The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 40



Raisa mulai kehabisan nafasnya kala Naina mengunci lehernya.


"Kau sendiri yang memancing ku ja*ang."Ujar Naina dingin, "Sekarang sudah waktunya kau diam,katakan." Naina tersenyum tipis, "Katakan apa pesan terakhirmu. "


"Hah... Le..pas... Hah... ah... " Ujar Raisa susah payah.


"Ya... tentu,aku akan melepasmu, tapi nanti." Naina tersenyum menyeringai, "Setelah kau mati. "


Ceklek...


"Astaga... Naina..."


Naina dan Raisa sama-sama menoleh ke arah pintu.


Dengan gerakan cepatnya Alex segera melepaskan Raisa dari cekalan Naina, Alex menatap tak percaya pada istrinya, tidak itu bukan Naina. Astaga, bipolar Naina kambuh dan itu lebih menyeramkan, dia seperti seorang psikopat.


"Alex, dia...dia mau membunuhku, dia mau membunuh bayi kita Alex, aku takut...uhukkk.."


Alex menatap khawatir pada Raisa, lalu pada Naina yang terlihat tengah mengatur nafasnya.Segera Alex mengambil ponselnya dan menelpon anak buahnya untuk datang.


"Alex, aku takut." Ucap Raisa memeluk Alex.


Ini kali pertama Alex melihat sisi lain Naina, dan ia tak tahu apa penyebabnya hingga bipolar Naina kambuh, apa mungkin Raisa lebih dulu memancingnya, karena tadi pagi saat Alex berpamitan, istrinya itu dalam mode manjanya.


"Bang... "


Alex menoleh ke arah pintu, ada Joan berdiri di sana, "Jo kau bawa Raisa, cari tempat aman untuknya. "


"Siap Bang. "


Raisa menggeleng, "Tidak mau Alex, aku mau bersamamu. "


"Mengertilah Raisa."Alex beralih pada Joan, "Jo bawa dia. "


"Siap bang." Segera dengan paksa Joan menarik Raisa agar mengikutinya.


Alex kembali fokus pada Naina yang tengah duduk dengan memeluk lututnya, wanita itu juga menutup telinganya, sorot matanya masih menggelap, berkali-kali ia menggeleng.


"Tidak... aku bukan pembunuh..."Lirih Naina.


Alex mengerutkan keningnya, ini bukan kali pertama ia mendengar Naina bergumam seperti itu, Bukan pembunuh.Apa di masa lalunya Naina pernah membunuh seseorang?


Perlahan Alex mendekat lalu berjongkok di depannya, "Naina... " Lirihnya, "Sayang, lihat aku.kemari,lihat mataku. " Ujar Alex menarik dagu Naina agar melihat ke arahnya dan menatapnya.


Deg....


Sesaat Alex seperti pernah melihat sorot mata itu, hanya sesaat tapi entah kapan dan siapa. Alex menggeleng, bukan waktu yang tepat ia mencoba mengingatnya, sekarang lebih penting membuat istrinya itu tenang kembali.


"Lihat aku, semua baik-baik saja, aku di sini bersamamu.Calm down Oke... " Alex menarik Naina ke dalam pelukannya sambil membelai rambut Naina dan mengecup puncak kepala istrinya itu, "Ada aku... calm down... "Alex menghela nafasnya,ia tak bisa lagi mengabaikan kasus Naina.


.


.


Setelah beberapa saat Naina sudah lebih tenang meski dia belum mau mengatakan apapun.


"Minumlah agar perasaanmu lebih tenang. " Ujar Alex sambil memberikan segelas air minum hangat untuk istrinya.


Tanpa mengatakan apapun Naina menerimanya dan langsung meminumnya, sementara Alex membelai lembut rambut Naina.Ia menarik nafasnya panjang, ia berfikir harus menghindarkan Naina dari masalah. Ada sisi gelap dalam diri Naina yang tak boleh lagi muncul.


"Aku mau tidur." Ucap Naina pada akhirnya.


"Oke, baik, ayo aku temani. "


Naina menggeleng, "Tidak perlu, kau urus sana wanita itu dan anak kalian. "


Alex memejamkan matanya, benar dugaannya pasti sebelumnya Raisa sudah memancing Naina.


"Naina..." Ucap Alex lembut sambil mengambil tangan istrinya untuk ia genggam,"Dengar jangan lagi kamu berfikir macam-macam,bersabarlah besok pasti aku selesaikan masalah Raisa. "


Naina berdiri dan langsung masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dan menguncinya.Ia butuh waktu sendiri, suasana hatinya tak baik, bukan hanya soal Raisa tapi soal bayangan-bayangan yang jelas sekali ia lihat tadi.


Merebahkan dirinya di ranjang,Naina mencoba menyusun kepingan puzle berupa bayangan-bayangan hitam putih yang mulai muncul dalam pikirannya sejak beberapa hari lalu.


"Apa itu masalaluku?"Naina menggeleng, "Menyeramkan sekali." Ujarnya.


" The R 01." Gumamnya,segera ia bangkit dan menuju lemari untuk mengambil sesuatu yang selalu ada bersamanya, "Ya ini sama dengan yang ada di ingatan itu, R 01." Lirihnya sambil mengusap sebuah keping perak yang ia yakin awalnya adalah sebuah liontin.


....................myAmymy...................


Alex hari ini membawa Naina ikut dengannya, ia tak akan membiarkan istrinya itu sendiri, Semalam istrinya itu terus mengingau dengan menggumamkan kata tidak.


Dengan menggenggam tangan Naina, ia tak sabar masuk ke sektor 5 seperti yang sudah ia rencanakan kemarin. Hari ini masalah soal Raisa akan jelas.


"Di mana dia? "Tanya Alex pada Joan.


"Mondi? "


"Siaga 1 bang. "


"Baiklah, langsung saja katakan untuk menyusul ke ruang 8."


"Siap bang."


.


.


Alex dan Naina memasuki sebuah ruangan di mana sudah di tunggu oleh beberapa anak buahnya, "Bawa dia. " Titahnya pada anak buahnya.


"Kita mau apa Alex?"Tanya Naina penasaran.


Alex tersenyum,lalu mengajak Naina masuk ke ruangan sebelahnya di mana sudah ada Janny duduk di hadapan beberapa layar monitor.


"Kamu tunggu di sini. "Ujar Alex sambil membelai rambut Naina. Alex melirik pada Janny yang terlihat mengulum senyumnya karena melihat sisi lembut Alex yang tak biasa.


Alex menghela nafasnya lalu mengecup kening istrinya sebelum ia kembali ke ruangan tadi.


Alex duduk di sebuah kursi sambil memainkan belati kesayangannya.


"Bos... " Sapa seorang wanita yang ia kenal sebagai salah satu wanita malam di CLUB miliknya.


"Tina... "Ujar Alex tanpa melihat pada lawan bicaranya,"Kau tahu kenapa kau ku seret kemari? "


Wanita bernama Tina itu menunduk, ia mengerti maksud bosnya itu. Tak lama datang Mondi.


"Bang. " Sapa Mondi lalu melirik pada wanita di sebelahnya, "Tina."


"Bisa kau ceritakan apa hubungan kalian Mondi? "Tanya Alex to the poin.


Mondi melirik sekilas pada Tina lalu fokus pada Alex, "Dia temanku. "


Alex mengangguk, "Hanya teman?"


Mondi melirik pada Tina, "Aku menyukainya tapi dia menolakku. "


"Kenapa kau menolaknya Tina, bukankah kau mengatakan ingin memiliki seseorang yang menerimamu apa adanya? "


Tina menunduk, ia bingung harus jujur atau tidak. Alex memberi kode pada anak buahnya hingga tak lama datang Raisa yang langsung terlihat kaget.


"Tina... " Lirihnya.


"Kenapa Raisa, kau terlihat kaget melihat Tina?"


Raisa menatap Alex dan beberapa anak buahnya, dia tahu apa yang akan terjadi jika dia melawan.


Tak lama kemudian datang seorang dokter wanita bernama Sarah.


"Maaf dokter Sarah, di mohon kerjasamanya, siapa di antara dua wanita ini yang saat dulu kau periksa kehamilannya? "


Dokter Sarah tanpa pikir panjang langsung menunjuk ke arah Tina.


"Anda yakin?Bukan dia? "Tunjuk Alex pada Raisa.


"Yakin tuan, untuk nona yang itu, saya hanya melakukan papsmear saja, dan sebelumnya di lakukan pemeriksaan dia tidak hamil. "


Alex mengangguk, "Terima kasih dokter, anak buah saya akan mengantar anda kembali. "


Dokter sarah mengangguk lalu segera pergi dari tempat yang ia pikir sangat menakutkan itu.


Alex kembali fokus pada orang yang tengah ia sidang,"Kau mau menjelaskan apa yang terjadi atau kau mau anak buahku membereskanmu Raisa. "


Raisa mengerti ia telah kalah, rencananya kacau, susah payah ia membujuk Tina agar tak menggugurkan kandungannya dengan janji jika dia yang akan menjadi ibu untuk bayinya kelak,tapi sekarang semua kacau.


"Kau salah mencari korban Raisa. "Geram Alex.


.................myAmymy................


Akhirnya Finish masalah Raisa ya... lalu apakah kedepan lancar jaya seperti jalan tol atau akan ada masalah baru yang lebih besar?


Hmm... Naina mulai teringat sesuatu kan? Kira-kira siapa Naina ya?


Penasaran gak sih? Tunjukkan rasa penasaran Readers semua dengan VOTE sebanyak-banyaknya ya 🙏


...🖤🖤...


...@myAmymy...