
Alex langsung menatap tajam Naina, dia masih kaget dengan apa yang di katakan oleh ayahnya.
"Aku harus bicara dengan Naina sebentar." Alex langsung menarik Naina untuk mengikutinya.
Kini Alex dan Naina berada di belakang gereja. Naina masih terdiam, begitupun Alex yang juga terdiam berdiri membelakangi Naina.
"Kenapa bisa jadi begini. " Ujar Alex meremas kepalanya,ia berbalik masih menatap tajam Naina, " Kenapa kamu tak menolaknya?"
"Aku... "Naina bingung harus menjawab apa. Dia sendiri juga bingung, tadi dia di minta mengikuti orang suruhan tuan Bram, dia tidak tahu jika dia akan di bawa ke salon dan di minta memakai gaun pengantin.
"Apa kamu sengaja melakukan ini?Tadi pagi pasti dia sudah bicara denganmu tentang ini kan? " Tuduh Alex, "Harusnya kamu mengatakannya padaku. Bukan seperti ini ikut berkonspirasi untuk menjebakku. "
Naina langsung menatap tak percaya dengan kata-kata Alex.Menjebak?Bagaimana bisa Alex mengatakan menjebaknya.
"Kau tahu, aku tak mungkin menikahi gadis lain selain istriku. Aku tidak bisa mencintai wanita lain selain istriku. Dan sekarang kamu sengaja ikut permainan Papa,menjebakku dengan pernikahan ini. "
Naina mundur ke belakang, " Jika aku bisa aku ingin pergi dari sini. Aku ingin pergi ke keluargaku,aku tak ingin membebani siapapun. Maaf aku memang tak tahu diri padamu yang sudah menolongku malam itu. "
Naina menitikan airmatanya,"Tapi asal tuan tahu, aku tak tahu menahu soal rencana papa anda. Tidak ada pembicaraan apapun mengenai pernikahan ini di antara kami, beliau hanya menunjukkan album foto tahun pertamamu, aku sama sekali tidak menjebakmu. "
Naina mengahapus air matanya, sementara Alex bingung melihat respon Naina, apakah benar kalau Naina juga sama sepertinya, terjebak dengan permainan papanya.
"Lalu kenapa kamu sudah siap dengan gaun pengantin seperti ini? "
Naina melihat ke gaun yang ia kenakan, "Aku juga ingin menolak memakainya, tapi apa yang bisa ku lakukan saat tak ada anda tuan. Bagaimana bisa aku menolak di saat aku sendiri tak tahu apa yang bisa aku lakukan tanpa anda? "
Naina mundur kembali, "Anda tenang saja, aku akan ke sana dan mengatakan aku menolak pernikahan ini, aku yang menolak maka itu tak akan jadi masalah untuk anda tuan, dan setelah ini aku akan pergi, Tak peduli meski aku harus jadi gelandangan sekalipun,asal aku tak menjadi beban orang lain. " Naina segera berbalik meninggalkan Alex yang masih tertegun.
.
.
Semua orang menunggu dengan heran,Kenapa kedua mempelai malah pergi meninggalkan altar di saat mereka bertemu.
Begitupun Bram, dia bingung ada apa dengan mereka, bukankah mereka saling mencintai tapi kenapa seolah dari sorotan mata mereka malah menolak.Bram memicingkan matanya penuh kecurigaan, lalu ia menoleh ke belakang di mana orang-orang mulai berbisik-bisik.
"Tuan..." Ujar Naina menghampiri Bram," Maaf..."
"Maaf karena harus membuat kalian menunggu ." Potong Alex cepat.
Naina langsung menoleh ke belakang dengan bingung.Alex sudah berdiri di belakangnya dengan rambutnya yang sudah rapi kembali.
"Ada apa dengan kalian? " Tanya Bram curiga.
"Maaf tuan ... sebenarnya..." Ujar Naina ingin mencoba berbicara,Namun lagi-lagi Alex memotongnya.
"Sebenarnya sampai kemarin malam Naina masih menolakku pa, Makanya tadi aku kaget waktu lihat dia cantik sekali memakai gaun pengantinnya. "
Naina mengerutkan keningnya mendengar apa yang Alex katakan. Kenapa berbeda dengan apa yang mereka bicarakan tadi.
"Jadi apa sekarang dia sudah tak menolakmu?"
Alex menatap Naina lalu mengambil tangannya dan menggenggamnya,Tanpa melihat Bram dan masih mengunci tatapan Naina, "Tidak pa, Kami akan menikah sekarang."
Naina mengeratkan genggaman tangan Alex padanya,dia masih tak percaya dengan keputusan pria di depannya itu.
"Syukurlah, papa tenang sekarang, " Bram menaatap Naina, " Papa harap kamu mengingat apa yang papa katakan padamu tadi pagi, jaga putraku di saat aku tak lagi ada nanti. "
Mata Naina berkaca-kaca mendengar apa yang Bram ucapkan,Jelas sekali ada banyak harapan di kalimatnya.Lalu ia menoleh pada Alex, bertanya dalam hatinya, 'Bagaimana ini, kenapa jadi seperti ini?' Batinnya.
Alex mendekat ke telinga Naina, "Kita lakukan saja pernikahan ini,dan kau tak akan sendiri lagi. " Bisik Alex.
Naina menatap ragu pada Alex dan tanpa sadar ia mengikuti Alex ke depan Pendeta. Naina terus larut dengan pikirannya. Kenapa rencana mereka berubah seperti ini, bukankah mereka awalnya hanya akan membuat dokumen pernikahan palsu untuk mengelabui tuan Bram, tapi sekarang mereka harus menikah sungguhan mengucap janji di depan Tuhan.
"Naina... " Panggil Alex sambil menepuk pipi Naina yang terlihat melamun.
"Ya.. " Kaget Naina menatap Alex penuh tanya.
Alex berbisik,"Katakan kalau kau bersedia. "
"Apa? " Tanya Naina masih belum mengerti.
Alex tersenyum canggung pada pendeta lalu sedikit mendekat ke depan wajah Naina dan kembali berbisik, "Katakan saja kamu bersedia., cup.. " Supaya tak ada yang curiga Alex mengecup bibir Naina sekilas.
Lalu pendeta melanjutkan pernikahan mereka hingga selesai.
"Baiklah mulai sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri silahkan mempelai pria untuk mencium mempelai wanitanya." Kata pendeta itu.
Alex tersenyum tipis lalu menatap Naina yang masih terlihat bingung. Alex mendekati wajah Naina untuk menciumnya namun Naina memundurkan wajahnya.
"Mau apa kau? " Bisik Naina.
"Menciummu. "
Blush...
Pipi Naina langsung bersemu merah ia melirik malu ke arah pendeta juga ke arah tamu.
"Tak usah malu, ini bukan ciuman pertama kita." Tanpa menunggu Alex langsung meraup bibir Naina yang kini sah berstatus istrinya.
Mereka berciuman dengan lembut namun sedikit lama hingga Naina mendorong dada Alex saat mendengar suara tepukan dari para tamu undangan.
Naina langsung merasa gugup sekaligus canggung.
"Baiklah acara pernikahan sudah selesai kalian bisa ke gedung samping dan menikmati jamuan pernikahan mereka." Ujar Bram merasa bahagia.
Naina masih menunduk bingung dengan apa yang terjadi, Kenapa dia tak menolaknya tadi, padahal dia sangat paham apa yang Alex ucapkan tadi jika pria itu tak mau menikahi wanita lain selain istrinya.
Naina menggigit bibirnya,rasanya ia ingin sekali menangis,ia benar-benar takut, ia tahu apa yang terjadi semua ini adalah salah, ia sudah terlalu jauh membebani pria di sampingnya kini.
Alex menoleh ke arah Naina saat ia merasakan genggaman di tangannya terasa kuat. Di lihatnya Naina yang tengah menunduk dengan bahu yang bergetar.Lalu Alex melihat ke arah tamu undangan yang sudah mulai keluar dan kini hanya tersisa dirinya juga Naina.
"Apa kamu baik-baik saja. " Tanya Alex khawatir.
Naina masih menunduk, ia masih bingung dengan semua ini, hingga tiba-tiba dia seperti mengingat sesuatu,Sebuah pertengkaran di dalam sebuah tempat yang ia kira hampir sama seperti tempatnya berdiri sekarang.
"*Kalian tidak bisa menikah...ini salah. "
"Kamu jangan ikut campur ... lebih baik kamu pergi. "
"Na... ingat statusmu sekarang."
"Kami saling mencintai dan aku lelah berpura-pura*. "
Naina melepas genggaman tangannya pada Alex lalu memegang kepalanya.Ia tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya.
"Naina.. kamu baik-baik saja? " Tanya Alex khawatir melihat perubahan ekspresi Naina.
"NAINA... " Kaget Alex karena tiba-tiba Naina pingsan. Dengan segera Alex membopong tubuh Naina berjalan menuju mobilnya.
"Joan kita ke rumah sakit." Ujar Alex pada asistennya.
"Baik bos."
Alex menatap khawatir Naina yang kini terbaring di pengkuannya.
"Lebih cepat Jo. "
Apa yang terjadi pada Naina membuat Alex sangat khawatir, terlebih kini tubuh wanita berstatus istrinya itu mulai terasa dingin.
"Ya Tuhan Naina apa yang terjadi denganmu? "
.
.
Nah kira-kira Naina akan ingat kembali tidak ya?
.
.
🖤🖤
@myAmymy