
Alex masih menatap dua orang di depannya, ia mendengar semuanya, apa maksudnya jika dia tak bisa punya anak.
Menatap papa Bram, "Jelaskan pa? Apa maksudnya?"
Lalu beralih pada Naina, "Dan kau,jika benar aku tak bisa punya anak, lalu anak siapa yang kau kandung waktu itu?"
Naina menatap papa Bram sesaat, lalu menunduk.
Naina menatap rumah besar milik ayah mertuanya, senyum tak lepas dari bibirnya, di tangannya kini ada amplop berisi laporan rumah sakit yang menyatakan jika dia tengah mengandung keturunan Bramono.
Sungguh dengan kehamilannya itu,Naina berharap ayah mertuanya itu mau menerimanya menjadi menantunya.
"Silahkan masuk nona. "Ujar salah seorang asisten rumah tangga di kediaman ayah mertuanya itu.
"Terima kasih bi. "
"Silahkan duduk, biar saya sampaikan pada tuan besar."
Naina tersenyum lalu duduk di Sofa kulit berwarna coklat di ruang tamu bergaya eropa klasik itu.
"Maaf nona, tuan besar ada di ruang kerjanya, silahkan ikut saya. "
Naina mengangguk lalu mengikuti ART itu menuju ruang kerja papa Bram.
Tok.. tok...
Ceklek...
"Permisi tuan, nona Naina sudah datang."Setelah mengatakan itu, si ART pamit undur diri meninggalkan mertua dan menantu itu.
"Papa... "Ujar Naina pada pria paruh baya yang tengah berdiri menatap keluar jendela.
Bram berbalik, dengan tangan yang ia gendong di belakang, pria itu kembali ke kursi kerjanya dan duduk di sana.
Naina tersenyum lalu mendekat, dan meletakan amplop putih dengan logo rumah sakit ke depan papa Bram.
Bram menaikkan satu alisnya, "Apa ini? "
Naina tersenyum, "Itu hasil dari rumah sakit, Naina hamil pa, anak Alex cucu papa. "
"Anak Alex? "
Naina mengangguk antusias, "Ya pa... sekarang Naina harap papa mau menerima pernikahan kami. "
"Apa kau tahu alasanku tak menerimamu menjadi menantuku? Tidak lebih tepatnya menjadi istri Alex? "
"Maksud papa? "
Bram mengambil sesuatu dari laci kerjanya lalu meletakannya di atas meja di depan Naina.
"Kau lihat itu, itu Foto putra pertamaku."
Naina langsung menatap tak percaya pada papa Bram seraya mengambil selembar foto yang menampilkan papa Bram tengah merangkul seseorang yang jelas ia kenal. Seketika tangan Naina gemetar.
"Itu alasanku tak mau menerimamu menjadi istri Alex, bukan menantuku. "
"Tapi pa, aku dan Baim sudah lama putus hubungan, jauh sebelum aku bertemu Alex."
"Kau tahu apa profesiku Naina? "
Naina menitikan air matanya, siapa yang tak tahu Brama Bramono, mantan anggota FBI yang di kenal memiliki otak cerdas dan banyak tangan kanan,pria itu biasa di minta tolong untuk menangani kasus yang kadang tak bisa di pecahkan dengan cepat oleh polisi.
"Dan sekarang, kamu datang membawa fakta baru jika kamu tengah hamil? "
Lagi, papa Bram langsung mengambil dokumen lain dari lemari kerjanya, "Kau lihat itu? "
Ragu-ragu Naina memgambil dokumen itu dan membukanya lalu membacanya, mata Naina langsung membulat, bahkan ia menjatuhkan dokumen di tangannya, menatap tak percaya pada papa Bram,"Infertil? "Gumamnya.
"Jawab aku? Apa maksud pembicaraan kalian? "Tuntut Alex lagi.
Alex mendekat pada Naina lalu mencengkeram bahu Naina, "Katakan Naina?Katakan?"
Naina melepaskan cengkraman tangan Alex lalu menghapus airmatany, "Papa mau aku pergi dari Alex kan? Tak masalah, tapi aku mohon katakan di mana putraku? "
Alex beralih pada papa Bram yang masih diam, "Papa katakan yang sebenarnya pa!"
Bram duduk di meja kerjanya, di depannya berdiri putra pertamanya yang bukan dari istrinya ,Vivian.
"Pa... aku mohon, selama ini aku tak pernah meminta apapun darimu, aku hanya menginginkan dia pa, tapi putra papa yang lain merebutnya dariku. "
"Apa yang harus papa lakukan Ibrahim?"
"Tolak pernikahan Alex dan Naina. "
"Tapi mereka saling mencintai,kamu dan Naina sudah putuskan?"
Ibrahim menggeleng, "Tidak, kami masih saling mencintai."
"Jika wanita itu mencintaimu, wanita itu tidak mungkin menghianatimu dengan menerima cinta Alex,Ibrahim mengalahlah,pikirkan apa yang akan Alex lakukan jika ia mengetahui ini, bukan hanya kau yang bisa di bunuhnya tapi juga Naina, kau ingat bagaimana Alex dulu hampir membunuh papa saat tahu kalau kau juga putra papa ."
Ibrahim menggeleng, "Kalau papa tak mau membantuku, maka akan aku lakukan hal yang sama, kita lihat bisa apa Alex jika dia nanti tahu kalau ia membesarkan anak orang lain, aku tahu pa, Alex tak akan bisa punya anak kan, akan aku buat Naina mengandung anakku. "
"Ibrahim, jaga batasanmu. "
"Aku tak peduli pa, selama ini aku yang mengalah, aku terima tinggal di panti asuhan sedangkan anak papa yang lain hidup dalam kemewahan, aku hanya memiliki cinta dari Naina, dan aku tak mau mengalah lagi pada Alex ataupun Axel. "
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian diam? Apa maksud pembicaraan kalian jika aku tak bisa punya anak?"
"Alex... "Ujar papa Bram pada akhirnya, "Saat kau kecelakaan saat usia 12 tahun, dokter mengatakan jika kau infertil. "
Deg....
Alex langsung terhuyung ke belakang,ia terkekeh kecil, "Kalian bercanda. "Ujarnya lalu menatap Naina, "Naina kau...kau hamil waktu itu, bagaimana mungkin aku tak bisa punya anak? Laporan itu pasti salah!"
Naina menunduk, lalu Alex beralih pada papa Bram,"Dan apa maksud Naina tadi, tes DNA?"
Alex beralih pada Naina, kembali mencengkeram bahu Naina,"Apa anak itu benar bukan anakku? Apa itu alasannya kamu pergi dariku? "
"Kau lihat, itu hasil tes DNA bayi dalam kandunganmu, anak itu bukan anak Alex tapi anak Ibrahim. "Tunjuk Bram pada dokumen yang kini beralih ke tangan Naina.
Naina menitikan air matanya, ia tak menyangka jika apa yang ia lakukan dengan Ibrahim sebelum pernikahannya dengan Alex membuahkan hasil.
"Jika Alex tahu hal ini, dia bisa membunuh kalian."
Papa Bram mendesah, "Selama ini aku menentang hubungan kalian bukan karena aku tak menyukaimu Naina, tapi aku mempertimbangkan hubungan di antara kedua anakku, Alex dan Ibrahim, sekarang demi kebaikan bayimu, kau..." Papa Bram mendesah lagi, "Pergilah dari kehidupan Alex. "
"Tapi Alex akan mencariku nanti."
"Itu urusanku, akan aku palsukan kematianmu. "
"Maafkan aku Alex...."
"Katakan anak siapa?"Alex tertawa, "Ibrahim? "
Naina langsung menatap Alex sesaat sebelum ia kembali menunduk, "Maaf. "
Alex mundur ke belakang, ia tertawa, "Kau menghianatiku? Dengan anak dari wanita itu?"
Alex menggeleng, "Apa benar aku tak bisa punya anak? Aku mandul? "
Alex tak percaya itu, jika dia mandul, dan benar Naina hamil anak Ibrahim, lalu Ana? Dengan siapa dia berkhianat?
Alex berbalik, ia lari meninggalkan Naina dan papa Bram, ia tak mau hal yang sama terjadi, ia harus tanya pada Ana dengan siapa dia berkhianat?
.............myAmymy.............
Hmmm sudah mulai terungkap nih? lalu apakah cerita ini akan segera ending?
...🖤🖤...
...@myAmymy...