The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 68



Naina duduk di kursi taman depan sekolah Lucas, hari ini adalah hari paling membahagiakan untuknya setelah beberapa tahun ini hidup dalam tekanan.


"Tante siapa? "Tanya Lucas polos di saat ada orang lain ikut sarapan di meja makan apartemennya pagi ini.


Naina langsung menetap gugup bocah 7 tahun itu, ingin sekali rasanya dia mengatakan aku ibu kandungmu tapi, lagi-lagi Ibrahim menahannya di balik meja dengan menggenggam tangannya erat.


"Sayang, dia namanya mama Naina. "Ujar Angel.


Lucas mengerutkan keningnya, "Maksud mama apa? "


Axel segera minum,"Sama seperti Lucas punya papa Alex dan mama Ana. "


Lucas mengerutkan keningnya, "Aha... tapi kalau semua jadi papa dan mamaku, aku jadi bingung."


Semua langsung menatap khawatir pada bocah laki-laki itu.


"Begini saja, sama papa Axel dan mama Angel, Lucas tetap panggil papa dan mama, terus sama Papa Alex dan mama Ana ganti Deddy dan Mommy, terus sama tante ini emmm... bunda sama Ayah sama om ini... Oke kan ide Lucas. "


Mendengar itu, semua orang bernafas lega.


"Wah pintar sekali sih anak mama... "


"Jelas, Lucas anak papa Axel pasti pintar. "


Axel langsung terlihat tersenyum begitu bangga mendengar ucapan Lucas.


"Tunggu kalau om... eh ayah ini apa kehebatannya, Lucas mau punya ayah yang hebat juga. "


"Aku.... "Ujar Ibrahim bingung, Ibrahim memang seperti Alex sedikit bicara,"Ayah ini jago menembak. "


Lucas menggelengkan kepalanya, "Kalau menembak, Papa dan Daddy juga jago. "


Axel hanya bisa menahan senyumnya.


"Begini saja sayang, hari ini Lucas bersama Ayah dan bunda ya, nanti Lucas akan lebih kenal sama mereka, jadi tahu apa hebatnya mereka. "


Lucas mengerutkan keningnya,"Tidak mau, Lucas maunya sama papa dan mama. "


"Iya sayang, maksud mama, hari ini selama papa kerja dan mama kuliah, Lucas di jaga sama bunda ya... mama ada kuliah sampai sore, jadi Lucas tidak perlu sendirian di rumah."


"Oh, Oke. "


Naina akhirnya bisa bernafas lega, tak apa jika seperti ini caranya, mungkin memang belum waktunya Lucas mengetahui yang sebenarnya jika dia adalah ibu yang telah melahirkannya.


"Bunda..."


"Eh,sudah selesai sekolahnya? "Tanya Naina yang kaget dari lamunannya.


"Sudah bunda..."


"Ya sudah, ayo kita pulang, tapi ke rumah bunda ya, nanti sore papa sama mama baru jemput. "


Lucas mengangguk antusias, "Hemm...,aku lapar bunda... "


"Nanti bunda masakan makanan kesukaan Lucas mau? "


"Memang bunda tahu apa makanan kesukaan aku? "


Naina meringis, dia sama sekali tidak tahu, lalu ia menggeleng, "Lucas mau kan kasih tahu bunda apa saja yang Lucas sukai dan tidak. "


"Oh... okay... "


Naina tersenyum lega, akhirnya dia bisa merasakan menjadi ibu untuk anaknya sendiri, 'Sabar Naina pelan-pelan.'Batin ibu satu anak itu.


....................


Alex melangkah perlahan menghampiri salah satu bilik toilet di mana hanya itu pintu yang tertutup.


"Alex... "Bisik Ana cemas.


"Ssstt.... "


Alex yakin ada seseorang di dalam.


"Alex... "Sentak Ana,"Jangan keterlaluan ini toilet perempuan dan tak ada siapapun di dalam."Ujar Ana kesal, ia berbalik dan meninggalkan Alex.


Sementara Alex tetap dengan rasa penasarannya, ia pun segera membuka pintu bilik toilet yang membuatnya penasaran.


Brakk..


Alex mengerutkan keningnya, "Kosong."Gumamnya, tapi feelingnya begitu yakin jika tadi ada seseorang di dalam sana.


Akhirnya Alex menghela nafasnya, ia pun berbalik dan keluar dari toilet dengan sesekali melihat kembali ke belakang.


"Menemukan sesuatu?"Tanya Ana.


Alex menggeleng, "Tidak."


"Sebenarnya ada apa denganmu Alex, kamu tak mempercayaiku? "


Alex menatap istrinya, apa benar dia ternyata meragukan Ana.


"Kalau kamu ragu padaku, aku bisa pergi,tak usah pedulikan aku. "Kesal Ana.


"Hei sayang, tidak bukan seperti itu, aku hanya... "


"Hanya ragu karena masalaluku,dengar Alex, aku memang dulu seorang pembunuh tapi aku bukan pemangsa. "


Alex langsung memeluk Ana, "Bukan sayang bukan seperti itu, aku khawatir padamu, aku takut ada seseorang di dalam yang bisa melukaimu."


"Ck... jika bukan karena kehamilanku, aku yakin bahkan aku tak butuh perlindunganmu."


Alex memejamkan matanya, Ana benar kemampuan bela diri Ana tak bisa di anggap remeh.


Ana mengangguk lalu mereka pun pergi dari tempat itu.


Tak lama setelah Alex dan Ana pergi, Mike keluar dari toilet itu.


"Kamu pikir aku akan semudah itu tertangkap?"Gumam Mike.


Mike menyeringai, suara Ana yang cukup keras tadi menyadarkannya jika situasi di luar cukup beresiko dan Mike yakin di saat Ana berbicara seperti itu maka di saat itu perhatian Alex tertuju padanya dan saat itu adalah waktu yang tepat untuknya berpindah tempat dari dinding pembatas atas ke bilik satu lagi.


Ana memasuki mobil Alex di susul Alex.


"Sayang...."


"Hmm... "


"Maafkan aku soal tadi."


"Ck... sudah jalankan saja mobilnya."


Alex menghela nafasnya lalu ia pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya.


"Kita pulang atau kamu mau ke mana? "


"Pulang saja. "


"Baiklah, tapi apa kamu tak ingin beli sesuatu mungkin?"


Ana nampak berfikir, "Sepertinya.... "


"Apa? "


"Aku ingin baso."


"Apa lagi?"


Ana menggeleng, "Itu saja. "


Alex mengangguk, "Baiklah sekalian kita beli persediaan buah, kamu ingat kata dokter tadi buah baik untuk kandunganmu. "


Ana hanya mengangguk dan menatap keluar kaca jendela di sampingnya, ia perlahan mengatur nafasnya,ia yakin jika Mike ada di belakangnya, pria itu tak akan semudah itu melepasnya.


"Kamu kira bisa lepas dariku sayang, dengar kamu itu milikku, sampai kapanpun kita akan selalu bersama, kita akan sehidup semati."


Ana memejamkan matanya, perlahan dia menarik nafas panjang dan dengan lembut menghembuskannya,Ana membelai lembut perutnya, ada satu ketakutan jika memang nanti pada akhirnya dia harus mati, tak apa asal Alex dan bayinya selamat.


...................


Alex dan Ana memasuki apartemennya, wanita itu langsung duduk di Sofa ruang tamu sedang Alex masuk ke dapur membawa barang belanjaannya, tak lama pria itu kembali ke ruang tamu dengan membawa semangkuk baso.


"Sayang ini basonya."


Ana membenarkan posisi duduknya menjadi tegap.


"Mau aku suapi? "Tanya Alex.


Ana menatap mata suaminya lalu mengangguk.


"Aaaa.... "


Alex tersenyum, "Baiklah biar aku suapi istri cantikku ini. "


Ana menerima suapan dari Alex lalu perlahan mengunyah bola daging itu sambil memikirkan pria di depannya, jika nanti terjadi sesuatu padanya, apa yang akan pria itu lakukan.


"Alex.... "


"Ya... "


"Sejauh mana kamu mencintaiku? "


Alex mengerutkan keningnya, "Entahlah aku tak dapat mengukurnya. "Jawab Alex, ia yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran istrinya.


"Jika nanti kamu kehilangannku bagaimana? "


Alex meletakan mangkuk di tangannya, lalu mengambil tangan istrinya, "Sayang, aku mohon jangan pergi lagi,aku tak sanggup jika harus kehilangan wanita yang aku cintai sekali lagi,terlebih ada anak kita sekarang, dulu aku menganggap Naina pergi dengan anakku, aku bertahun-tahun hidup dalam kegelapan hingga kamu hadir membawa cahaya untuk hidupku. "


Ana menahan senyumnya, "Sejak kapan kamu lebay seperti ini. "


"Iyakah? hoh apa terdengar menjijikkan ucapanku astaga, padahal biasanya aku yang merasa jijik melihat bagaimana Axel."


"Ya seperti itu cinta, kadang membuat pemiliknya menjadi lebay. "


Alex tersenyum lalu membelai rambut istrinya, "Tapi aku serius, jangan pernah pergi meninggalkanku. "


"Aku tak akan pergi meninggalkanmu, tapi hidup dan mati di tangan Tuhan."


"Kalau begitu biarkan aku yang mati lebih dulu darimu, karena aku lebih tak sanggup jika harus melihatmu pergi menuju kematian."


"Alex... "


"Ya... "


"Bisakah kamu mengambil cuti kerja, dan menemaniku selama aku hamil sampai melahirkan?"Pinta Ana, ia tak mau terjadi sesuatu pada bayinya.


.................myAmymy.............. ...


Siapa yang kangen Ana dan Alex, Vote nya sepi ih kan jadi Gak semangat akutuh. Ayo dong Vote biar cepat nyantol idenya untuk cerita ini... okay 😉


...🖤🖤...


...@myAmymy...