The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 57



Alex duduk di depan meja dokter yang baru saja melakukan beberapa pemeriksaan padanya, ia masih menunggu hasilnya dengan perasaan harap-harap cemas.


Hingga tak lama kemudian dokter wanita itu datang sambil membawa map hasil laporan pemeriksaan milik Alex.


"Bagaimana dok? "Tanya Alex tak sabar.


Dokter itu terlihat tenang, ia duduk dan membaca sebentar file di tangannya,lalu sesaat kemudian dia tersenyum tipis dan menyerahkan file itu pada Alex.


"Meski tak terlalu subur tapi hasil pemeriksaannya menunjukkan jika anda tidak mandul. "


"Maksudnya dok, tidak mandul tapi tidak terlalu subur?"


"Maksudnya anda bisa saja memiliki anak meski mungkin butuh waktu."


Jantung Alex langsung berdegup kencang, bahkan debarannya serasa bisa ia rasakan dari luar kulit dadanya.


"Jadi maksud anda saya bisa memiliki anak dok? "


"Tentu, asal anda menjaga pola hidup ke depan, jangan makan sembarangan, hindari rokok dan alkohol,jangan terlalu lelah dan stress. "


"Jadi apa itu artinya istri saya hamil anak saya kan dok? "Tanya Alex antusias.


Dokter itu nampak berfikir, "Maksud anda? "


"Tadi pagi pasien di kamar 205 itu istri saya, dia sedang hamil sekarang."


Dokter itu paham sekarang, "Ah saya paham, anda awalnya tak percaya karena vonis awal anda dulu yang mengatakan anda infertilitas ya?"


"Iya dok. "


Dokter itu tersenyum, "Begini,berdasarkan cerita anda tadi bahwa diagnosa awal karena kecelakaan hingga anda mengalami kemandulan."Dokter itu melihat hasil laporan di tangannya, "Berdasarkan pemeriksaan tadi, tidak saya temukan tanda-tanda bekas kecelakaan yang umum terjadi menyebabkan infertilitas, jadi maaf menurut saya hasil laporan anda sebelumnya salah. "


"A... apa? "


"Ya... tidak ada kelainan pada pemeriksaan dalam organ reproduksi anda."


Alex tersenyum, ia lega sekali, "Anda yakin dok? "


"Ya sangat yakin, hanya seperti yang saya katakan tadi, jika anda hanya kurang subur, artinya kualitas ****** anda kurang bagus, bisa karena faktor kelelahan dan gaya hidup yang salah. "


Ah rasanya beban berat di pundak Alex lepas sudah, ia tidak mandul.


"Terimakasih dokter,saya permisi."


"Sama-sama pak. "


..................


Ana tiba di apartemen Alex, dia langsung mencari tas yang kemarin ia bawa,Ana langsung menhela nafasnya lega saat melihat tasnya kemarin masih ada di Sofa.


Segera ia ambil dan melihat isinya, Ana tersenyum saat melihat apa yang ia cari masih ada di sana.


"Dengan ini aku bisa memulai kembali hidupku."


Ana sangat tahu apa yang terjadi dengan Naina di masalalu dan dia tak mau mengalami nasib yang sama dengan sahabatnya itu.


Meski ia tak berselingkuh seperti Ana, tapi kenyataan yang baru ia dengar tadi dari Alex cukup membuatnya khawatir,bagaimana jika Alex dan papa Bram tidak mempercayainya, dia tak mau di pisahkan dengan anaknya.


"Mama akan melindungimu nak." Ujar Ana sambil mengusap perutnya.


Lalu dengan tertatih Ana menuju kamarnya, ia mengemas beberapa pakaian miliknya, dia akan pergi, dia tak mau di paksa melakukan tes DNA, itu sama saja Alex meragukannya,dan memang Alex meragukannya tadi dan Ana tidak bisa menerima itu.


Setelah memasukan beberapa pakaiannya,Ana segera keluar dari apartemen dan menyetop taksi.


"Taksi... "


Ana bersyukur karena ada taksi yang langsung berhenti di depannya.


"Jalan pak."


..................


Sementara Alex kembali ke kamar inap Ana, ia sangat lega sekarang, istrinya hamil dan dia yakin jika itu adalah anaknya.


Ceklek...


"Sayang... " Alex mengerutkan keningnya saat tak melihat Ana di ranjangnya.


Dan Alex bertambah panik saat tak ia dapati istrinya itu di kamar mandi, "Sial kemana dia? "Alex langsung keluar dan mencari Ana.


"CCTV. " Gumamnya dan langsung mencari ruang kontrol rumah sakit itu.


.


.


"Ah dia benar-benar keluar rumah sakit sendiri." Ujar Alex saat melihat hasil rekaman cctv.


Dengan segera Alex menelpon anak buahnya untuk membantu mencari keberadaan istrinya.


"Apa apartemen?" Kaget Alex saat mendapat laporan jika Ana pulang ke apartemen, "Cukup awasi dia aku akan segera ke sana. "


Alex menutup panggilannya, "Kenapa dia begitu nekad."Lirihnya sebelum meninggalkan ruang kontrol itu.


Sementara Axel di rumah papa Bram,dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudah Axel katakan papa itu terlalu paranoid, Ana tak bersalah pa, tak ada bukti dia selingkuh."


"Jadi Ana benar hamil cucuku? "


"Axel yakin iya."


Bram menghela nafasnya lega, "Syukurlah, papa benar-benar khawatir Xel, di satu sisi papa takut respon Alex jika ia tahu kembali di selingkuhi, satu sisi bagaimanapun Ana adalah anak sahabat lama papa. "


..................


Alex tiba di apartemennya, dia langsung menatap sekeliling mencari keberadaan istrinya, "Sayang... "


Alex mendengar suara dari arah dapur, di lihatnya wanita berstatus istrinya tengah menata belanjaan di kulkas, namun itu bukan Ana melainkan Naina.


"Naina. "


"Eh...Alex."


Alex melihat ke ruang sebelah dapur sesaat, "Kau melihat Ana?"


"Ana? "Naina menggeleng, "Aku baru pulang belanja tapi tidak ada Ana di sini."


Alex mengepalkan tangannya, "Sial. "


Naina mendekat, "Alex aku khawatir papa Bram melakukan hal yang sama pada Ana. "


Alex menggeleng, "Tidak mungkin, Ana hamil anakku. "


"Kau yakin. "


"Ck... " Alex mengeluarkan laporan hasil pemeriksaannya, "Lihat aku tidak mandul, aku sudah memeriksakan diriku. Ah sial."Ujar Alex lalu pergi keluar apartemen ,"Kabari aku jika Ana kembali."Seru Alex sebelum keluar.


Naina mengangguk, ada rasa lega dan iri secara bersamaan ia rasakan, lega karena Ana tak seperti dirinya dan iri karena Ana begitu beruntung bisa mengandung anak dari laki-laki yang di cintainya.


Sementara Alex sambil mengendarai mobilnya mencoba menghubungi anak buahnya.


"Cari terus dan lacak taxi yang tadi ku kirim nomornya. " Ujar Alex mulai panik.


"Astaga Ana apa yang kamu pikirkan sayang."


"Papa... " Geram Alex, ia lalu memutar mobilnya menuju kediaman ayahnya.


Ia khawatir jika perginya Ana ada hubungannya dengan ayahnya. Alex tak akan pernah mau menerima jika Ayahnya ikut campur lagi masalah rumah tangganya.


Andai dulu ia mengetahui perselingkuhan Naina dan Ibrahim, tentu rasa cintanya dulu tak akan mampu menyakiti Naina, tapi bisa ia pastikan Ibrahim mati di tangannya.


Sekitar 15 menit kemudian Alex tiba di kediaman ayahnya.Segera ia keluar mobilnya dan masuk ke rumah besar itu.


"Di mana papa?"Tanya Alex pada penjaga rumahnya.


"Di ruang kerjanya den. "


Segera Alex menuju ruang kerja papanya.


Ceklek....


Tepat di sana papa Bram dan Axel tengah berbincang,Alex langsung menghampiri papanya.


Brakk....


Alex menggebrak meja kerja ayahnya, "Pa... katakan di mana Ana."


Bram dan Axel saling pandang,"Apa maksudmu kak? "


Alex beralih pada Axel, "Istriku pergi, ini pasti karena papa menuduhnya selingkuh iya kan?"


Bram menggeleng, "Bahkan papa belum bertemu dengannya."


"Jangan bohong pa. "


Axel menggeleng,"Tidak kak, bahkan papa baru mau mencari bukti kalau Ana tidak selingkuh."


Alex langsung menatap Axel, "Kau bantu cari keberadaan Ana sekarang."


"Iya kak. "


Alex mengepalkan tangannya, memikirkan kenekadan istrinya,'Ya Tuhan Ana Kemana kamu, tidak ingatkah kamu akan kondisi kandunganmu sayang. "


"Axel cari dengan data diri Ana yang waktu itu. "Ujar papa Bram menarik perhatian Alex.


"Data diri? Maksud papa? "


...............myAmymy............. ...


Ada yang kesel sama papa Bram?Terus Kira-kira Ana Kemana ya? Dan bakal ketemunya kapan?


Ayo Vote dong, dan ramaikan komennya ya.


...🖤🖤...


...@myAmymy...