
Axel dan Angel kini duduk di ruang tamu di
rumah papa Bram. Di depan mereka duduk dengan angkuhnya tuan Bram.
"Jadi kamu benar-benar serius Xel? "
"Iya pa, kami saling mencintai,kenapa papa memaksakan perjodohan Alex dan Angel."
"Papa sangat berharap pada Angel, kamu lihat sorot mata Angel sangat mirip Naina, jadi papa harap kakakmu itu bisa menerima gadis lain. "
"Tapi Angel tidak suka om Alex. " Ujar Angel yang dari tadi diam.
"Om?"
"Papa lihat, Angel bahkan memanggil Alex om, jarak usia mereka terlalu jauh pa 15 tahun. "
Bram menghela nafasnya. Benar juga kata Axel. Angel memang terlalu kecil untuk Alex, tapi sangat sulit mencari wanita yang hampir mirip Naina.
"Asal papa tahu kalau Alex sudah memiliki kekasih dan mereka akan segera menikah nanti."
"Kekasih? Kamu yakin?"
Axel mengangguk dengan cepat,"Bahkan mereka sudah tinggal bersama di apartemen kak Naina. "
"Kamu yakin dia bukan wanita yang di sewa Kakakmu? Bukan Raisa? " Tanya Bram mengingat wanita di club malam milik Alex yang selalu Alex datangi.
"Ish, bukan pa, Raisa itu hanya tempat pelampiasan kakak saja. Dia pria normal yang punya kebutuhan tapi wanita ini bukan, kakak sendiri yang mengakuinya sebagai kekasih. "
Bram nampak berfikir,ini sesuatu yang sangat membuatnya terkejut. Dia harus memastikan sendiri ucapan Axel.
"Bagaimana pa? Papa setuju kan pernikahan kami? "
Bram menatap Axel dan Angel, tangan mereka saling menggenggam,"Papa tak mau kamu sampai menyakiti Angel suatu hari nanti. Dia putri sahabat papa."
Axel tersenyum,"Tidak akan pa. "
Bram menghela nafasnya, "Kamu temui papa Angel, sekaligus kamu kunjungi dia. Minta restunya. " Putus Bram pada akhirnya.
Mata Axel dan Angel berbinar,Akhirnya Bram menyerah.Dalam hati Axel bersorak,akhirnya penantiannya berakhir,dia akan segera menikah. Lain dengan pikiran Angel, ia sangat lega. Bayangan wajah Lucas langsung melintas. Dia akan hidup bersama Lucas dan membesarkannya.
"Terimakasih pa. "
"Terimakasih om"
Ucap Axel dan Angel bersama.
.
.
Axel dan Angel sudah sampai apartement. Mereka berencana akan langsung terbang ke NewYork menemui om Banyu, papa Angel.
"Iya bos, ijin 3 hari saja. "
"Ada deh. "
"ya bos,terimakasih."
Axel baru saja menelpon Daffa bosnya dan memastikan jika pekerjaannya bisa di tangani nanti setelah pulang dari sana.
"Kak, aku sudah selesai." Ujar Angel sambil menggeret koper miliknya.
"Ya, kita berangkat."
"Lho kakak tidak bawa baju? "
Axel menggeleng,"Aku bisa pakai baju Alex di apartemennya nanti."
Angel mengangguk,"Ya sudah ayo jalan,aku sudah sangat merindukan papa. "
Alex tersenyum lalu membelai rambut Angel.
"Yuk berangkat. "
Axel mengambil tangan Angel dan menggenggamnya, tangan satu lagi ia gunakan untuk menyeret koper milik Angel.
....................
Alex memasuki club malam miliknya. Sudah seminggu dia tak berkunjung karena tugas yang di berikan Adam padanya. Dan sekarang bertambah tanggung jawabnya pada Naina. Alex sudah terlanjur berjanji pada Naina akan membantunya.
"Jordan bagaimana keadaan seminggu ini?" Tanya Alex pada orang kepercayaannya.
"Aman bos, hanya ada beberapa keributan kecil tak masalah. "
Alex mengangguk,"Bagus."
Jordan menyerahkan berkas laporan pada Alex.
"Apa Raisa ada? " Tanya Alex.
"Ada bos. "
"Katakan padanya untuk menemuiku. "
"Baik bos. " Jordanpun pamit untuk melaksanakan perintah bosnya.
Alex menuju meja kerjanya dan duduk di kursinya untuk memeriksa laporan yang di berikan jordan.
Tok tok...
Suara pintu di ketuk mengalihkan perhatian Alex.
"Masuk. "
Ceklek...
Seorang wanita berpakaian minim layaknya wanita penghibur masuk dengan langkah anggunnya.
Alex mundur menyandarkan punggungnya menatap wanita bernama Raisa itu dengan tajamnya.
Tanpa menunggu Raisa langsung duduk di pangkuan Alex.
"Sudah lama bos tidak panggil Raisa. " Ucapnya manja sambil membelai rahang Alex.
"Aku sibuk. "
Raisa mengangguk,"Bos udah makan? "
Raisa mengangguk,mengecup pipi Alex lalu bangkit meninggalkan Alex menuju sebuah kamar yang berada di ruangan itu setelah mengunci pintu ruangan kerja Alex.
Alex menghela nafasnya, "Ini semua gara-gara Naina. " Gerutunya mengingat gadis yang selalu mengusik malamnya tanpa bisa ia sentuh,"Sial. "
.........
Sementara di tempat lain di apartemen Alex, Naina baru saja akan membuat makan malam untuknya, ia tak tahu apa Alex akan pulang cepat apa tidak.
"Lebih baik aku masak untuk sendiri saja, bukankah dia bilang sedang sibuk akhir-akhir ini. "
Naina mulai mengeluarkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk ia masak.
"Labu,..mmm.. bikin sop labu sepertinya enak. "
"Ah sama telur gulung saja. "
Naina mulai memasak apa yang ia inginkan untuk makan malamnya. Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar suara bel pintu apartemen.
"Siapa? " Tanyanya.
Naina meletakan pisau yang tengah ia pakai untuk memotong daun bawang. kemudian mengecilkan api kompor yang tengah memasak sop labunya.
Setelah mencuci tangan Naina segera membuka pintu untuk seseorang yang terus menekan bel.
Ceklek....
Naina menatap seorang pria paruh baya dengan tongkat di tangan kanannya.
"Anda siapa? " Tanya Naina.
Tanpa menunggu pria itu langsung menerobos masuk ke dalam apartemen membuat Naina kebingungan.
"Maaf anda siapa? " Tanya Naina sekali lagi.
Pria itu sudah duduk tapi masih diam. Naina bertambah risih saat tamu itu terlihat memindai dirinya.
"Jadi benar putraku tinggal bersama seorang wanita. "
"Putra?"Beo Naina hingga ia mengerti sekarang,"Jadi anda ayah Alex? " Tanya Naina mengingat pembicaraannya kemarin bersama Alex, Axel dan Angel.
"Apa kamu sedang memasak?" Tanya Bram.
"Iya om. "Entah kenapa tiba-tiba Naina merasa gugup.
Bram mengangguk, "Ya sudah selesaikan masakanmu. "
Meski ragu Naina akhirnya mengangguk.Segera ia menuju dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
beberapa saat kemudian Naina kembali ke ruang tamu sambil membawa secangkir teh hangat manis.
"Maaf ini saya buatkan teh hangat, saya tidak tahu apa anda berkenan atau tidak,tapi ini memakai gula rendah kalori."
Bram sedikit tertegun denga apa yang Naina lakukan, dia tersenyum tipis lalu mengangguk tanpa mengatakan terimakasih.
"Kalau begitu saya Permisi dulu." Ujar Naina sebelum kembali ke dapur.
Di dapur sambil menyelesaikan masakannya Naina terus mencoba menghubungi Alex, namun pria itu tak kunjung mengangkat panggilannya meski tersambung.
"Ish kemana sih dia? " Gerutu Naina kesal. Akhirnya Naina memilih mengirim pesan mengabarkan jika ayah Alex datang ke apartemen.
Ia tak tahu harus bagaimana dia menghadapi pria paruh baya itu meski kemarin ia sudah di beri tahu apa saja rencana mereka.
Setelah beberapa saat Naina telah menyelesaikan pekerjaannya lalu menata apa yang ia masak di meja makan.
Naina menghela nafasnya sesaat sebelum ia menemui Bram.
"Maaf om, masakan sudah matang, apa om mau makan malam sekalian?"
Bram mengangguk,tentu ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal siapa perempuan yang Axel maksud tadi siang.
Bram berdiri lalu mengikuti Naina.
"Silahkan duduk om. "
Bram mengangguk.Dengan sopan Naina melayani Bram untuk makan malam.
Setelah beberapa saat mereka makan dalam diam,Bram tak tahan untuk mencari tahu kebenaran dari cerita Axel.
"Siapa namamu?" Tanya Bram to the point mengawali rasa penasarannya.
.
.
Alex baru akan memakai kemejanya kembali sambil duduk di atas ranjang.
"Kenapa buru-buru pulang? " Tanya Raisa sambil memeluk Alex dari belakang.
"Jaga batasanmu Raisa. Aku bukan kekasihmu,Cepat pakai pakaianmu dan keluar dari ruanganku. "
Raisa menghela nafasnya, cukup lama dia mendapat perlakuan seperti ini. Ia pikir dirinya cukup special di mata Alex sejak ia datang dan bekerja di club milik pria itu. Bahkan Alex melarangnya melayani pria lain dan hanya ada untuk melayaninya.
Tapi pria itu tak pernah datang selain hanya untuk kebutuhannya saja.
Alex yang sudah rapi keluar kamar dan menuju meja kerjanya. Di ambilnya ponsel yang ia tinggalkan tadi. Keningnya mengerut saat melihat ada 5 panggilan tak terjawab dan satu pesan dari Naina
"Sial cepat juga geraknya pria tua itu. " Tanpa menunggu Alex langsung mengambil kunci mobilnya dan keluar ruangannya.
"Pastikan Raisa keluar dari ruanganku dalam 5 menit. " Perintah Alex pada 2 bawahannya yang siaga berjaga di depan ruangannya.
"Siap bos. "
Alex langsung bergegas untuk pulang, Dia sungguh tak menyangka jika papanya akan bergerak secepat ini. Alex khawatir jika Naina salah skenario yang sudah berubah rencana sejak kedatangan Axel kemarin.
.
.
Siapa yang kaget sama sisi lain dari Alex nih?
.
🖤🖤
@myAmymy