Love
Soothing



pagi harinya Bunda membangunkan Erina


"Erina sayang ayo bangun kita sarapan" Bunda terus memanggil Erina namun tak ada jawaban sama sekali


"bagaimana ini mana ayah lagi diluar kota" ucap Bunda


"ada apa tante??" tanya Faiz baru datang


"ini Erina gak mau keluar mana pintunya dikunci lagi" jawab Bunda


"sepertinya Erina masih trauma dengan kejadian semalam"


"iya kamu benar"


"apa gak ada kunci cadangan??"


"cuman Erina yang pegang kunci kamarnya kalaupun tante bisa buka kunci pintu nya itu karena Erina yang ngasih kunci pintu kamar dia ke tante"


"gak ada pilihan biar Faiz coba dobrak"


Faiz mendibrak pintu kamar Erina untunglah Faiz berhasil membuka pintu kamar Erina.


kamar yang biasanya tertata rapi kini sangat berantakan Erina terlihat berantakan dia masih mengenakan pakaian semalam bahkan jas Faiz masih belum dia lepaskan Erina terus menangis.


Faiz dan Bunda langsung menghampiri Erina


"Erina lupakan kejadian semalam sayang lagi pula kamu gak kenapa napa kan" Bunda memeluk Erina


"percuma aja bun walupun Erina berhasil diselamatkan tapi orang tetap akan melihat Erina dengan tatapan jiji" Erin terus menangis


"sejak kapan kamu mikirin apa kata orang??" tanya Faiz mengelus lebut rambut Erina


"kamu gak gimana rasanya Faiz,, aku juga wanita aku mau bahagia aku mau punya keluarga dimasa depan tapi semua itu gak akan bisa terwujud karena orang diluaran sana akan tetap mandang aku kotor" Erina terus menangis


"Erina kamu lupa dengan semua yang kamu katan sama aku?? kamu lupa kalau orang yang mencintai kamu tulus maka dia akan menerima kamu apa adanya sekalipun kamu..." Faiz tidak melanjutkan kalimatnya dia takut Erina semakin terpuruk


"Erina kamu harus ingat cinta bukan untuk didapatkan tapi untuk dirasakan kamu sendiri yang bilangkan" lanjut Faiz berusaha menenangkan Erina


"sekarang semua impian aku hancur benar benar hancur hanya karena satu malam" Erina masih menangis Bunda dan Faiz tak berhenti menangkan Erina


"Erina mengenai impianmu tentang keluarga kecil dimasa depan"Faiz sedikit ragu mengatakannya


"aku... aku yang akan menikahimu Erina" lanjut Faiz bunda dan Erina terkejut mendengar keputusan Faiz


"Faiz apa yang kamu katakan??" tanya Bunda


"Faiz sudah memikirkan hal ini dengan baik tante


"jangan korbankan masa depan kamu demi aku hanya karena kamu simpati sama aku" ucap Erina


"Erina apa kamu gak percaya sama aku??" tanya Faiz Erina melepaskan diri dari pelukan bunda dia sedikit lebih tenang


"aku percaya tapi aku gak mau kamu ngorbanin masa depan kamu demi aku Faiz" ucap Erina


"percayalah Erina ini yang terbaik" jawab Faiz Erina tersenyum dam memeluk Faiz


"tapi kita gak bisa melangsungkan pernikahan kita sebelum pria itu benar benar dihukum" ucap Faiz Erina menangguk


"Erina sebaiknya kamu bersihkan dirikamu bunda dan Faiz tunggu kamu diruang makan" Erina mengangguk


bunda dan Faiz keluar dari kamar Erina


setelah beberapa saat Erina turun mereka sarapan walaupun tidak nafsu makan tapi Erina tetap sarapan agar tidak menambah kecemasan bunda dan Faiz sahabatnya.


selesai sarapan Faiz ngajak Erina ketaman dekat rumahnya.


"Erina apa aku boleh tanya??" tanya Faiz Erina mengangguk


"sebenarnya siapa pria itu??" tanya Faiz Erina sesikit risih menjawab pertanyaan Faiz


"kalau kamu belum siap cerita gak apa apa" ucap Faiz


"dia Rico Ardiansyah dia satu angkatan sama aku pas SMA tapi beda kelas dulu dia sangat benci sama aku,, setiap kali dia melihatku dia merasa sangat jiji bahkan waktu itu aku pernah disiram air panas tanganku sampai melepuh tapi saat dia tahu kalau aku Erina Jordan dia jadi berubah dia selalu menggodaku jika ada kesempatan"


"termasuk saat di restoran??" Erina mengguk.