The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 84



"Di mana Mike? "Tanya Anna


Alex menatap istrinya, pria itu lalu menghela nafasnya dan duduk di depan istrinya kemudian mengambil tangan Anna dan menggenggamnya


"Sayang... "Ujarnya membuat Anna menatapnya lekat


"Tuan, aku benar-benar tak ingat siapa kau. "


Alex menunduk sesaat, kecewa sebenarnya tapi begitulah istrinya dengan gangguan ptsd nya


"Boleh aku tanya sesuatu?"


Ragu-ragu Anna mengangguk dan menatap Alex semakin lekat.


"Siapa orang yang terakhir kalian bunuh?"Tanya Alex


Anna tersenyum kecut, "Hei itu rahasia kami. "


Alex menghela nafasnya, "Apa dia pengusaha berlian dari Texas? "


Anna menatap kaget pada Alex, "Dari mana kau tau? "


"Kamu tau sayang? Kematian pengusaha itu yang di temukan tewas di kamar mandi mensionnya terjadi 9 tahun lalu. "


"Kau bercanda? "


Alex mengambil ponselnya lalu membuka situs yang menayangkan berita tantang pengusaha yang di maksud dan menunjukkannya pada Anna


"Bagaimana bisa? "Ujar Anna


"Dengar sayang, kamu bahkan sempat menjebak Mike hingga ia tertangkap polisi Texas waktu itu. "


Anna terdiam kaget, ia masih tak percaya dengan cerita Alex


"1 tahun kemudian Mike kabur dari penjara dan dia menyekapmu hingga kamu hampir gila selama 6 tahun."


"Sampai akhirnya kamu berhasil kabur dan bertemu denganku. "


"Hei, mana mungkin Mike melakukan itu pada... ku. "Lirih Anna di akhir saat kilas balik memori dirinya yang berada dalam sebuah ruangan tanpa lampu, jika siang ruangan itu hanya mengandalkan cahaya matahari yang menembus celah ventilasi udara di sisi dinding, malampun sama, hanya mengandalkan cahaya bulan saja dari tempat yang sama.


"Ah... "Pekik Anna meremas kepalanya


"Astaga sayang... "Ujar Alex khawatir.


"Ini makanlah. "Ujar seseorang dari balik lubang kecil pintu menyodorkan sepiring makanan.


"Sebenarnya mau apa si bos kita, kenapa dia melakukan ini selama bertahun-tahun? "


"Diam saja, toh kita di bayar untuk ini. "


"Tapi aku penasaran untuk apa bos melakukan ini, salah apa wanita yang di dalam?"


"Ku dengar dia kekasih bos kita, tapi dia berkhianat."


"Besok jadwalnya menghapus sidik jarinya, cairannya masih ada kan? "


Anna tersentak, lalu menatap intens kedua telapak tangannya, "Sidik jariku... " Lirihnya


"Sidik jariku. "Gumamnya lagi, Anna menatap tak percaya pada telapak tangannya di mana jelas terlihat ada garis-garis lembut di sana.


Alex menatap penuh harap pada istrinya, ia berharap Anna ingat siapa dia.


"Di mana Mike? "Tanya Anna mencengkeram kerah kemeja Alex


"Di mana Mike? "Ulangnya


Alex menghela nafasnya, haruskah ia jawab jika pria yang Anna cari kini tengah sekarat, Mike masih kritis pasca operasi.


Ceklek...


Alex dan Anna sama-sama menoleh, masuk seorang pria dengan kemeja putih juga berkacamata bersama 2 orang suster


"Sam... "Sapa Alex


"Siapa dia? "Tanya Anna


"Dia dokter sayang, dia akan memeriksa keadaanmu."


"Aku baik-baik saja, di mana Mike? "


"Sabarlah, nanti akan ku beritau, tapi biarkan dokter ini memeriksa keadaanmu."


Anna akhirnya terdiam dan membiarkan dokter di depannya memeriksa keadaannya.Anna juga tak ragu menjawab pertanyaan yang dokter itu lontarkan padanya.


"Tolong, pasang kembali infusnya. "Ujar Sam pada suster


"Aku tidak mau. "Tolak Anna


"Sayang, aku mohon menurutlah, demi anak kita."Ujar Alex memohon sambil membelai perut Anna.


Anna kembali tertegun menatap ke arah perutnya, lalu tangan kanannya perlahan ikut menyentuh perutnya sendiri yang kembali di sambut oleh tendangan kecil dari dalam.


"Bagaimana Sam? "


Sam menghela nafasnya, "Kejadian itu membuatnya begitu syok, padahal seharusnya ptsdnya sudah sembuh. "


"Kondisi kehamilan istrimu membuatku tak bisa menggunakan obat yang sama dengan sebelumnya Lex, jadi..."Ujar Sam ragu


"Jadi apa? "


Sam menepuk bahu sahabatnya, "Cinta kalian yang harus di andalkan. "


Sam beralih menatap Anna, "Lihatlah, meski otaknya tak mengingat siapa kalian, tapi nalurinya akan menuntunnya kembali padamu juga anak kalian. "


Dalam hati, Alex membenarkan ucapan Sam, Anna selalu terlihat tenang saat membelai perutnya, nalurinya sebagai seorang ibu pasti perlahan akan menyadarkannya.


"Bagaimana kondisi Mike? "


"Hahhh.... peluru itu sedikit mengenai jantungnya dan... dia kehilangan banyak darah, hanya Tuhan yang kini menentukan apakah pria itu di beri kesempatan untuk taubat, atau mati nanti dan bersiap antri di depan pintu neraka. "


"Kau ini. "Tegur Alex


"Hei, dia pria jahat, bukankah tempatnya neraka, di agama manapun bukankah neraka untuk orang jahat? "


"Aku heran, Mike dan mantan ayah angkatnya itu adalah orang-orang hebat di dunia kedokteran, sayang sekali mereka salah jalan."Ujar Sam lagi menyayangkan.


"Dok,sudah kami permisi dulu. "


"Ya... pergilah. "


Sam menatap Alex yang kini duduk di samping Anna dan membelai rambut Anna, bahkan mereka saling menatap saat ini. Sam menghela nafasnya.


"Astaga, aku di anggap apa? "Gumamnya lalu pergi dari ruangan itu


Alex dan Anna masih saling menatap, lalu tangan Alex menyusul tangan Anna yang berada di perutnya.


"Kamu rasakan itu sayang, putri kita bergerak di dalam sana. "Ujar Alex


"Apa dia perempuan?"Tanya Anna


"Ya... dia perempuan dan akan secantik dirimu. "


Anna menitikan air matanya, "Kenapa aku tak mengingatnya... "


Alex menghapus air mata istrinya, "Tak penting kamu mengingatnya atau tidak saat ini, yang penting kamu menyadari keberadaannya di dalam kandunganmu,dia putri kita, buah cinta kita. "


Anna menatap mata Alex, cinta benarkan jika dia mencintai pria di depannya, dan bukan Mike.


"Apa aku dulu mencintaimu? "


Alex tersenyum, "Tentu saja. "


"Apa buktinya? "Tanya Anna


Alex menaikkan satu alisnya, hingga kemudian ia tersenyum, "Buktinya....ini... "


Dengan lembut Alex mencium bibir Anna, begitu lembut bibirnya terus bergerak di atas bibir istrinya itu.


Sementara Anna memejamkan matanya, demi menilai perasaan yang ada di hatinya saat ini.


Sesaat kemudian Anna mulai membalas ciuman lembut Alex, hanya sebentar karena Alex memilih menyudahinya membuat Anna penasaran


"Bagaimana perasaanmu? Saat aku menciummu? "Tanya Alex


"Hangat... dan nyaman? "


"Lalu kenapa kamu membalasnya? "


Anna menatap lekat mata Alex, dalam hati ia mencari alasan kenapa dia sampai membalas ciuman itu, tapi ia tak menemukan alasan selain dia menginginkannya bahkan ia sempat kecewa saat Alex menyudahinya.


"Kenapa? "Tanya Alex lagi


"Karena aku ingin. "


"Aku tanya sekali lagi Anna, bagaimana perasaanmu saat kita berciuman tadi? "


Anna benar-benar bingung harus menjawab apa, hingga beberapa detik kemudian dia menarik kerah kemeja Alex dan kembali mencium bibir Alex.


Beberapa saat mereka berciuman hingga Anna sendiri yang menyudahi ciuman yang di mulai olehnya, masih dengan hidung yang saling menempel, bibir yang saling berdekatan.


Anna berbisik, "Aku... merindukan ciuman ini. "


Alex tersenyum lega, lalu ia kembali mencium bibir candu yang ia rindukan, Anna kembali membalas ciuman itu dan merasakan perasaan yang begitu menggebu di hatinya


'Otakku tak ingat siapa pria ini, tapi kenapa hatiku menginginkannya?'Batin Anna di sela ciuman mereka.


.......


.......


.................myAmymy.................


......**Cinta yang tulus selalu akan menunjukan jalan untuk kembali pada pemilik hatinya. ......


...🖤🖤...


...@myAmymy** ...