
Naina duduk di ranjang kamarnya, ia benar-benar merasa khawatir dengan mereka yang kini berada di ruang tamu apartemennya.Tadi pulang dari rumah bos Adam, Raisa ternyata sudah menunggu di depan apartemen mereka.
Naina berdiri, ia mondar mandir di kamarnya, ia benar-benar bimbang, wanita itu tengah hamil,pasti dia membutuhkan Alex layaknya wanita hamil pada umumnya yang menginginkan perhatian dari suaminya. Naina meremas rambutnya saat pikirannya mulai kacau.
Sementara di ruang tamu Alex masih menatap Raisa yang masih menangis.
"Berhentilah menangis, katakan apa maumu?"
"Hiks..."Raisa menghapus air matanya, "Aku kesepian di hotel itu, aku merindukanmu. "
"Raisa jangan lewati batasanmu. "
Raisa menggeleng, "Tidak Alex, ini bukan kemauanku, tapi anakmu, aku begitu ingin bertemu denganmu."Raisa mendekat pada Alex lalu memeluk pria itu, "Ini, aku sangat ingin menghirup aroma tubuhmu, bayi kita merindukan ayahnya iya kan?"
Alex tadinya ingin melepas pelukan Raisa, namun saat mendengar jika bayinya merindukannya hatinya melemah, dalam hati ia bertanya apakah benar seperti itu.
Ceklek....
Alex langsung melepas paksa pelukan Raisa saat ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
Alex langsung menoleh dan kembali mendapati wajah dingin istrinya,"Sayang... ini bukan."Alex berdiri dan langsung menghampiri Naina, "Itu tadi tidak seperti yang kamu bayangkan, dia hanya bayinya hanya. "
Naina melepas tangan Alex dari bahunya, lalu melangkah menuju dapur dan mengambil makanan yang tadi Alex beli.
"Naina. " Ujar Alex yang ternyata mengikutinya.
"Apa? "
"Tolong jangan salah paham. "
Naina menggeleng, "Selesaikan urusan kalian,aku lapar mau makan. "Naina menatap Raisa yang ternyata mengikuti mereka.
Alex menoleh ke belakang dan mendapati Raisa,"Ada apa? "Tanya Alex dingin pada Raisa.
"Alex, aku.. aku juga lapar.... "Lirih Raisa, "Aku tak enak makan beberapa hari ini, aku terus saja muntah, sepertinya bayi kita ingin di suatu ayahnya. "Ujar Raisa sudah duduk di depan Naina yang tengah membuka kotak makan di depannya.
Alex bingung harus bagaimana, di depannya ada Naina yang terlihat sudah berbeda ekspresi,ia takut bipolar Naina kembali kambuh, terlebih kata Sam, bipolar bisa saja membahayakan penderitanya ,ia bisa saja melukai dirinya sendiri.
Sementara Raisa ada benarnya,wanita hamil memang kadang menginginkan hal seperti itu.
"Alex, suapi aku... " Ujar Raisa sambil menarik Alex duduk di sampingnya,"Suapi aku Alex, anakmu ingin makan dari tangan ayahnya. "
Ucap Raisa terdengar manja.
Alex menatap Naina yang hanya menatap dingin padanya juga Raisa. Ia bingung dengan ekspresi Naina yang tak bisa ia baca.
"Alex..."Seru Raisa kembali ingin menangis membuat Alex menghela nafasnya lalu mau tidak mau tangannya terulur untuk menyuapi Raisa.
Naina mendesah kecewa,ia menurunkan tangannya dan meletakan sendoknya. Segera ia berdiri dan pergi dari hadapan dua orang di depannya dan kembali memasuki kamarnya.
Alex ingin mengejar istrinya itu tapi dengan cepat Raisa menahannya,"Aku masih lapar Alex. "Ucap Raisa manja,"Apa keadaan anakmu tidak lebih penting dari wanita itu,aku sedang hamil dan aku beberapa hari tak enak makan bahkan aku terus saja muntah. "
Alex mendesah, Raisa benar,meski dalam hatinya Naina tetap lebih penting,tapi dia tak bisa mengabaikan kondisi Raisa di mana ia tengah mengandung bayinya. Alex kembali duduk dan kembali menyuapi wanita itu.
Naina duduk di sudut ranjang,ia kembali menangis, rasanya begitu sesak di hatinya.Ada emosi dalam dirinya yang seakan ingin keluar dan menarik rambut wanita itu dan melemparnya keluar apartemennya. Bahkan rasanya Naina ingin melenyapkan wanita itu.
"Pergi....pergi..." Desis Naina menepis pikirannya yang begitu kejam.Dia menggeleng, dia tidak mau kalah dengan pikirannya,sudah beberapa hari dia sadar ada yang tidak beres dengan dirinya dan dia tidak mau kalah.
Segera ia bangkit dan menuju kamar mandi, berdiri di bawah Shower lalu menyalakannya,Naina berharap guyuran air dingin bisa menepis bayang-bayang pikiran kejamnya.
.
.
Alex meletakan sendok yang ia pakai untuk menyuapi Raisa, di liriknya wanita itu yang tengah mengelap bibirnya menggunakan tisu setelah minum. Alex menatap kotak berisi makanan milik istrinya yang tak sempat ia makan tadi.
Segera Alex berdiri untuk menghampiri Naina.
Sebelum suara Raisa kembali menghentikannya.
"Alex."
Alex menoleh, "Sekarang apa lagi?"
"Aku ingin makan mangga. "Ucapnya manja.
Raisa menggeleng,"Tapi anakmu mau ayahnya yang membelikannya. "
Alex mendesah, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Naina, ia tak peduli dengan keinginan Raisa kali ini, bayinya tak akan kenapa-kenapa jika ia tak membelikannya mangga bukan.
Tanpa peduli pada Raisa, Alex berlalu menuju kamarnya,ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Naina... "Panggil Alex saat tak mendapati istrinya di dalam kamar mereka, "Sayang... "Panggil Alex saat ia mendengar suara air dari kamar mandi.
"Sayang... "Panggilnya lagi, merasa tak ada jawaban Alex segera membuka pintunya dan betapa terkejutnya ia mendapati istrinya duduk meringkuk di bawah guyuran air Shower.
"Astaga sayang. "Seru Alex begitu khawatir.
Naina tersentak saat Alex menyentuhnya, "Pergi...pergi...aku tidak mau menjadi pembunuh...pergi..."
"Sayang, ini aku,tenang lah."
"Pergi... pergi..."Ucap Naina lirih.
Alex tak mengerti tapi ia tak ada cara lain selain menarik istrinya itu kedalam pelukannya.
"Tenanglah sayang aku di sini. " Ucap Alex sambil mengecup kepala istrinya.
Setelah di rasa Naina cukup tenang, Alex langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar,mendudukan Naina di Sofa lalu dengan hati-hati membantu istrinya itu berganti pakaian.
Naina masih terus melamun, pandangan matanya terlihat kosong.Sementara Alex keluar kamar lagi untuk mengambil makanan untuk istrinya itu.
"Alex... "Panggil Raisa.
"Ada apa? Aku akan meminta mondi datang kemari dan menjemputmu. "
"Mo...mondi? "
"Ya... kenapa? Apa kau berharap aku yang mengantarmu? Apa bayi itu ingin tidur di belai ayahnya lagi? Atau kau ingin aku memasukimu?"
Raisa tersenyum, "Alex... "Ucapnya sambil memeluk Alex dan membelai dadanya.
"Cukup Raisa, kau sudah lupa siapa dirimu."Ujar Alex melepas paksa pelukan Raisa.
Raisa menggeleng, "Aku tidak mau pergi, aku mau tinggal di sini bersamamu. "
Alex menghentikan langkahnya,sungguh sekarang yang terpenting adalah kondisi Naina, ia tak mau lagi memperdulikan Raisa,terserah pada apa yang akan wanita itu lakukan. Alex melanjutkan langkahnya menuju kamar sambil membawa makan dan minum untuk istrinya.
Masuk ke kamar lalu mengunci pintunya, Alex mendapati Naina yang sudah berbaring di ranjang.
"Sayang... " Panggil Alex, "Ayo makan dulu."Ujarnya.
Naina menatap Alex, air matanya kembali turun, sementara Alex kini melihat ada rasa ketakutan yang begitu besar di mata istrinya itu.Perlahan Alex membantu Naina agar ia duduk.
"Makanlah..."Ujar Alex.
"Hiks... "Naina kembali terisak, "Aku takut..."
Alex merasakan sesak mendengar kalimat yang keluar dari bibir istrinya.
"Jangan tinggalkan aku Alex."Lirih Naina, "Aku takut... "
"Aku... "
Alex tak tahan melihat penderitaan di mata indah milik istrinya itu, ia tak ingin butiran sebening kristal itu kembali keluar dari sumbernya. Segera Alex menarik tengkuk Naina dan memagut mesra bibir indah Naina.
"Aku mencintaimu aku tak akan pernah meninggalkanmu sayang. "Bisik Alex sebelum kembali ia melanjutkan ciumannya dan merebahkan tubuh istrinya di bawahnya.
...............myAmymy................
Menurut Readers Alex harus bagaimana coba?
Kasih saran dong buat Alex?
...Jangan lupa VOTE 🙏...
...🖤🖤...
...@myAmymy...